Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kembang Api
0
Suka
3,637
Dibaca

Dialah si bungsu kami. Di antara empat bersaudara, laki-laki semua selain dia, dia paling sering dipuja. Katanya matanya seperti anggur yang menggoda, manis sekaligus menuntut pengendalian diri agar tidak mabuk saat mereguknya.

Berulangkali Bapak dan Ibu kuingatkan. Jangan sampai lengah dengan pujian orang-orang. Jangan sampai pongah juga karena anak perempuannya jadi kembang yang diperebutkan. Ibu harus mengajarinya untuk tetap waspada dan Bapak harus menebalkan perisai siaga.

"Nggak papa. Wajar kalau orang-orang puji-puji dia. Laki-laki mana yang akan menyangkal kecantikannya? Toh, adikmu itu juga pasti tahu yang terbaik untuknya." Ibu memberikan pembelaan.

Bapak menanggapi sambil mengunyah membereskan sisa roti dalam rongga mulutnya, "Benar, Sandi, adikmu juga sudah dewasa. Dia sudah bisa jaga diri."

Aku menatap kedua adikku yang lain. Mereka diam tak menanggapi. Satunya mulai sibuk mengurusi anaknya yang belum genap lima tahun. Dari pada membuat gaduh, ia memberikan beberapa batang kembang api.

Ledakan pertama langsung terasa memekakkan, bocah itu dekat sekali dengan mulut pintu. Adik iparku mengomelinya dan menyuruh menjauh. Dia menutup pintu dengan kesal.

Ledakan kedua sudah lebih bersahabat di telinga. Aku tidak begitu membencinya. Aku masih bisa mendengar Bapak dan Ibu memuji-muji si bungsu kami. Mereka tersenyum rekah.

Sampai pada ledakan ketiga, tiba-tiba rumah diserang hening yang mencekam. Suara ledakan di luar mendadak lebih pelan bahkan hampir tidak terdengar. Si bungsu menarik semua mata ke arahnya. Dia mengucapkan sebuah pengakuan.

Ledakan kembang api si bungsu lebih memekakkan. Bapak dan Ibu melongo. Anak perempuannya ternyata gemar bermain api. Bermain api yang pertama menghasilkan jabang bayi. Main api berikutnya memilih waktu pengakuan di malam tahun baru. Pengakuan itu mengundang amarah ibu, mencabik martabat Bapak. Laki-laki penenggak anggur yang di tuang si bungsu telanjur kabur, jabang bayi telah gugur lebur, dan si bungsu memohon ampun dalam sungkur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi
Fitra Firdaus Aden
Komik
Iridescent
sweet potato
Flash
Renung
Kirana Putri Vebrianti
Flash
Kerinduan
Aneidda
Flash
Bronze
Kembali ke Hindia
Afri Meldam
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Novel
Ana & Haje
ayspcy
Novel
Your eyes cant't lie Boss
Achmad Taufan
Flash
Hitam itu Buruk
Vika Rahelia
Flash
Castiya Positif
Rita Benz
Cerpen
Bronze
Merpati Putih
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Aspal Merah
Alysya Zivana Pranindya
Novel
Bronze
ARKANA
Artina Jumnila
Novel
Kelana Bumi Langit
Adrindia Ryandisza
Novel
My boring life
muthia.ramadhani
Rekomendasi
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Surat Ramalan
BANYUBIRU
Flash
Tak Hangat Lagi
BANYUBIRU
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Flash
Kata Orang
BANYUBIRU
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Flash
Boneka Beruang
BANYUBIRU
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Memulai Ulang
BANYUBIRU
Flash
Titik Buta
BANYUBIRU
Flash
Potret Masa Lalu
BANYUBIRU
Flash
Bersemi
BANYUBIRU
Flash
Selamat Bergabung
BANYUBIRU
Flash
Di Atas Motor
BANYUBIRU
Flash
Keluarga
BANYUBIRU