Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Kau dengar, Nina? Gagak lewat di atas bubungan rumah kita. Kamu tahu itu pertanda apa?”
Ibu selalu percaya gagak datang sebelum seseorang mati, dan hari itu seekor gagak benar-benar melintas di bubungan rumah kami.
Beberapa menit kemudian Bapak berhenti bernapas.
Ibu berkata begitu sambil menutupi wajah bapak dengan jarik cokelat. Tangannya gemetar, tapi dengan gerakannya yang hati-hati, seolah takut membangunkan seseorang yang tidur siang.
Di luar, angin gemerisik menggesek genting tua. Suaranya kering seperti tulang yang saling beradu.
Wajah Bapak pucat. Matanya tertutup. Tubuhnya dingin dan kaku.
“Hari ini ada orang mati,” bisik Ibu pelan sekali.
“Bapak kita.”
Dadaku seperti ditarik sesuatu yang tak terlihat. Aku ingin menangis, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan.
“Jangan kau tangisi,” lanjut Ibu, menatap jauh melewati jendela rumah yang kusam.
“Sia-sia.”
Aku menunduk. Tanganku mengepal di pangkuan.
“Sebentar lagi Abangmu akan datang,” kata Ibu lagi
“Dia akan memberitahu warga untuk menguburkannya,” lanjutnya lagi
Ia lalu terduduk lesu di lantai tanah. Punggungnya yang kecil terlihat semakin rapuh. Ini suaminya yang ketiga, pikirku, dan sekali lagi, Ibu akan kembali menjanda.
“Bu…” suaraku pecah.
Tapi Ibu tidak benar-benar menatapku. Matanya kosong, seperti melihat sesuatu yang hanya ada dalam ingatannya.
“Kau tahu, Nina,” katanya perlahan.
“Rumah Bapak ini sudah terlalu tua. Ini warisan kita.”
Lanjutnya, Ia mengangkat wajahnya menatap langit-langit yang retak.
“Meski kelihatannya kokoh, suatu hari atapnya akan roboh.
”Ia menarik napas panjang.
“Sebelum semua penghuninya pergi, mari kita rombak rumah ini.”
Setelah kalimat itu, bibirnya kelu. Matanya basah.
Aku memeluk Ibu erat. Tubuhnya ringan, terlalu ringan untuk seorang yang paling kuat, dan pernah menjadi tempatku bersembunyi dari dunia, berharap hangatku bisa menahan sesuatu yang perlahan memudar darinya. Demensia Ibu makin parah.
Ia hanya mengingat satu hari itu. Hari ketika para rentenir datang. Aku masih kecil waktu itu. Mereka datang dengan sepatu berat dan suara keras. Pintu didobrak. Lemari dibuka paksa. Barang-barang dilempar keluar seperti sampah. Bapak berdiri di tengah rumah dengan kepala tertunduk. Ibu berlutut di lantai.
“Kami belum bisa membayar,” suara Bapak waktu itu gemetar.
Salah satu dari mereka menertawakan kami. Rumah kami diacak-acak. Piring pecah. Kursi patah. Ibu menangis sampai suaranya habis.
Sejak hari itu, Ibu seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya. Ingatan-ingatan lain perlahan memudar, tapi ingatan tentang hari buruk itu tidak pernah pergi.
Aku mengusap punggung Ibu.
“Sudah usai, Bu,” bisikku.
Semuanya memang sudah usai.
Para rentenir itu sudah lama hilang dari hidup kami. Aku bekerja siang malam sampai keluar dari kemiskinan yang dulu mengerogoti dan memakan kami hidup-hidup. Kini karierku melejit. Aku punya rumah besar di kota. Orang-orang memanggil namaku dengan hormat. Aku bisa membeli sepuluh rumah seperti ini jika aku mau, tapi Ibu tidak pernah benar-benar pergi dari rumah kami.
Di kepalanya, waktu berhenti di hari itu. Hari ketika para penagih utang mengobrak-abrik segalanya. Hari ketika Bapak berdiri tanpa daya. Dan hari ketika gagak lewat di bubungan rumah kami.
Aku menatap wajah Ibu yang bersandar di bahuku. Ia berbisik pelan, suaranya bergetar ketakutan.
“Nina, kita harus memperbaiki rumah ini, sebelum mereka datang lagi,” ujar Ibu.
Dadaku tiba-tiba runtuh. Kupeluk Ibu lebih erat.
“Tenang, Bu,” kataku dengan suara yang hampir pecah.
“Mereka tidak akan datang lagi.”
Ibu mengangguk pelan.
Lalu, seperti seseorang yang akhirnya merasa aman, ia menutup matanya. Aku tetap memeluknya lama sekali. Di luar rumah, seekor gagak melintas di atas bubungan.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar bahwa yang benar-benar tidak pernah keluar dari rumah ini bukan kemiskinan kami, melainkan luka di hati Ibu.
"Bu, Nina janji akan di sini," bisikku.
Aku akan menjaga Ibu. Seperti amanat Mas Raden yang dua tahun lebih tua dariku. Ia punya tawa yang keras dan mata yang selalu bercahaya, bahkan ketika kami hanya makan ubi kayu dengan garam. Suatu sore ia pergi ke hutan mencari umbut. Tak ada yang mengira ia akan pulang sebagai mayat. Ular kobra menggigitnya. Racunnya menyebar terlalu cepat. Bahkan sebelum matahari turun, Mas Raden sudah terbaring kaku.
Dua hari sebelumnya, Bapak juga pergi, tertabrak mobil saat mengumpulkan kardus di pinggir jalan. Semua kematian itu datang seperti hujan batu, tanpa jeda, tanpa belas kasihan. Rumah ini tidak pernah benar-benar sembuh sejak hari itu.
Aku masih ingat malam ketika para rentenir datang lagi. Sepatu mereka menghentak lantai tanah. Bau rokok dan keringat memenuhi rumah. Salah satu dari mereka perutnya buncit, matanya seperti anjing lapar menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
“Utang bisa lunas,” katanya sambil tersenyum miring.
“Asal anakmu ikut aku,” ujarnya.
Aku masih terlalu muda untuk mengerti semuanya. Tapi aku tahu tatapan itu kotor.
“Aku tidak mau,” kataku.
Tawa mereka pecah memenuhi rumah. Pria itu mendekat.
“Aku tidak tanya mau atau tidak.”
Tanganku gemetar, tapi aku tetap berdiri.
“Aku mengutukmu dalam doaku,” kataku melawan.
Sebuah tamparan keras, membuatku pitam, dan bibirku pecah. Mereka tertawa lebih keras lagi.
Malam itu aku belajar satu hal, kemiskinan bukan hanya membuat orang lapar. Ia juga membuat manusia merasa berhak menginjak kita.
Aku menatap wajah Ibu yang pias ketakutan. Kupeluk Ibu lebih erat.
“Tenang, Bu,” bisikku. Ibu hanya membalas dengan anggukan pelan.
Lalu, seperti seseorang yang akhirnya merasa aman, ia menutup matanya. Aku tetap memeluknya lama sekali. Sampai aku sadar, bahwa yang selama ini menunggu rumah ini diperbaiki bukanlah atap, melainkan hati Ibu.
Aku masih memeluknya.
Lama.
Sangat lama.
Angin sore masuk lewat celah dinding kayu. Aku terus mengusap rambut Ibu yang semakin menipis. Saat kugenggam tangannya, kutemukan sebuah pita kecil yang sudah pudar. Pita yang dulu selalu Ibu pasangkan ke rambutku saat aku berangkat sekolah.
Dadaku tiba-tiba sesak. Bahkan saat ingatannya memudar, Ibu masih menyimpan sesuatu untukku.
“Bu?” panggilku pelan.
Ia tidak menjawab.
Aku menunggu, namun masih tidak ada jawaban. Tubuh Ibu semakin ringan di pelukanku.
Terlalu ringan. Seperti rumah ini yang perlahan kehilangan penghuninya satu per satu.
Di luar, gagak itu kembali melintas di atas bubungan.
Dan untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa hari yang selalu diingat Ibu akhirnya selesai.
Rumah ini akhirnya benar-benar kosong.