Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Cangkir teh itu masih mengepulkan asap, seakan meminta mereka untuk menikmati momen. Widya menatap ke depan, pada pot-pot bunga milik Pita. Beberapa di antaranya menampilkan warna indahnya. Sebagian masih kuncup, tidak memaksa waktu untuk berbunga sekarang. Widya menaikkan sudut bibirnya, membentuk senyuman.
“Aku bisa betah di sini seharian, Bu. Hawanya adem banget,” ujar Widya sambil mengambil cookies yang ia bawa dari Jakarta.
“Kalau gitu kamu bisa ambil cuti dulu biar bisa lama di sini. Kamu juga bisa sekalian bantuin ibu di kebun,” jawab Pita.
“Mau sih, Bu. Tapi aku lagi ada proyek. Ini kebetulan aja tempatnya deket sama rumah Ibu, jadi aku bisa mampir," jawab Widya, setelah menghabiskan cookies itu.
Pita menghembuskan napas. “Kamu memang suka banget kerja sampai lupa pacaran.”
Widya terkekeh. “Zamannya kan udah beda, Bu. Kita nggak dituntut lagi buat cepet nikah dan berkeluarga. Lagian aku juga baru putus sama Bayu. Aku masih mau sendiri dulu. Healing.”
Pita tersenyum simpul. “Anak zaman sekarang, ada aja istilahnya. Tapi ya, Ibu ngerti. Ingat ya, jangan kelamaan healing nya. Kamu juga harus mulai mikirin hari tuamu gimana. Paling nggak, ada yang melindungi kamu. Kamu kan, nggak mungkin selamanya sama Ibu.”
Widya menoleh pada Pita, menemukan sedikit kekhawatiran di mata cokelat itu. Widya tahu hal itu tapi dia belum mau menjadikannya sebagai prioritas.
“Tapi ibu nggak papa, kan? Mungkin aku juga nggak mau nikah. Aku takut hubunganku gagal lagi dan ujung-ujungnya cerai. Soal hari tua, aku yakin ada jalannya. Bukannya di sini banyak panti wreda? Aku bisa nabung dari sekarang.”
Ada jeda lama. Pita tahu betul kebimbangan anaknya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak pada anak semata wayangnya itu.
“Wid, Ibu tahu rasanya dipaksa nikah itu gimana. Jadi Ibu percaya sama kamu. Kamu pasti memilih yang terbaik. Kalau nggak nikah buat kamu bahagia, ya jalanin aja. Kamu punya kehendak bebas. Pakailah itu dan bertanggung jawablah sama setiap pilihanmu.”
Widya tersenyum simpul. Senyum yang lahir dari hati. “Makasih ya, Bu. Ibu selalu ngertiin aku. Aku pasti pilih yang sesuai kebutuhanku juga. Aku bersyukur punya orangtua kayak Ibu. “
Widya merentangkan tangannya dan memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. Pita menyambutnya, sesekali mengelus punggung Widya dengan lembut. Hal yang jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.
“Ibu juga bangga punya kamu, Wid.”
**
Hari berjalan lambat di kota kecil ini. Sepertinya ia meminta para penghuninya buat hanya berada di masa sekarang. Tanpa terburu-buru. Widya jarang membuka gawainya tapi sore ini deringnya menuntut perhatian. Wanita itu mengambil gawai dan memeriksa notifikasi. Pesan promosi dari ojek online, skip. Beberapa email yang kebanyakan iklan, skip. Dan terakhir, di bawah pesan grup kantornya itu, tertera nama Bayu. Widya tersentak.
“Ngapain kamu hubungin aku lagi, Bay?” Widya membuka pesannya dengan hati tak menentu.
From: Bayu
Wid, apa kabarmu? Bisa kita ketemu besok malam di cafe Senja? Hubungan kita, kurasa masih bisa diperbaiki.
Ps: I’m still missing us, to be honest.
Widya menghembuskan napas. Ia meletakkan lagi gawainya di nakas sebelum menatap keluar. Pada daun-daun mangga yang basah terkena hujan. Widya tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, untuk sekarang, hatinya memilih untuk setia dengan pilihannya.