Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku percaya sekali ketika Tuhan mempertemukanku denganmu, maka kamu adalah perhentian untuk mencari yang lain. Aku tidak perlu lagi menunduk malu ketika orang-orang terus menyandingkan umur dengan pendamping hidup. Tuduhan miring yang membuatku gusar selama ini dapat kutepis dengan percaya diri. Aku tidak lagi meragukan ketertarikanku dengan makhluk indah bernama wanita karena ternyata hatiku hanya menunggu digetarkan olehmu.
Aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahmu. Meski kau bilang ayahmu bersumbu pendek, tapi tentu niatku tak akan surut karena itu. Aku ingin lihat, dibanding ayahku, siapa yang sumbunya lebih pendek. Seperti kataku, orang tua tidak benar-benar membenci anaknya atau membabi buta tidak menyukai teman anaknya. Kita cukup dewasa untuk bisa dipercaya dan ayahmu pasti tidak mencucuk hidungmu seperti kerbau yang dipelihara.
Aku tidak membawa martabak. Sepertinya sudah tidak cocok di zaman ini. Aku lebih memilih datang dengan itikad baik, rapi yang tersisir rapi seperti tampang anak baik-baik. Kemeja pastel dengan celana berwarna krem bagiku lebih mengundang perhatian daripada martabak yang sudah dingin sampai ke depan rumahmu. Aku berpenampilan serapi mungkin dan muka sesegar mungkin.
Dari pada martabak, aku lebih memilih mengobrol banyak dengan mamamu. Cukup untuk tahu kalau mamamu lebih senang menikmati mi ayam dari pasta di restoran. Dia suka mengobrol dan aku cukup bisa mengimbanginginya. Mamamu memintaku untuk sering berkunjung.
Aku juga akhirnya tahu bahwa ayahmu suka bikin proyek ala ala di belakang rumah. Ayahmu sempat menertawakanku karena sok-sokan ingin membantunya dengan pakaian necisku. Meski saat tiba di daun telinga lebih terasa sindiran. Aku meyakininya sebagai ujian, dan aku meladeninya. Aku melepas kemeja berwarna pastel yang kugunakan, menyisakan oblong yang memamerkan dada dan bisep yang terbentuk sempurna. Simpul di bibirnya tampak memuji meski ia gengsi. Aku berinisiatif meminta palu, memalu paku sampai menancap sempurna. Sesekali kupuji cara ayahmu menikmati waktu luang. Kalian tidak perlu payah mencari tukang untuk memperbaiki meja dan kursi atau perabotan yang rusak, ada tukang mebel rumahan yang siap sedia, dan akan tambah satu lagi kalau ia merestuiku menjadi bagian dari rumah ini, ia memujiku.
Berkunjung ke rumahmu membuatku selalu bersemangat, rumah besar ini berangsur-angsur hangat. Ayahmu terasa tidak seperti yang kau ceritakan. Ia begitu cair. Apakah aku benar-benar sudah diterima? Aku ragu seiring dengan kehadiran adikmu.
Sepertinya kau luput bercerita kalau kau memiliki adik yang tak kalah cantiknya denganmu. Entah kenapa sekalipun kau lebih lama ikut nimbrung bersamaku dan ayahmu, aku lebih tertarik untuk mengikuti tubuh adikmu yang datang sekadar mengantarkan kopi panas dan pisang goreng, atau makan siang kalau aku lupa waktu dan terlambat pulang.
Aku tersenyum padanya. Dia membalas jua. Ada cinta yang tumbuh walau sekadar berbalas senyum dan bertukar tatap. Mata berbicara lebih jelas dari kata-kata. Jiwa kami diam-diam bertemu. Di rumahmu aku benar-benar berhenti mencari sosok lain, meski sekarang aku ragu akankah jodohku benar-benar sedang menunggu di rumah ini. Aku menabur benih sekali saja, tetapi tumbuh dan bersemi pada dua hati yang berbeda. Bukan berarti aku berbangga, justru semakin gulana. Aku mencintaimu, tetapi diam-diam merindukan adikmu. Jika aku membiarkanmu layu, akankah yang lain tetap memilih untuk tumbuh? Akankah ayah dan ibumu masih menjamuku?