Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Meja nol 7
1
Suka
57
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan selalu mengingatkanku dengan meja kosong tujuh di café diujung jalan, disekitarnya ada pemiliki toko bunga yang aromanya selalu semerbak saat hujan turun, entah sejak kapan café ini seperti tempat pulang. Bahkan pelayan tidak perlu lagi bertanya apa yang aku pesan, Americano, seperti biasa. Aku duduk dikursi yang sedikit goyah, akibat kayunya yang mungkin sedikit jabuk dan menarik kursi disisi lainnya, seperti menunggu seseorang disana.

Hujan mengetuk kaca jendela dengan pelan, aroma petichor menyapa di udara, aroma yang sedikit ku rindukan. Aku tersenyum tipis kala ada yang menyapaku.

“Masih disini, hujan belum reda ya nin?” Tanyanya, suara itu selalu datang bersamaan dengan hujan.

Aku menoleh ke kursi di depanku, tempat Jedra biasa duduk, bahunya lebar dengan rambut messy yang sedikit berantakan seperti orang bangun tidur.

“Iya” Jawabku pelan.

Dia menatapku beberapa detik, lalu menghela napas sesaat, “Dari tadi wajahmu tidak tenang.”

Tangannya yang besar bergerak seperti biasa – mengelus kepalaku perlahan. Gerakan sederhana membuat napasku kembali teratur

“Dra… ibu memarahiku lagi.” Aku menunduk menatap kopi di hadapanku.

“Katanya aku tidak perlu lagi ke Psikiater.”

Hujan di luar terdengar semakin deras, jedra tak langsung menjawab. Dia selalu seperti itu – tidak pernah memotong kata-kataku, aku menyesap americano yang ku pesan perlahan.

“Katanya ke Psikiater cuman untuk orang yang lemah.” Lanjutku, kalimat itu masih terasa berat di dadaku, tiba-tiba sesuatu yang hangat menutupi pundakku. Aku menoleh, jedra memberikan jaketnya padaku, dia sudah berdiri disampingku dan menyampirkannya dengan hati-hati.

“Aku bangga sama kamu,”Katanya. Aku menatapnya dengan bingung.

“Karena kamu perduli pada dirimu sendiri.” Tangannya kembali mengacak rambutku, gerakan yang selalu membuatku menangis tanpa alasan.

“Ingat satu hal, Nin.”

“Apa?” Tanyaku padanya, ia memberikan senyum termanis yang ia miliki.

“Tidak semua hal adalah tanggung jawabmu.” Dia kembali duduk di kursi depanku.

“Aku akan selalu ada bersama kamu.” Dia kemudian menunjuk lantai di antara kami, “Bukan dibelakangmu.” Lalu menunjuk ke depan.

“Bukan juga di depanmu.” Ujar Jedra tersenyum kecil, “Tapi di sampingmu.” Aku tertawa kecil

“Dra… kenapa kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan?” dia hanya mengangkat bahunya

“Mungkin karena aku pernah ada di posisi yang sama denganmu.”

Aku tidak memahami maksudnya saat itu, namun aku tenggelam dalam lamunanku, ada banyak kenangan tentang Jedra salah satunya adalah rumah pohon di dekat hutan jati. Rumah pohon yang kami temukan saat kami remaja, kayunya berderit setiap kali diinjak, tapi dari sana langit terlihat sangat luas. Aku menghabiskan banyak waktu ku dengannya disana, entah sekedar bercerita atau sekedar memakan buah strawberry liar yang kami petik di tengah hutan.

Suatu ketika, aku menatap Jedra dengan penuh perhatian, rambutnya yang agak messy itu aku acak perlahan dan ia menoleh menatapku saat kami berada diatas rumah pohon itu, dan kami duduk berdampingan, angin sore berhembus pelan, aku menarik hidungnya dan bertanya setengah bercanda.

“Jedra… kalau aku mati lebih dulu, kamu akan tetap mengingat–" dia langsung memotong pembicaraan ku.

“Jangan bicara soal kematian.” Matanya menatapku tajam dan menghembuskan napasnya perlahan.

“Kematian itu sakral, Nin.” Lanjut kembali mengacak rambutku perlahan, aku bersandar di bahunya

“Maaf.” Ujarku padanya Ia menghela napas dan mengacak rambutku perlahan.

“Tidak apa-apa.” Lalu ia berkata kepadaku

“Aku jadi ingat lagu kesukaanku”

“Apa?” Tanyaku perlahan, ia tersenyum kepadaku.

“Sampai jadi debu.” Dia memelukku waktu itu, pelukannya hangat. Kuat dan menuntut rasa rapuh itu masih membekas amat dalam saat merasakan hangat pelukannya.

“Kalau kamu tiada, Nin…” Ujarnya membuatku penasaran dan menoleh padanya.

“Aku berada di liang sebelahmu,” Aku tertawa, mengira ia hanya bercanda namun interupsi membuyarkan lamunanku.

“Kak?” Suara pelayan itu membuatku kembali ke café.

“Iya?”

“Americano-nya mau dipanaskan.” Aku mengeleng pelan, pelayan itu ragu sejenak.

“Kakak sering kesini ya?” Tanyanya membuatku menyeritkan dahi

“Iya.” Dia melihat ke kursi di depanku dan melanjutkan ucapannya, “Dari tadi kakak ngobrol sama siapa?” Aku mengerutkan keningku.

“Temanku.”

“Yang mana”

Aku menunjuk kursi yang ada di depanku. Pelayan itu menatap kursi kosong itu cukup lama.

“Saya kerja hampir tiga tahun disini kak,” kata pelan dadaku mulai terasa aneh.

“Saya tidak pernah lihat kakak datang dengan orang lain.” Hujan di luar tiba-tiba saja terdengar lebih keras. Pelayan itu buru-buru pergi setelah itu dan aku menatap kursi di depanku.

Aku meraih ponsel yang berada di tanganku, dan mencari nama Jedra namun nihil, aku mencoba mengingat nomor teleponnya, dan aku tidak mengingat apapun seolah-olah dia tidak pernah ada. Napasku memendek.

Aku buru-buru mengambil tasku dan segera keluar dari café itu, kaki ku membawaku ke tempat lain, rumah pohon, di dekat hutan jati. Sudah lama sekali aku tidak kesana, kayunya lebih lapuk daripada yang aku ingat, aku memanjat perlahan dan di dinding rumah pohon itu aku melihat ukiran kecil yang hampir hilang dimakan oleh waktu. Tulisan yang tiba-tiba membuat dadaku berhenti berdetak.

Jedra

2001 – 2017

Dibawahnya ada tulisan lain, dan aku mengenal tulisan itu dengan jelas. Tulisan tanganku sendiri “ terimakasih sudah menemaniku melewati badai di kepalaku.”

Ingatan yang selama ini terkunci tiba-tiba terbuka, aroma rumah sakit yang membuatku mual, lampu putih dan orang-oraang yang berbicara dengan suara pelan. Kabar yang dulu tidak pernah benar-benar kuterima. Jedra telah meninggal Sembilan tahun yang lalu, aku duduk di lantai rumah pohon kayu itu, angin sore masuk lewat jendela kayu dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang sangat sederhana.

Di café itu, tidak pernah ada dua cangkir kopi di meja. Hanya ada satu, aku menutup mata dan air mata jatuh tanpa suara.

“Dra…” suaraku nyaris tak terdengar.

“Aku masih datang ke meja nol tujuh” Angis berhembus pelan, seperti seseorang lewat tanpa terlihat, dan garis dipipiku mengembang di tengah air mata.

“Aku menceritakan tentangmu pada Tuhan,” Aku menyentuh ukiran itu sekali lagi.

“dan kalau benar suatu hari nanti kita hanya akan jadi debu…” suaraku tercekat, rasanya hampir hilang di tenggorokan.

“Semoga debuku tetap menemukan debumu.” Ujarku perlahan, hujan turun lagi membasahi tubuhku bersama tangis yang tak bisa lagi ku redam dan meja nol tujuh selalu kosong, seperti itu selalu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Heart
Husnul khatimah
Novel
Kamu
MS Wijaya
Novel
Bronze
Cinta Sampai Akhir Nanti
Pasya Firmansyah
Skrip Film
Kasmaran Sussi
Teguh Santoso
Flash
Bronze
Rasa Yang Tertinggal
Aizawa
Flash
Meja nol 7
Reveniella
Cerpen
Sehabis Hujan
Zaki S. Piere
Cerpen
Senja Memerahdi Atas Perahu Sopek
Ubaidillah
Cerpen
Bronze
Takdir Sang Ratu ular
Husnu zinni
Novel
Hari Kebalikan
Wina Anggraeni
Novel
Emak-Emak Sekolahan
R Fauzia
Skrip Film
Let Me Show You (SCRIPT)
Noor Cholis Hakim
Flash
The City Of Gold
Wanudara Haruta
Novel
REVENITE
Risda Amalia Putri
Skrip Film
Orang-orang Bawah
Indah Zuhairani Siregar
Rekomendasi
Flash
Meja nol 7
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Flash
Secangkir cokelat panas
Reveniella
Novel
Qurencia
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Budak korporat
Reveniella
Flash
Apakah Aku Pantas Dicintai?
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Flash
Gagak dibubungan
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella