Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Headphone sudah ditanganmu, tapi kamu masih terlihat ragu menyanyikan dream, lagunya Suzy dan Baekhyun yang sudah kita pilih, saat di Taman Cendana, sejak bulan lalu.
“Aku takut fals.”
“Fals doang yang kamu takutin Re?”
Dia mengangkat alis sedikit, memandangku sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Atau, kamu takut semua ini cuma akan jadi mimpi?”
Sesaat kamu terdiam, menegakkan bahu, lalu tersenyum.
“Iya, dua-duanya sih Hans.”
Ada getaran yang tak bisa disembunyikan dalam suaranya yang ragu.
Musik mulai mengalun hangat saat aku tekan tombol record, seperti sengaja memberi ruang jeda di antara kami yang masih ragu, hanya terpisah kaca tipis.
“Aneh ya,” aku berbisik, nyaris tak terdengar.
“Apa?” Aku lupa jika headphone itu terpasang pararel dengan milikku di balik kaca studio, dan kamu bisa mendengarnya.
“Hadirnya kamu kayak mimpi Re,” jawabku gugup.
Dia tidak langsung menjawab, hanya menurunkan sedikit headphone-nya, seolah ingin memastikan suara ini benar-benar suaraku, lalu tersenyum.
“Kalau ini mimpi, jangan bangunin aku Hans,” ujarmu lembut.
Kata-katanya membuat dadaku tiba-tiba terlalu sempit untuk menampung semua yang terasa.
Intro mengalun lembut, disusul antifon, nyanyian kami yang saling berbalas, aku sebagai pengisi suara Baekhyun, lalu kamu membuatnya lebih teduh dengan nada lembutmu seperti Suzy di bait lagu;
Naneun niga kkok geureon geo gateunde
Aku pikir kau hanya mimpi
Dream jongil areungeorineun neomu gibun joheun kumgeuge baro neo
Mimpi yang terus ku pikirkan sepanjang hari, sangat manis, itulah dirimu.
Suaramu sedikit goyah di awal, sedikit tertahan saat falsetto tapi aku justru merasa seperti mendengar suara hatimu.
Membuat kita berdua tersipu.
Mungkin saat ini kita memang sedang bermimpi, tapi kalau bersamamu aku tidak keberatan tinggal lebih lama di dalamnya.
Bahkan jika suatu hari nanti kita terbangun, aku harap suaramu masih jadi hal pertama yang ingin kucari.