Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Hadiah dari Bumi
5
Suka
6,115
Dibaca

Sudah tidak terhitung berapa kali Rara mengunjungi kakaknya. Dia tidak pernah absen meskipun harus menempuh perjalanan berjam-jam. Kali ini Rara bersama Ibunya. Mereka membersihkan pusara itu; tanah yang berwarna merah dengan bunga kering di atasnya. Rara dan Ibunya mengganti bunga kering itu dengan bunga segar sembari mengatakan, “Kak, kami datang lagi.”

Berkali-kali Rara menaburkan bunga, berkali-kali pula Rara bertanya dengan suara lirih, “Apa yang akan diterima Kakak? Apakah bunga ini akan berubah menjadi sebuah hadiah?”

***

Ting tong...

Bel itu berbunyi. Semenjak aku berada di rumah ini keluargaku sering mengirimkan hadiah. Terkadang dari Ayah, Ibu, Kakak, atau Adikku. Beberapa kali juga dari temanku.

Aku meletakkan cangkir kopiku dan berjalan mendekati pintu. Kira-kira kali ini apa yang akan kuterima? Apakah satu cup biji kopi, bunga anggrek, atau hadiah yang bisa kupilih sendiri?

Ketika pintu kubuka, aku melihat sebuah paket. Buku yang dulu kupesan kini berada di depan rumahku; sebuah buku arsitektur. Aku membolak-balik buku itu, tapi ternyata bukan hanya sebuah buku—ada kucing juga. Kucing bercorak seperti ikan mujair. Aku ingat namanya, “Pou?”

Hari-hari berikutnya, bel rumahku selalu berbunyi. Hadiah selalu datang. Namun kini, hadiah itu tidak lagi berbentuk barang, melainkan kepingan cahaya. Aku menggenggamnya, merasakan hangat yang menjalar ke jemariku. “Sebenarnya untuk apa kepingan cahaya ini?”

Tidak lama setelah itu, notifikasi muncul di layar TV. Sebuah pesan video dari pusat menyatakan bahwa kepingan cahaya yang kuterima bisa ditukarkan. Lima puluh keping cahaya bisa ditukarkan menjadi sebuah kunjungan. Namun, aku baru menerima dua keping. Masih perlu empat puluh delapan keping lagi.

Hari-hari berlalu. Bel itu masih sering berbunyi. Setiap kepingan cahaya yang datang terasa hangat di genggaman. Awalnya hanya dua, lalu lima, lalu sepuluh. Aku menyimpannya dalam sebuah kotak kecil di samping tempat tidur. Kotak itu kini berpendar pelan setiap malam, seperti sedang bernapas.

Aku mulai menghitung. Dua puluh tiga... Tiga puluh satu... Empat puluh. Semakin mendekati angka lima puluh, perasaanku justru semakin tidak tenang. “Kenapa aku ingin ini?” gumamku suatu malam.

Layar TV tiba-tiba menyala sendiri. Pesan baru dari pusat muncul: "Penukaran siap dilakukan. Apakah Anda ingin menggunakan 50 keping cahaya untuk kunjungan?"

Tanganku gemetar. Tanpa berpikir panjang, aku menekan tombol “YA”.

Ruangan mendadak gelap.

Aku berdiri di sebuah tempat yang sangat kukenal. Tanah merah. Udara yang sunyi. Dan bunga-bunga yang baru saja ditaburkan. Di depanku… ada dua sosok. Seorang gadis kecil dan seorang wanita. Gadis itu menunduk, tangannya penuh kelopak bunga.

“Bu… menurut Ibu, Kakak dapat hadiah nggak dari kita?”

Aku terdiam. Suara itu… suara yang sudah lama tidak kudengar. Suara Rara. Aku mencoba melangkah, tapi kakiku terasa berat, seolah terikat pada tanah. Aku mendekati nisan kayu itu, jemariku yang tak berwujud mencoba meraba guratan nama yang sudah sangat kukenal.

Namaku.

Seketika semuanya terasa jelas. Kepingan cahaya itu… bukan hadiah biasa. Itu adalah doa. Itu adalah kenangan. Itu adalah cinta yang dikirimkan oleh mereka yang masih hidup. Setiap bunga yang ditaburkan… berubah menjadi satu keping cahaya. Dan kini, dengan lima puluh keping itu… aku bisa pulang. Meski hanya sebentar.

Air mataku jatuh, tapi tidak menyentuh tanah. “Rara…” bisikku.

Gadis itu tiba-tiba menoleh, seolah bisa merasakan sesuatu. “Bu… tadi kayak ada yang manggil aku…”

Ibunya diam sejenak, mengusap nisan itu dengan penuh kelembutan. “Itu Kakak. Dia sedang berterima kasih karena bunga kita sampai padanya.”

Aku ingin memeluknya. Aku ingin menjawab semua pertanyaannya. Tapi perlahan, dunia itu mulai memudar. Cahaya di sekelilingku kembali pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, luruh ke bumi seperti debu bintang.

Aku kembali ke rumah itu. Sendiri. Kotak di samping tempat tidurku kini kosong, tak lagi berpendar. Namun, hatiku tidak lagi terasa hampa. Aku tahu, setiap kali bel itu berbunyi aku tidak sedang menunggu hadiah. Aku sedang diingat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
This is Home!
pinklabel
Skrip Film
SEDARAH
Ahmad Gali Prayoga Nasution
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Buku yang Mengubah Hidupnya
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Cerpen
Menampung Air Hujan
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Kala Bumi Merajuk
H.N.Minah
Novel
Bronze
Tikus-Tikus Dalam Otakku
Rifan Nazhip
Novel
Dewasa Sejak Dini
Hikmasari D.P
Skrip Film
Rainbow In My Love
ArsheilaW
Flash
LAYANG-LAYANG
Ejas Intan
Flash
Sandaran
FS Author
Flash
Bronze
Patmo & Cerita Kematian Anaknya
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Es Krim Dari Kakek
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
PENANTIAN
Gie_aja
Novel
Bronze
TANAH AIR KEDUAKU
Eunike Mariyani
Rekomendasi
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Kasus Terakhir Rissa
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Cerpen
Basement In Heaven
Sekar Kinanthi
Flash
Keluargaku di Garis Takdir Lain
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Pertama: Prequel Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
77 Questions Before I Was Born
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Jebakan Cinta Sang Pewaris
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Cerpen
Luna: Jiwa yang Hilang
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled 2
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled
Sekar Kinanthi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi