Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Kabin 108
0
Suka
18
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Seharusnya aku tidak bertemu dengannya di tempat sialan ini. Aku menyesal, sungguh, tapi semuanya sudah terlambat. Aku akan segera mati. Tapi aku tidak marah padanya. Setidaknya, nanti aku bisa bertemu lagi dengannya … di neraka.

***

Beberapa saat sebelumnya ….

Akhirnya mobilku tiba di parkiran sebuah resort kecil tepi pantai di pulau B. Aku mendesah dan menyumpah karena perjalanan ke sini tak nyaman—melewati hutan, gelap, dan jalannya banyak lubang. Kutelaah sekitaran. Sepi. Tidak ada mobil lain. Kuambil ponsel di konsol tengah, memastikan kalau tidak salah tempat.

Nama resort-nya sesuai. Titik di GPS pun cocok. Benar ini tempatnya. Aku turun sambil mengecek sekali lagi nomor kamar yang dia pesan: 108. Aku celingukan. Kamar-kamar di sini berbentuk kabin kayu. Posisinya berjarak-jarak dan acak. Pesanku yang menanyakan lokasi persis kamarnya belum dia balas. Aku berdecak. Mau tak mau aku harus bertanya ke resepsionis.

Di lobi tidak ada satu pun tamu. Aku menuju meja resepsionis. Ada yang duduk di sana, laki-laki. Dia mengangkat wajah saat kupanggil. Kami bertatapan. Tampangnya sengak. Ada yang aneh dari cara dia menatapku, membuatku kesal. Aku hampir terbawa emosi dan meninjunya. Untung aku teringat dia. Teringat tubuhnya. Aku tak sabar ingin segera mendekapnya.

Kutanyai di mana kamar nomor 108. Si sengak menjawab—dengan suara melengking mengganggu—kalau di sini sebutannya kabin, bukan kamar. Terserah, aku tak peduli. Lalu, dia mulai menjelaskan jalan menuju ke sana. Gaya bicaranya juga mengandung kesan aneh. Penekanan dalam setiap kata yang dia lontarkan seperti mengejekku.

Muka sengak laki-laki ini memang pantas ditinju. Gigiku beradu. Tahan …. Tahan …. Buru-buru aku memikirkan dia supaya rasa kesalku mereda. Beruntung aku bisa menahannya. Setelah si sengak selesai bicara, aku melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Tujuanku berada di paling ujung—di sebelah batu karang besar. Aku menelusuri jalan setapak dan tak lama kemudian batu karang terlihat. Itu dia, di sebelahnya: kabin 108. Aku mendekati kabin itu sambil memeriksa ponsel. Dia belum membalas. Aku berhenti di ambang pintu. Ini agak ganjil. Dia tak biasanya begini.

Aku curiga. Tapi, aku tak butuh curiga karena di sini semakin dingin. Aku butuh dia. Sudah lama aku tak dihangatkan tubuhnya. Belakangan ini memang lagi susah, orang rumah mulai banyak tanya. Tapi malam ini berbeda. Semuanya dia yang urus. Orang rumah tak mungkin curiga.

Aku bergeming sambil memegang handel pintu. Dingin menjalari tanganku sampai ke ketiak. Ada yang aneh dengan dingin ini. Rasanya beda, seperti sengatan listrik kecil. Kulepas handel dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang mencurigakan. Benar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kubuka pintunya. Tak terkunci, menandakan dia sudah di sini. Tapi kenyataannya tidak. Dia tidak ada. Aku mengernyit. Kamar tampak rapi, seperti tak tersentuh. Aku mengendus, membaui sisa-sisa aroma sitrus miliknya. Dia memang sudah di sini. Tapi, ke mana dia? 

Aku melangkah masuk. Pintu depan kubiarkan terbuka. Di setiap langkah, aku memanggil namanya. Tidak terdengar sahutan. Deru ombak dan angin di luar sana mengganggu pendengaranku. Apa kututup saja pintunya? Jangan. Ada yang tak beres di sini. Aku tak boleh menutup jalan kabur satu-satunya. 

Aku memanggil lagi namanya sambil menuju pintu kamar mandi. Di sini aromanya lebih pekat. Kuketuk pintunya sambil menajamkan pendengaran. Tidak ada suara dari dalam. Kuputar knop, pelan-pelan mendorongnya. 

Bau amis dan besi menusuk hidung. Aku tersedak, menutup hidung, memandang bak mandi di ujung sana. Tirainya tertutup. Bau itu dari sana. Aku mendekat. Berharap dia ada di dalamnya. Kusibak tirainya dan seketika membeku.

Dia meringkuk di atas genangan darah. Tangan dan kakinya terikat. Mulutnya disumpal selotip. Sementara kepalanya …. Brengsek! Siapa yang berani beginikan dia? Aku berjongkok, hendak memeriksa napasnya—

Benda padat seketika menghantam kepalaku. Aku terhuyung dan tumbang. Duniaku berdenging. Pandanganku buram. Aku mengerang dan menyumpah. Lalu, dengan segenap tenaga aku menggerakkan leher, melihat bajingan mana yang berani memukulku dari belakang.

Dalam buram, dapat kulihat ada dua orang. Satu orang seperti sepantaranku, memegang alat—entah apa. Dia pasti yang menghantamku. Satu lagi bertubuh kecil, rambutnya panjang. Perempuan? Siapa? Dia berjongkok di depanku. Aku mengerjap. Perlahan-lahan pandanganku semakin jelas. Sialan. Dia … istriku?!

Kepalaku dihantam lagi. Pandanganku menggelap cepat.

***

Sekitaranku temaram. Cahaya hanya berasal dari satu titik di depan sana, tempat terdengarnya tangisan. Aku melangkah ke sana. Pelan. Hati-hati. Semakin dekat aku, semakin samar suara tangis itu. Kupercepat langkahku. Tak ingin tangis itu hilang. Tapi tetap tak terkejar. Tangis itu lenyap tepat saat aku tiba di ambang pintu. 

Di dalam, kulihat perempuan bersimpuh di sebelah bak mandi. Kedua tangannya di dalam bak, menahan sesuatu agar tidak mengapung naik. Dia menoleh padaku, tersenyum ganjil dan berbisik, “Akhirnya … dia tak sakit lagi.”

Aku terjaga, memelotot, meneteskan air mata. Sial. Lagi-lagi mimpi itu. Satu-satunya memori yang seharusnya aku lupakan, tapi tak pernah bisa. Satu-satunya alasanku melakukan hubungan terlarang ini. Lalu, aku mulai tertawa. Keras, kasar, lama sekali.

Ini pasti karmaku karena menelantarkan istri, mengkhianatinya, membuatnya memberontak dan menjebakku. Aku tak tahu bagaimana caranya dia bisa tahu perbuatanku, padahal aku—

Pintu berderit. Aku menoleh. Dua orang masuk. Istriku. Benar, itu dia. Di sebelahnya berdiri laki-laki yang tadi. Pasti dia juga yang membantu istriku menyiapkan semua ini. Aku menyipit, wajahnya seperti familier—anjing! Tinjuku mengepal erat. Rahangku mengeras. Harusnya kupukuli saja tampang sengak itu tadi.

Istriku mencumbu si muka sengak lalu menyuruhnya keluar. Setelah itu, dia mendekatiku. Di tangannya ada pisau dengan bercak merah. Dia memerhatikanku dari wajah ke kaki, lalu ke wajah lagi. Setelah itu, dia tertawa, keras, seperti orang tak waras.

Benar. Dia memang tak waras. Harusnya aku sadar dari dulu. Kewarasannya sudah lenyap sejak hari itu. Sejak aku memergokinya tersenyum ganjil di sebelah bak mandi.

Tawanya mendadak hilang, berganti tangisan. Lalu dia memakiku, menyumpah, menangis lagi, tertawa lagi. Aku memejam mata, tak peduli. Seharusnya aku tidak bertemu dengan pacarku di tempat sialan ini. Aku menyesal, sungguh, tapi semuanya sudah terlambat.

Kubuka mata. Pisau tertancap di dadaku. Aku akan segera mati. Tapi aku tidak marah pada istriku. Setidaknya, nanti aku bisa bertemu lagi dengannya … di neraka.[]

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Kabin 108
Adnan Fadhil
Novel
Orca
stillzee
Novel
Bronze
CETIK
Bksai
Flash
ON
Ula
Novel
Bronze
The Writer and The Detective (L.A. The Detective 2)
Nur Baiti (Hikaru)
Novel
Cynthia the Candy Addict
Impy Island
Flash
Aku Mencintaimu Selamanya
Fitri F. Layla
Novel
BUKAN KISAH SINETRON
Rudie Chakil
Skrip Film
'TILL THE VOICE BEYOND THE GRAVE KEPT CALLING MORE
Danny Lee
Cerpen
Kāma-Manas
Linggarjati Bratawati
Flash
Bronze
The Happiness
Hamli Akbar Pramulyana
Novel
Foot
Hanum Khoirun Nisa
Novel
Bronze
Armitech
Wilson M
Novel
Lady Maria
Vaaste
Novel
DJAHOEL
Hendra Wiguna
Rekomendasi
Flash
Kabin 108
Adnan Fadhil
Flash
Lagu Terakhirmu
Adnan Fadhil
Flash
Ruang Belajar
Adnan Fadhil
Cerpen
Pelarian Seorang Gadis
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
A Trace of Despair
Adnan Fadhil
Novel
Bisikan dari Masa Lalu
Adnan Fadhil
Flash
Berdansa Dengan Hantu
Adnan Fadhil
Cerpen
Rahasia Kotak Perhiasan
Adnan Fadhil
Flash
Boo si Boneka Kelinci
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Monster
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Tragedi yang Indah
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Aroma Lily
Adnan Fadhil
Cerpen
Nama Kode: B-5
Adnan Fadhil
Cerpen
Cermin Pengulang Takdir
Adnan Fadhil
Cerpen
Teror Sang Malam
Adnan Fadhil