Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
ZONK (SAKIT BANGET)
Pak Mamat jualan tomat. Yang beli Ibu Camat.
Anehnya, setiap kali Bu Camat datang ke lapaknya, beliau selalu memberi hormat ke arah Pak Mamat.
Pasar langsung geger.
Tukang daging yakin Pak Mamat itu seorang intel. Ibu-ibu menduga dia adalah CEO yang menyamar. Bahkan ada yang bilang mereka punya hubungan rahasia.
Pak Mamat lantas GR mendapatkan perlakuan khusus dari Bu Camat. Pak Mamat yang sudah naksir lama dengan Bu Camat mengira itu adalah kode bahwa Bu Camat juga menyukainya. Secara—Bu Camat adalah sosok janda kembang paling cantik di desa itu dan Pak Mamat juga merupakan seorang duda tampan.
Sejak saat itu, setiap Bu Camat beli dagangannya—Pak Mamat selalu royal padanya.
"Saya cuma beli 2kg, kenapa jadi banyak sekali Pak?" tanya Bu Camat heran.
"Saya lagi ada diskon Bu. Soalnya Ibu pelanggan tetap dilapak saya," ujar pak Mamat ramah. Ia menyelipkan secarik kertas di kantong kresek belanjaan Bu Camat.
"Oh gitu ya. Makasih Pak Mamat." Bu Camat tersenyum lebar.
"Sama-sama Ibu."
'Semangat kerjanya ya Ibu Mat-Can (Camat Cantik).' Isi secarik kertas itu. Pak Mamat sudah melakukan itu puluhan kali setiap Bu Camat datang ke lapaknya dan membeli dagangannya.
Rumor itu menyebar seperti kilat. Sampai suatu hari, seorang ajudan tak tahan lagi dan bertanya. "Maaf, Bu. Kenapa Ibu selalu hormat pada Pak Mamat?"
Bu Camat mengernyit bingung. "Siapa yang hormat sama Pak Mamat? Saya itu hormat sama poster Presiden Soekarno di samping lapaknya Pak Mamat!"
"Oh begitu ya. Tapi banyak rumor yang mengatakan kalo ibu punya hubungan rahasia sama pak Mamat."
"Itu cuma salah paham. Kesalahpahaman ini gak boleh dibiarin."
Keesokan harinya, Bu Camat datang lagi ke pasar bersama para ajudan.
Semua warga dikumpulkan. Termasuk Pak Mamat yang menutupi poster itu dan disuruh minggir terlebih dahulu oleh salah satu ajudan.
Penghormatan itu dipimpin oleh Bu camat.
"Ibu-ibu. Bapak-bapak. Untuk memperingati hari pahlawan hari ini marilah kita memberikan penghormatan sejenak kepada presiden pertama kita Ir. Soekarno karena telah memperjuangkan kemerdekaan negara kita. Mohon semuanya berbaris yang rapi. Sudah siap?"
"Siap Bu," jawab warga serempak. Pak Mamat juga berbaris tapi ia membeku.
"Mari kita mulai. HORMAT GRAK! TEGAK GRAK!"
Pak Mamat ikut hormat, tapi matanya kosong.
'Jadi selama ini. Hormatnya setiap kali datang kepadaku ternyata untuk poster itu,' gumam pak Mamat dalam hati.
Sejak saat itu hati pak Mamat retak. Hari-harinya yang dipenuhi rasa rindu menantikan kedatangan Bu camat ke lapaknya ternyata adalah ZONK terbesar dalam hidupnya.
Pak Mamat pulang kerumah dengan ekspresi sedih. Ia duduk di kursi teras depan rumah. Mbak Nita, anak pak Mamat—yang melihat bapaknya sedih lalu menghiburnya.
"Bapak melas banget mukanya, kenapa? Ada masalah?" tanya Mbak Nita kepo.
"Gak apa-apa. Lagi capek aja. Tuh kacamata pesenan kamu udah bapak beliin." Pak Mamat meletakkannya di meja.
"Wuaaah, bagus banget Pak." Mbak Nita memakainya dan mengaca dengan kamera smartphone-nya.
Saat itu Mas Dony, anak Bu Camat—datang ke rumah Pak Mamat untuk mengantarkan sebuah surat dari Ibunya untuk Pak Mamat.
"Selamat sore Pak Mamat. Ini ada surat titipan dari Ibu buat bapak," kata Mas Dony sopan.
"Oh ya, makasih ya. Duduk dulu Mas Dony, kita ngopi dulu. Biar dibuatin sama anak saya."
"Iya Pak, makasih. Maaf ya merepotkan."
"Nggak kog. Saya malah seneng ada temen ngopi." Pak Mamat menatap surat yang ia pegang ditangan kanannya. 'Paling surat tagihan listrik,' batinnya pesimis.
"Ini Mas Dony kopinya. Di minum dulu." Mbak Nita tersenyum manis.
"Makasih Mbak Nita," sahut Mas Dony membalas senyum.
Melihat Mbak Nita yang memakai kacamata—Mas Dony semakin jatuh cinta.
Pak Mamat membuka surat itu. Matanya terbelalak membaca isinya.
'Selamat malam Pak Mamat. Maafkan atas tindakan ceroboh saya di lapak bapak yang membuat bapak harus menanggung malu akibat kabar buruk dari orang-orang di pasar. Semua itu salah saya yang membuat nama baik bapak tercemar. Semoga bapak bisa memaafkan saya dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Terimakasih karena selalu menyemangati saya dengan secarik kertas yang selalu bapak selipkan di kantong kresek belanjaan saya. Saya sangat senang bisa membacanya, karena tulisan-tulisan bapak bisa membuat saya tersenyum dan meringankan beban pikiran saya selama ini. Hati saya menjadi tenang saat membaca tulisan-tulisan bapak. Dan akhir-akhir ini entah kenapa hati saya berdebar kencang setiap kali saya melihat bapak. Saya ingin menebus kesalahan saya pada bapak. Semoga kita bisa bertemu di malam Minggu nanti jam 8 malam di Cafe Rindu.'
"Saya tinggal dulu sebentar ya Mas Dony." Ucap Pak Mamat buru-buru.
"Iya Pak silahkan."
"Nita, temenin Mas Dony ngobrol di teras," perintah bapaknya.
Pak Mamat masuk ke kamarnya. Membaca ulang surat itu seolah tak percaya. Hatinya berbunga-bunga. Senyum lebar tampak di wajahnya. Ia berguling-guling diatas kasur karena sangking senangnya. Hatinya yang tadi hancur mendadak utuh kembali.
Beberapa saat kemudian Pak Mamat kembali ke teras. Tapi Mas Dony sudah tidak ada disana, hanya Mbak Nita yang sedang senyum-senyum duduk di kursi dan melihat-lihat cincin yang ada di jemari manisnya.
"Ngapain kamu senyam-senyum?" tanya bapaknya.
"Seneng banget aku Pak. Barusan aku habis dilamar Pak sama Mas Dony. Tuh cincinnya. Bagus kan!" Mbak Nita memamerkannya pada bapaknya.
JLEB! DOUBLE KILLS!
Hati Pak Mamat yang baru saja utuh kembali, kini kembali hancur untuk kedua kali. Pak Mamat tidak tahu selama ini jika anaknya menjalin hubungan diam-diam dengan anak Bu Camat.
TAMAT.