Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Seiris Rindu di Sepiring Sashimi
0
Suka
78
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku pernah hampir muntah gara-gara sashimi. Dan orang yang menertawakanku waktu itu, sekarang justru jadi alasanku memesannya lagi.

Aroma khas kuliner Negeri Samurai ini membangkitkan ingatanku pada pengalaman pertama mengunyah daging salmon mentah. Seingatku, bulu kudukku meremang ketika potongan daging dingin itu menggelayuti seluruh permukaan lidahku. Tidak tercium aroma amis, hanya saja teksturnya yang kenyal dan dingin seakan siap memaksa isi lambungku keluar dari sarangnya. Setelah kejadian itu, aku kapok ditraktir makan ikan mentah lagi.

Hanya satu orang yang bisa tertawa sebegitu puasnya melihat wajahku memerah. Ara—dialah pelaku utama sekaligus alasanku datang kembali ke tempat ini.

Tawanya meledak saat mengingat peristiwa memalukan itu. Ia mengguncangkan bahuku berkali-kali, tidak lupa disertai pukulan yang rasanya hampir bisa mengeluarkan jantung. Ia selalu datang lebih awal tanpa sepengetahuanku, dengan harapan bisa membuatku terkejut dengan kehadirannya.

Sayang sekali, usahanya selalu gagal. Keberadaannya terlalu mudah untuk terdeteksi. Meskipun dikepung berbagai aroma masakan, wangi Petite Chérie favoritnya selalu terasa paling jelas, bercampur samar dengan keringatnya.

“Lo ngajak gue makan beginian setiap kali ketemuan. Mending makan di warteg Karisma Bu Haji aja, kenyang dan matang dagingnya,” ucapku setengah meringis, menahan sakit akibat pukulannya.

“Lidah lo mesti terbiasa nyicipin beginian, biar nggak kaget kalau ke Jepang nanti,” balasnya sambil tersenyum lebar, membuat kedua lesung pipinya terlihat lebih jelas.

Sepertinya hanya itu yang tidak pernah gagal mencuri perhatianku sejak dulu.

Tempat ini masih sama seperti lima belas tahun yang lalu, ketika lembaran persahabatanku dengan Ara mulai terajut. Tidak ada yang bisa menandingi kenangan yang tersimpan di dalamnya. Tempat ini sudah menjadi markas terbaik kami.

Sepiring sashimi ini kupesan khusus untukmu, Ara. Aku memberanikan diri mengunyahnya kembali, berharap bisa mengobati rindu dalam setiap irisannya.

Kali ini kejutanmu berhasil.

Aku datang tepat waktu, bahkan lebih awal dari biasanya. Tapi tetap saja kamu lebih dulu “hadir” di sini—lewat wangi yang rasanya samar menghampiriku, lewat tawa yang hanya tersisa di kepalaku, lewat lesung pipi yang kini cuma bisa kubayangkan.

Aku mengunyah potongan salmon itu perlahan. Dingin. Kenyal. Persis seperti dulu.

Bedanya, sekarang tidak ada lagi pukulanmu di bahuku.

Tidak ada lagi tawamu yang meledak tiba-tiba.

Hanya ada kursi kosong di depanku dan aku yang akhirnya belajar menyukai sashimi, meskipun terlambat lima belas tahun setelah kamu pergi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Pura - pura Lupa
Lutfia fadillah melia putri
Novel
Berkah Tersembunyi
Siti Fatimah
Novel
Rumah di Balik Ring Light
INeeTha
Flash
Seiris Rindu di Sepiring Sashimi
Mashan
Novel
Bronze
Buku Harian Alana
Nur Chayati
Novel
MEMORI BUNGA DAISY
trianpn_
Skrip Film
Absurd, Abstrak, dan Aling (Script)
KOJI
Skrip Film
CONSCIENCE
Ni Luh Putu Anggreni
Flash
Aku Tak Ingin Mati Seperti Ini
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Naila
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
BUKU HARIAN MINTARSIH
Ac Erri Yurita S
Novel
Gold
The Ghost In My School
Mizan Publishing
Novel
Liontin Karma
Aeireen Luma
Flash
Bronze
Tungku Besar
Ahmad Muhaimin
Skrip Film
Minoritas
Andita Rizkyna N
Rekomendasi
Flash
Seiris Rindu di Sepiring Sashimi
Mashan
Flash
RANA
Mashan
Flash
Debat Semangkuk Bubur
Mashan