Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di balik pintu darurat, urat-urat kita teregang dan menegang. Titik buta yang kita pilih jadi titik temu paling romantis di dunia. Kita beradu dalam bayang-bayang malam. Kita menyisih ke dalam remang.
"Kau yakin?" Aku berbisik lembut menatap matamu.
Matamu berbinar dalam terang yang redup, memantulkan setitik cahaya yang memberikan jawaban. Aku masih cukup waras untuk sebenarnya menunda kecupan lembut di bibirmu. Namun, kau mengelus lembut pipiku, mengecupnya lebih dulu.
"Kau janji tidak akan pergi kan?" lirihnya.
Aku mengangguk. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab seperti aktor di dalam layar kaca yang pernah kutonton sewaktu kecil dulu. Aku tidak menyangka akan diperhadapkan pada situasi serupa. Tentu aku tidak serupa dengan mereka yang dikekang oleh naskah dan arahan sutradara. Aku bertekad akan membawa kau ke hadapan orang tuaku kelak dan menikahimu.
"Kupastikan kita aman," desisku.
Pada akhirnya, kita bergelut dalam asmara. Di balik pintu darurat yang bagi kita adalah nikmat, kita menjadi paling acuh pada suara-suara penghuni asrama yang asyik bercengkerama di koridor atau ruang tamu.
Sayang, ternyata pintu itu tidak bisa menyembunyikan tanda-tanda kehamilan, aku gagal membuatmu merasa aman dan nyaman. Kita jadi buah bibir paling ranum. Kita terpaksa pulang mengenakan malu yang payah hilang. Sebelum membawamu ke hadapan orang tuaku, aku pun sudah ditendang tumbang oleh mereka yang bergelut sebelum hadir di dunia.