Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jam Malam
2
Suka
5,912
Dibaca

Untuk pertama kalinya selama 20 tahun, aku tidak melihat senyum terbit di wajah suamiku. Wajahnya murung sekali sejak putrinya yang sudah gadis berpamitan untuk main bersama teman laki-laki. Bahkan dengan garang, kedua tangannya di taruh di pinggang, ia berpesan pada pemuda yang ketakutan agar memulangkan putrinya sebelum jam sepuluh malam. Jika tidak pemuda itu akan habis.

Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, sementara putrinya belum juga dipulangkan. Suamiku mengambil sebuah kayu kecil yang biasanya digunakan untuk memukul kentongan ketika piket kamling. Langkahnya gusar. Berjalan mondar-mandir di teras rumah sambil mengayun-ayunkan kayu ke udara.

Ketika jam sepuluh sudah lewat dan putrinya belum kunjung pulang, ia ayunkan kayu kecil ke pilar rumah dengan keras. "Awas saja! Akan aku habisi pemuda nakal itu," teriaknya penuh amarah.

Wajahnya merah sekali, sangat siap dipetik. Sangking pedasnya aku bahkan melihat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terus menetes di pelipis suamiku.

Tidak mau amarah suamiku benar-benar meledak, aku mencoba menenangkannya. "Jika kau habisi pemuda itu, putrimu akan membencimu," kataku begitu santai duduk di kursi teras rumah.

"Kenapa putriku membenciku? Dia putriku. Darah dagingku."

"Putrimu akan bersedih melihat orang yang dia sayangi terluka."

Suamiku terdiam. Binar merah di wajahnya perlahan memudar. Dia menatapku lekat-lekat dengan napasnya yang tak beraturan. "Apakah dulu kau pun bersedih ketika ayahmu memukuliku?" tanyanya. Bisa aku lihat matanya mulai berkaca-kaca.

"Sangat sedih. Aku mogok bicara dengan ayah selama tiga bulan."

"Karenaku?" tanyanya lagi. Ekspresi wajah sedih suamiku begitu lucu. Bagaimana bisa seorang pria yang mukanya sepedas cabai tiba-tiba berubah menjadi semanis stroberi?

"Karena aku mencintaimu."

Malam pun berakhir dengan aku yang dibopong ke kamar. Suamiku tak bergeming ketika mendengar derap langkap seseorang yang mencurigakan naik ke lantai atas. Ternyata usahaku meredam amarah malah menghabisiku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
Tenaga Kerja Istimewa
Bentang Pustaka
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Cerpen
NEGERI YANG PENDUDUKNYA GUNDUL
Ani Hamida
Novel
Bronze
Angel's Diary
Angelina Beribe
Novel
Gold
KKPK Kembaran Mama
Mizan Publishing
Novel
Drakula Bertato Celurit
Mulia Nasution
Novel
Bronze
Surat Yang Tak Terbalas
Lail Arrubiya
Novel
Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)
Susilawati Nussy
Flash
Bronze
JUJUR
HERLIYAN BERCO
Cerpen
Bronze
Mengubah Hidup Lewat Belajar
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Novel
SUNRISE
Kala Hujan
Novel
Kendy's
Miftahul Fadla
Novel
Bronze
Matahari Terbenam bersama Cinta
Sarah Teplaka
Flash
Bronze
Menunggu Moment
Lisnawati
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia