Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jam Malam
2
Suka
7,216
Dibaca

Untuk pertama kalinya selama 20 tahun, aku tidak melihat senyum terbit di wajah suamiku. Wajahnya murung sekali sejak putrinya yang sudah gadis berpamitan untuk main bersama teman laki-laki. Bahkan dengan garang, kedua tangannya di taruh di pinggang, ia berpesan pada pemuda yang ketakutan agar memulangkan putrinya sebelum jam sepuluh malam. Jika tidak pemuda itu akan habis.

Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, sementara putrinya belum juga dipulangkan. Suamiku mengambil sebuah kayu kecil yang biasanya digunakan untuk memukul kentongan ketika piket kamling. Langkahnya gusar. Berjalan mondar-mandir di teras rumah sambil mengayun-ayunkan kayu ke udara.

Ketika jam sepuluh sudah lewat dan putrinya belum kunjung pulang, ia ayunkan kayu kecil ke pilar rumah dengan keras. "Awas saja! Akan aku habisi pemuda nakal itu," teriaknya penuh amarah.

Wajahnya merah sekali, sangat siap dipetik. Sangking pedasnya aku bahkan melihat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terus menetes di pelipis suamiku.

Tidak mau amarah suamiku benar-benar meledak, aku mencoba menenangkannya. "Jika kau habisi pemuda itu, putrimu akan membencimu," kataku begitu santai duduk di kursi teras rumah.

"Kenapa putriku membenciku? Dia putriku. Darah dagingku."

"Putrimu akan bersedih melihat orang yang dia sayangi terluka."

Suamiku terdiam. Binar merah di wajahnya perlahan memudar. Dia menatapku lekat-lekat dengan napasnya yang tak beraturan. "Apakah dulu kau pun bersedih ketika ayahmu memukuliku?" tanyanya. Bisa aku lihat matanya mulai berkaca-kaca.

"Sangat sedih. Aku mogok bicara dengan ayah selama tiga bulan."

"Karenaku?" tanyanya lagi. Ekspresi wajah sedih suamiku begitu lucu. Bagaimana bisa seorang pria yang mukanya sepedas cabai tiba-tiba berubah menjadi semanis stroberi?

"Karena aku mencintaimu."

Malam pun berakhir dengan aku yang dibopong ke kamar. Suamiku tak bergeming ketika mendengar derap langkap seseorang yang mencurigakan naik ke lantai atas. Ternyata usahaku meredam amarah malah menghabisiku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Sebelum Toga di Bawah Awan
Leni Juliany
Novel
TARUK
Ratna Arifian
Flash
Bronze
Pengintip Malam Pengantin
Sulistiyo Suparno
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Novel
Gold
Call Me Miss J
Noura Publishing
Skrip Film
HONORER
Eko Triono
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Novel
Would you be my queen
Nadilla Karisya agustin
Novel
Untungnya Apa?
Enggia Valox
Flash
SSB
Deden Darmawan
Flash
Just Go
Azuma.H
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Novel
Chandlina
Al Szi Anszi
Flash
Bronze
Dua Malam Berdua
Silvarani
Flash
Tiga Botol yang Tersesat
Arba Sono
Rekomendasi
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia