Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore hari, kala senja menjelang. Terlihat kawanan burung terbang di langit. Goresan keemasan membelah langit biru dengan indahnya. Membuat decakan kagum bagi siapapun yang melihatnya.
Seorang gadis berseragam putih abu, duduk di bangku taman. Ia menggenggam secarik kertas yang sudah robek sebagian. Matanya sembab seakan habis menangis sendu.
"Seharusnya aku tidak pulang ke rumah tadi," gumamnya entah kepada siapa.
"Ya, kalau nggak pulang. Orangtuamu akan cemas."
Celetuk seorang pemuda. Berdiri di sebelahnya. Kehadirannya bahkan tidak disadari oleh gadis manis ini.
"Bukan urusanmu," jawabnya dengan ketus.
"Apapun yang terjadi di hidupmu, semuanya ada kaitannya denganku."
"Maksudmu?"
"Kamu putus dengan Regen kan?" pemuda itu justru balik bertanya sambil tersenyum tipis.
Tunggu. Sepertinya Dita nggak pernah cerita hal ini ke sahabatnya. Trus, darimana Putra tahu kalau hubungannya dengan kekasih telah berakhir?
"Jangan merusak suasana hatiku!"
"Oke. Kalau begitu apa yang mampu dilakukan sahabatmu ini, hm?"
"Hibur aku! Apa saja! Lakukan sesuatu untuk menghiburku," ungkap Dita, masih dengan mata yang berkaca-kaca.
Putra berjongkok di hadapan Dita. Menatap lurus, memandang wajah manis yang telah dikenalnya bertahun-tahun lamanya.
"Dita.. Hidup kita emang sudah lama terasa terhenti. Terutama setelah ditinggalkan kekasih. Aku pun mendapat penolakan dari orang yang kusukai. Tapi, bukan berarti kita nggak pantas dicintai."
"Lalu? Apa rencanamu?"
"Tentu saja mencari cinta yang dapat menyembuhkan duniaku."
"Secepat itukah?"
"Nggak cepat kok. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Meskipun gadis itu sama sekali tidak paham akan perasaanku."
Dita terdiam. Mencerna maksud perkataan sahabatnya. Sepertinya ia tertinggal banyak cerita dari Putra. Sehingga tidak mengetahui sosok yang dimaksud olehnya.
"Idih.. Cepetan cerita! Siapa gadis beruntung itu?"
"Kamu."
Dita kembali terpaku. Mengetahui perasaan dari sahabatnya. Bukan hanya Putra, ia pun sebenarnya mempunyai perasaan yang sama. Hanya saja terlalu pintar menyembunyikannya.
"Aku harus bagaimana menanggapinya?"
"Ikuti kata hatimu," jawab Putra masih tersenyum simpul menatap wajah dari gadis yang bertahun-tahun disukainya.
Dita mendekat. Menarik wajah Putra hingga tidak ada jarak di antara mereka. Menikmati senja dengan perasaan hangat yang tiba-tiba muncul. Menciptakan percikan rasa yang membuncah.