Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pelukanmu menghangatkanku.
Betapa eratnya rangkulan dan rasa maaf atas tumpahnya darah dari perutku. Tubuhku tidak lagi bisa bergerak, gemetar napasku membuatmu makin sesenggukan mengulang ampunan maaf.
Ratusan air mata jatuh ke wajah, yang kini menatap kedua mata biru cerah seperti langit di atas kita berdua. Kedua matamu bertambah cerah saat menangis. Aku terbaring lelah, telingaku yang tajam membisu tertutup. Bagai para mangsa yang hanya jadi sisa tulang, aku tertawa dengan darah menghiasi bibir, mentertawakan kebodohan diriku.
Sialan.
Aku jadi mangsa sesamaku.
Suaramu membesar, berakhir serak, hampir patah. Kamu tidak tega menyakitiku, meski akhirnya mengkhianatiku karena perintah.
"Maafkan aku," ucapmu bergetar. Hidungmu mengusap surai-surai yang berdarah ini. "Aku tidak bermaksud—"
"Aku tahu." Ampunan itu aku potong, sambil terbatuk-batuk darah. Betapa tenangnya tubuhku saat semua kekacauan ini terjadi, bahkan jantung yang melambat kian berharap semoga ajal menjemput. "Yang pintar akan selalu diincar, tidak ... tidak peduli siapanya juga."
Mataku tidak kuat dibuka.
"Aku maafkan kamu, kok."
Ketenangan menemukanku dalam penyesalanmu. Terima kasih.