Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku pernah hampir muntah gara-gara sashimi. Dan orang yang menertawakanku waktu itu, sekarang justru jadi alasanku memesannya lagi.
Aroma khas kuliner Negeri Samurai ini membangkitkan ingatanku pada pengalaman pertama mengunyah daging salmon mentah. Seingatku, bulu kudukku meremang ketika potongan daging dingin itu menggelayuti seluruh permukaan lidahku. Tidak tercium aroma amis, hanya saja teksturnya yang kenyal dan dingin seakan siap memaksa isi lambungku keluar dari sarangnya. Setelah kejadian itu, aku kapok ditraktir makan ikan mentah lagi.
Hanya satu orang yang bisa tertawa sebegitu puasnya melihat wajahku memerah. Ara—dialah pelaku utama sekaligus alasanku datang kembali ke tempat ini.
Tawanya meledak saat mengingat peristiwa memalukan itu. Ia mengguncangkan bahuku berkali-kali, tidak lupa disertai pukulan yang rasanya hampir bisa mengeluarkan jantung. Ia selalu datang lebih awal tanpa sepengetahuanku, dengan harapan bisa membuatku terkejut dengan kehadirannya.
Sayang sekali, usahanya selalu gagal. Keberadaannya terlalu mudah untuk terdeteksi. Meskipun dikepung berbagai aroma masakan, wangi Petite Chérie favoritnya selalu terasa paling jelas, bercampur samar dengan keringatnya.
“Lo ngajak gue makan beginian setiap kali ketemuan. Mending makan di warteg Karisma Bu Haji aja, kenyang dan matang dagingnya,” ucapku setengah meringis, menahan sakit akibat pukulannya.
“Lidah lo mesti terbiasa nyicipin beginian, biar nggak kaget kalau ke Jepang nanti,” balasnya sambil tersenyum lebar, membuat kedua lesung pipinya terlihat lebih jelas.
Sepertinya hanya itu yang tidak pernah gagal mencuri perhatianku sejak dulu.
Tempat ini masih sama seperti lima belas tahun yang lalu, ketika lembaran persahabatanku dengan Ara mulai terajut. Tidak ada yang bisa menandingi kenangan yang tersimpan di dalamnya. Tempat ini sudah menjadi markas terbaik kami.
Sepiring sashimi ini kupesan khusus untukmu, Ara. Aku memberanikan diri mengunyahnya kembali, berharap bisa mengobati rindu dalam setiap irisannya.
Kali ini kejutanmu berhasil.
Aku datang tepat waktu, bahkan lebih awal dari biasanya. Tapi tetap saja kamu lebih dulu “hadir” di sini—lewat wangi yang rasanya samar menghampiriku, lewat tawa yang hanya tersisa di kepalaku, lewat lesung pipi yang kini cuma bisa kubayangkan.
Aku mengunyah potongan salmon itu perlahan. Dingin. Kenyal. Persis seperti dulu.
Bedanya, sekarang tidak ada lagi pukulanmu di bahuku.
Tidak ada lagi tawamu yang meledak tiba-tiba.
Hanya ada kursi kosong di depanku dan aku yang akhirnya belajar menyukai sashimi, meskipun terlambat lima belas tahun setelah kamu pergi.