Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Secangkir Cokelat Panas
2
Suka
447
Dibaca

Aku kembali ke halte ini untuk mengakui satu hal: aku gagal lagi memasukan lamaran kerja ku. Kali ini, kualifikasiku kurang memumpuni.

Aku duduk di bangku besi yang masih sama dinginya seperti terakhir kali aku duduk disini bersama mu. Waktu itu kita tertawa keras, dan yakin bahwa ini adalah jalan yang terbaik dan membawa kita ke tempat yang sama.

Kita bahkan tidak sempat memikirkan kemungkinan lain -bahwa suatu hari lagi aku tidak akan kesini lagi sendirian.

Bus-bus datang dan pergi seperti biasa. Mesin mereka meraung pendek sebelum melaju meninggalkan halte. Semua orang tampak tahu kemana mereka akan pergi, kecuali aku.

Angin sore mengesekan bau karat dari tiang besi halte ke udara, hujan datang samar-samar membasahi tanah dan aroma petichor tercium dengan kuat hingga aku seperti merasakan kehangatanmu lagi padahal kamu tidak lagi disini, aku masih ingat percakapan kita dibangku ini.

Kita coba beasiswa itu, ya?" katamu waktu itu.

"Tentu," jawabku tanpa ragu.

"Kita berangkat bareng." Kita tertawa setelahnya, seolah semuanya sudah pasti terjadi, tapi hari pengumuman itu datang terlalu cepat.

Di ruang penuh orang yang menahan napas, hanya satu nama yang dipanggil yaitu adalah namamu.

Aku masih ingat bagaimana tepuk tangan orang-orang terdengar seperti suara hujan yang jatuh terlalu deras, aku ikut tersenyum namun di dalam dada, sesuatu runtuh, dan berharap bukan kamu yang dipanggil.

Aku mengenggam tiang besi halte, hujan turun perlahan, membasahi tanah yang begitu kuat, bau tanah selalu basah dan seolah setiap tetes hujan menyimpan potongan kenangan. Aku berjalan menepi menuju kafe kecil di sudut jalan – tempat yang dulu sering kita datangi setelah hujan seperti ini. Kafe itu masih sama, lampunya hangat dan aroma kopi bercampur roti panggang memenuhi udara, ada juga bau buku lama yang menenangkan, ini perpustakaan kecil yang bersembunyi ditengah kota. Tempat favoritmu.

aku memesan satu cokelat panas dengan roti kopi setiap kali bersamamu yang selalu kamu ejek.

“Kamu ini kayak anak kecil,” katamu sambil tertawa.

“Sudah dewasa, tapi minum cokelat panas.”Ejekmu membuatku tertawa saat mengingatnya.

“Tapi kamu selalu ikut minum, Martha.” Balasku waktu itu.

Aku membawa cangkir itu ke meja dekat rak buku, uap cokelat panas naik perlahan mengaburkan pandangaku sesaat. Diantara deretan buku, mataku berhenti pada satu judul yang terasa terlalu akrab, buku itu, aku menarik perlahan dari rak. Sampulnya sudah sedikit pudar, namun aku pernah memberikan yang sama persis dengan ini dan kamu memeluknya seperti harta karun.

“Raditya, aku bakal baca ini sampai habis,” Katamu penuh semangat.

Hal-hal kecil seperti itu seharusnya sudah lama dalam hilang dari ingatan, tapi entah kenapa, justru itulah yang paling sulit dilupakan.

Cokelat panas ditanganku sudah hampir habis, seperti kenangan yang perlahan mendingin, aku meletakan cangkir itu di meja lalu berdiri. Diluar, sebuah bus berhenti sebentar dan pintu terbuka, untuk pertama kali sejak lama, aku melangkah keluar dari kafe itu, mungkin benar – kadang kita memang harus menepi bukan menyerah supaya akhirnya bisa melangkah lagi

aku masih menyimpan catatan kecil sebelum kamu pergi ke Jerman. Tulisan tangan yang sedikit miring.

Kalau suatu hari kita tersesat di jalan yang berbeda, jangan lupa kita pernah bermimpi ditempat yang sama.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Secangkir Cokelat Panas
Reveniella
Novel
Gold
The Lost Hero
Noura Publishing
Flash
Bronze
Azab Itu Sudah Tak Ada
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Nataraja
Ghozy Ihsasul Huda
Novel
MAHAWIRA
el
Flash
Introvert, ekstrovert, dan ambivert
Nimilsy Butterfly
Flash
Ghostwing
Fajar R
Novel
Bronze
HITAM - PUTIH
hendri putra
Novel
THE YOUTH CRIME
Dwi Budiase
Flash
Orang di Peron Kereta
Lebah Bergantung
Novel
Bronze
Sekolah petarung
Bungaran gabriel
Flash
Seminggu Tanpa Listrik
M. Ferdiansyah
Flash
Bronze
Mengantar Rana
Silvarani
Flash
Rumina dan Dunia yang Membisu
Hans Wysiwyg
Skrip Film
Kedai Teh Superhero
Wirda Elsyam
Rekomendasi
Flash
Secangkir Cokelat Panas
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Novel
Qurencia
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Flash
Meja Nol 7
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Flash
Gagak di Bubungan
Reveniella
Flash
Budak korporat
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella