Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kisah ini bukan bercerita tentang Penjual sate yang tiba-tiba menjadi CEO karena warisan kakek. Juga tidak bercerita tentang percintaan tinggkat tinggi dengan tema merubah status dalam sekejap setelah bertemu sugar dady.
Kisah ini tentang kita yang selalu saja tidak peka dan abai untuk mau mengulurkan bantuan. Ya, kita, tidak hanya aku, tapi juga kamu sebagai pembaca.
Cerita terjadi di tahun 2026. Di negeri padat penduduk, di negeri yang memiliki agama sebagai dasar bermasyarakat dan bernegara.
Kisahnya di mulai dari sosok seseorang bocah lelaki berinisial A, duduk di sekolah dasar. Di usia yang masih belia, A harus berjuang menggapai cita-cita untuk dapat sekedar lulus sekolah dasar.
Kedua orang tua A, anggap saja inisialnya bernama B dan C, sudah memaksa agar A. berhenti sekolah dan tetap ikut memulung. Tetapi A bersikeras dan ingin sekolahnya tidak berhenti di penghujung.
Air mata tak dapat ditahan lagi melepas kepergian sang anak yang memilih untuk menyelesaikan sekolah dasarnya, dibanding ikut merantau memulung barang rongsok.
A memang sosok yang mendiri, pendiam dan tidak banyak menuntut. Dia hanya menuntut agar dirinya dapat segera lulus dari sekolah.
Hari berganti, A memutuskan tinggal di kamar mandi sekolah, tanpa sepengetahuan semua orang.
Jika jam pulang sekolah tiba, A selalu menemani penjaga sekolah bersih-bersih untuk sekedar mendapat izin menggunakan toilet.
Petugas kebersihan mulanya merasa janggal dengan A yang tidak pernah pulang. Tapi justru malah berdiam lama di kamar mandi. Akan tetapi mengingat perkataan A,
"Mau belajar tambahan sebentar disana, boleh ya pak?" Katanya dengan ekpresi penuh harap.
Setiap kali ditanya, "Kamu sudah makan belum?"
"Aku sudah kenyang, Pak." Sebuah pernyataan yang tidak mungkin ditanyakan kembali.
Hari itu hujan turun dengan lebat. Petir menggelegar hebat. Memadamkan sebagian listrik, termasuk listrik di sekolah itu.
A, gunakan sebuah lilin kecil yang hanya mampu bertahan dalam beberapa menit. Pikirannya di landa kecemasan. Rasa rindu akan hangatnya berada dalam pelukan orang tua dan tentunya perut laparnya yang tak bisa diajak kompromi lagi.
Tanpa berpikir panjang, A lekas membuka pintu kamar mandi dan langsung berlari menuju gerbang utama sekolah.
Sepasang tangan kekar menyergap A, hingga membuatnya terkejut.
"Bapak? Kenapa belum pulang pak?" Tuturnya dengan nada lemah lembut.
"Seharusnya bapak yang menanyakan hal itu. Kenapa kamu masih disini sendirian?"
A menjawab pertanyaan itu dengan tenang, "A sedang belajar. Tiba-tiba listrik mati. Jadi A.." perkaataan itu terhenti.
Penjaga sekolah segera merangkul A, merapat hingga satu area di dalam payung yang telah terbuka sedari tadi.
"Sudah.. Sekarang kamu gak boleh nolak lagi. Ikut bapak, pulang ke rumah bapak sementara. Besok kalau kamu tetap bersikeras mau belajar di kamad mandi lagi, silahkan. Tapi sekarang juga kamu ikut sama bapak. Apalagi besok kamu itu harus ikut ujian kan?"
A tidak kuasa menolak permintaan penjaga sekolah.
Di rumah, A ternyata tetap belajar hingga rasa kantuk menjalar dan tertidur bersama tumpukan buku pelajaran.
Keesokan hari, A berhasil menyelesaikan ujian dengan rasa percaya diri. Kala bergegas ingin bertemu penjaga sekolah, segerombolan anak menghadangnya.
"Bau banget yah!! Anak ini kenapa bau banget sih!" A tidak membalas hinaan itu dan hanya tertunduk tanpa berani untuk menatap.
"Heh A.. nih ada makanan, mau ngga?"
"Terimakasih. Aku sudah kenyang." Ujar A menimpali perkataan gerombolan anak nakal.
"Kenyang? Dari pagi kita ngelihat kamu ngga makan apa-apa, kok di bilang kenyang? Ujian pelajaran sehabis isthirahat ini lebih susah loh. Kalau ngga makan, bisa-bisa pingsan nanti!!"
"Aku sudah kenyang." Di kejauhan penjaga sekolah melihat A yang terus menerus di bully.
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Sudah mau bel. Sebaiknya kalian persiapkan peralatan untuk ujian nanti. Pinsil kalian sudah di serut belum?"
Beberapa anak yang tadinya mengerumuni A, segera berlalu pergi ke kelas.
"A.. Kesini sebentar. Bapak mau mau minta bantuan sama kamu!"
A tidak bisa menolak. Bapak penjaga tahu sifat A yang selalu rajin menolong semua temannya yang sedang dalam keadaan sulit.
"Sekarang kamu penjamkan mata. Bapak ingin kamu bisa menebak ini apa?" Ucap penjaga sekolah, seraya tangannya membuka kotak bekal yang berisi camilan. Dalam hitungan 1, 2..
"Ini.. Kan lontong pakai sayur pak."
"Buka mata kamu dan kunyah habis lontong itu. Hari ini, kamu belum sarapan dan makan siang."
Bel berbunyi, tanda saatnya semua murid masuk kelas dengan segera. Bapak penjaga memberi isyarat, dan meminta agar A lekas masuk kelas.
Tak terasa sepekan sudah terlewati, dan ujian akhir tingkat sekolah dasar berahkir sudah. Kini giliran pengumuman hasil yang diraih semua murid sekolah dasar.
Orang tua A sudah berjanji akan kembali pada saat pengumuman. Tetapi apalah daya, A hanya seorang diri berteman bapak penjaga sekolah yang selalu membantunya.
"Anak-anak.. setelah kalian menyelesaikan ujian sekolah. Kini waktunya mengumumkan hasilnya. Peringkat pertama terbaik adalah A, dengan nilai rata-rata lebih tinggi dari angkatan sebelumnya. Hayuk A kemari.."
Ibu guru memberikan piala dan membiarkan A berbicara di depan kelas.
"Ibu.. A bingung harus bicara apa?" bisik A pelan ke sosok ibu guru disampingnya.
"Katakan apapun yang mau kamu ucapkan."
"Tidak ada yang tidak mungkin selama berusaha.. sudah yah teman-teman. Semangat!" Kata A penuh semangat.
Perkataan itu membuat Ibu guru dan bapak penjaga sekolah menitikan air mata.
"Kalian semua harus meniru A dalam belajar di sekolah menengah nanti. Syukuri dengan keadaan kalian saat ini! Kalian semua bukan tidak pintar, tetapi kalian semua hanya terlena dengan tetap terus bermain. Karena itu nilai kalian di bawah nilai A."
A yang mendengar pujian dari wali kelas, tersipu malu. Wajahnya memerah.
Kejadian itu juga berhasil merubah keadaan. Sekolah mendata semua murid yang benar-benar dalam ekonomi tidak mampu.
Beberapa anak murid yang tidak bisa membayar iuran, sekolah memberlakukan dispensasi.
Sekolah juga memberikan fasilitas jika seorang murid ingin menetap disekolah saat sedang menghadapi ujian akhir.
Bapak penjaga sekolah juga memberikan izin ke A untuk bisa menetap sementara waktu, sampai kedua orang tua A menjemputnya pulang.
"Ibu.. Ayah!" Kata A menyambut kedatangan kedua orang tua dengan gembira, sambil memeluk tubuh keduanya.
"Terimakasih karena sudah menjaga anak kami pak!" Ujar sang ibu dengan linang air mata.
"Sudah kewajiban kita membantu sesama. Apalagi anak bapak dan ibu diberi anugerah kepintaran."
"Pokoknya A tidak akan pernah melupakan bapak."
Kisah ini tetap berjalan sebagaimana hari yang masih tetap berganti. Siang yang merubah malam. Tetapi budi baik selalu terkenang sepanjang masa.