Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sejak memutuskan untuk pindah ke Jakarta, gaya hidup James yang sungguh liar sudah masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Meski terkendala bahasa, bersekolah di British School Jakarta membuat James tetap merasa berada di zona aman. Gelembung eksklusif di mana orang-orang di sekelilingnya masih fasih bertukar kata dalam bahasa Inggris. Dan karena privilage ini, James jadi tidak kesulitan untuk punya banyak teman dari kalangan atas yang lebih seringnya punya gaya hidup dunia malam yang bebas.
Di Penthouse mewah milik ayah James, James nyaris tidak pernah berada disana. Setiap kali pulang, James lebih sering mendapati tempat tinggalnya itu kosong dan dingin. Terlalu besar untuk hanya diisi oleh diri James seorang.
Untuk itu juga, hidup James lebih banyak terbuang di bawah lampu-lampu neon klub ternama di Jakarta. Menghabiskan sebagian besar gaya hidup malamnya dengan open bottle hingga kesadaran James mencapai titik oleng, berganti-ganti teman kencan layaknya mengganti pakaian, dan berbagai kenakalan remaja yang nyaris tidak mampu ditolerir lagi oleh ayah James.
Sang ayah nyaris angkat tangan, cukup kewalahan menghadapi betapa liarnya putra semata wayangnya ini sampai pada titik di mana ayah James mulai mempertimbangkan untuk memulangkan James kembali saja ke London.
Namun, segalanya berubah semudah menjentikkan jari semenjak Kiara hadir dalam hidup James selama beberapa bulan terakhir.
Dan sejak saat itu juga, semenjak dirinya resmi mengproklamirkan ‘pertemanan’nya dengan Kiara, hidup James pun perlahan berubah, ke arah yang lebih baik tentunya.
Setiap malam minggu, James akan sibuk menghubungi Kiara. Ia akan memaksa gadis itu membantunya mengerjakan tugas untuk hari Senin—sebuah alibi yang sudah James persiapkan demi bisa bertemu lagi dengan Kiara meski mereka sedang libur sekolah.
Bagi James, bertemu Kiara dari Senin sampai Jumat saja tidak cukup. James ingin bisa bertemu Kiara setiap hari. Walaupun untuk sekadar mendengar celotehan Kiara, menikmati omelan panjang lebar Kiara kalau James sudah bercanda melantur, hingga bergunjing tentang segala gosip dan kejadian yang sedang memanas di sekolah mereka yang lebih seringnya akan berakhir dengan berbagi derai tawa sampai mengocok perut.
Berkat intensitas kunjungan James ke rumah Kiara, cowok itu jadi hafal mati kebiasaan Kiara setiap malam Minggu. Gadis itu sangat menggilai bakso—makanan khas Indonesia yang perlahan mulai menempati posisi favorit di lidah Eropa James juga.
Saking seringnya James mengekor Kiara ke warung bakso langganan Kiara, sosok James yang bertubuh sangat tinggi dengan fitur wajah Kaukasia yang begitu mencolok selalu sukses menjadi magnet atensi.
Para pelanggan yang hendak membeli bakso selalu menganga menatap sosok sempurna James bahkan sebelum mereka sempat menyebut pesanan mereka pada si abang tukang bakso. Yang lebih gilanya lagi, James pernah disambut jeritan para cewek-cewek yang sudah menantikan kehadiran James didepan warung bakso sambil berdesak-desakan, seolah cowok itu salah satu personil One Direction.
"Mbak Kiara, makasih banget, ya. Berkat Mbak Kiara bawa Mas Bule ganteng ini, warung bakso saya kalau malam Minggu ramenya bukan main. Sudah kayak orang mau rebutan nonton konser!" seru abang tukang bakso dengan penuh khidmat.
Belum lagi kehebohan tetangga Kiara yang tak kalah ekstrem. Setiap James datang, remaja komplek rumah Kiara bakal langsung berbondong-bondong cari perhatian, dengan mondar-mandir di depan pagar rumah Kiara. Bahkan, beberapa tetangga seumuran Kiara tak segan-segan berteriak memanggil James dari luar pagar dengan nada melengking gila-gilaan.
"KAKAK JAMES! KAKAK JAMES! KELUAR DONG, KAKAK JAMES GANTENG!"
Kiara hanya bisa mengurut dada. Masalahnya, kini seluruh lingkungan jadi mengira James adalah kekasih Kiara. Meski sudah berulang kali Kiara menegaskan bahwa James hanya teman sekolahnya, tapi animo orang-orang dirumah Kiara jelas sama sekali tidak percaya.
"Can you just take a day break from visiting my house on Saturday night? Teman kamu itu kan banyak sekali ya, James. Bukan cuma aku saja. Kenapa kamu tidak nongkrong saja sih dengan teman-teman kamu yang lain di tempat yang lebih proper, dibanding harus ke sini hanya untuk menemaniku beli bakso?" protes Kiara suatu malam.
James tidak bisa langsung membalas omelan itu karena wajahnya sedang tertutup lembaran masker Korea hasil buruan Mbah-nya Kiara minggu lalu di Mall dekat rumah.
Ritual mereka ini seperti sudah jadi agenda mingguan yang tidak akan mau James lewatkan satu pekan pun. James mungkin membawa buku pelajaran dari rumah, tapi begitu sampai di rumah Kiara, buku-buku James hanya berakhir teronggok begitu saja di pojok sofa.
Karena seringnya, mereka akan berakhir menghabiskan malam minggu dengan movie marathon, bermain game online, memakai masker wajah seperti sekarang, atau James yang dengan telaten mengecat kuku kaki Kiara, membiarkan kaki jenjang cewek itu bertumpu diatas paha James sementara Kiara dengan santai membaca majalah atau sesekali melempar guyonan ke arah James.
Kiara baru saja menaruh irisan timun di salah satu mata James, ketika tangan James dengan jahil menyambar irisan itu dan langsung melahapnya tanpa dosa.
Kiara melotot, memukul tangan James, dengan kepalanya bersandar nyaman di atas paha Kiara yang bersila. Sedangkan James di pangkuan Kiara hanya bisa nyengir lebar.
Ponsel James bergetar lagi untuk kesekian kalinya malam ini. Sebuah panggilan masuk dari salah satu teman kelasnya yang, untuk kesekian kalinya juga, James abaikan.
"Kenapa tidak kamu angkat saja, sih?" tanya Kiara, dengan kepala menunduk menatap ulang irisan timun di mata James.
James mengembuskan napas panjang, "Paling-paling mau mengajakku ke Senopati."
"Memangnya kamu tidak mau? Kata Brian, kamu sudah lama sekali tidak nongkrong bareng mereka."
James terdiam sejenak. Ada gejolak hebat dalam diri James untuk mengutarakan isi hatinya. Bahwa James jauh lebih menikmati waktu dipakaikan masker di pangkuan Kiara ketimbang berada di tengah dentuman musik klub malam paling mewah se-antero Jakarta.
Namun James sadar, mengutarakan perasaannya saat ini pada Kiara, sama saja seperti memberikan rudal tepat ke telapak tangan gadis itu. Pengakuan James hanya akan menghancurkan mereka berdua mentah-mentah.
Akhirnya, dengan nada nyeleneh, James menyahut enteng, "Kapan lagi aku bisa dapat treatment gratis seperti ini kalau aku nongkrong dengan mereka?”
Wajah Kiara cemberut, ekspresi yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh mata abu-abu James yang terhalang timun. Untuk melampiaskan kekesalannya secara nyata, Kiara mencubit hidung mancung James rapat-rapat hingga cowok itu jadi megap-megap karena kesulitan bernapas.
Sebagai balasan, tangan panjang James menjangkau liar menggelitik pinggang Kiara. Pertahanan Kiara runtuh seketika, digantikan oleh tawa dan jeritan menahan geli.
Mereka pun berakhir terbahak bersama, saling menjahili di tengah ruang tamu rumah Kiara malam itu.