Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bapak apa-apaan, sih? Anak Bapak itu kita! Dia itu bukan siapa-siapa." Suara Mas Wisnu meninggi.
"Mas Wisnu salah. Pak Rama sudah jadi bagian dari keluarga ini sejak kalian mengabaikan Ibu sama Bapak. Saat Ibu sakit sampai ke liang lahat, apakah kalian menunjukkan apa yang semestinya dilakukan oleh keluarga? Tidak. Waktu Bapak minta bawa dan bantu jagain ibu di rumah kalian, apa kalian mau? Tidak juga." Suara Lia bergetar. Kata-kata yang ia atur di dalam otaknya tumpah ruah seiring keberanian yang dengan susah payah ia kumpulkan.
"Jadi, kau setuju dengan keputusan itu?" tanya Mbak Jeje sinis.
Aku mengangguk.
"Oh, jadi, maksud Bapak, kita bukan lagi bagian dari keluarganya, begitu?" cibir Mas Wisnu.
"Nyatanya memang begitu, Mas. Pak Rama lebih peduli sama Bapak dan Ibu dibandingkan Mas Wisnu dan Mbak Jeje. Pak Rama yang rela cari pinjaman waktu ibuĀ drop. Beliau siap datang kapan aja kalau dibutuhkan. Rumah ini benar-benar hangat lagi sejak Pak Rama mau datang ke sini." Lia terisak.
"Sinting. Rupanya guru sialan itu sudah berhasil mencuci otak kalian."
"Mas!" Lia meningikan suara meskipun terdengar agak sumbang. "Nyatanya Pak Rama adalah orang paling waras yang kami temui. Ibu, Bapak, dan aku lebih percaya sama Pak Rama dibanding kalian yang datang setelah Ibu dan Bapak tiada. Itu pun karena harta."