Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kembang Api
0
Suka
6,691
Dibaca

Dialah si bungsu kami. Di antara empat bersaudara, laki-laki semua selain dia, dia paling sering dipuja. Katanya matanya seperti anggur yang menggoda, manis sekaligus menuntut pengendalian diri agar tidak mabuk saat mereguknya.

Berulangkali Bapak dan Ibu kuingatkan. Jangan sampai lengah dengan pujian orang-orang. Jangan sampai pongah juga karena anak perempuannya jadi kembang yang diperebutkan. Ibu harus mengajarinya untuk tetap waspada dan Bapak harus menebalkan perisai siaga.

"Nggak papa. Wajar kalau orang-orang puji-puji dia. Laki-laki mana yang akan menyangkal kecantikannya? Toh, adikmu itu juga pasti tahu yang terbaik untuknya." Ibu memberikan pembelaan.

Bapak menanggapi sambil mengunyah membereskan sisa roti dalam rongga mulutnya, "Benar, Sandi, adikmu juga sudah dewasa. Dia sudah bisa jaga diri."

Aku menatap kedua adikku yang lain. Mereka diam tak menanggapi. Satunya mulai sibuk mengurusi anaknya yang belum genap lima tahun. Dari pada membuat gaduh, ia memberikan beberapa batang kembang api.

Ledakan pertama langsung terasa memekakkan, bocah itu dekat sekali dengan mulut pintu. Adik iparku mengomelinya dan menyuruh menjauh. Dia menutup pintu dengan kesal.

Ledakan kedua sudah lebih bersahabat di telinga. Aku tidak begitu membencinya. Aku masih bisa mendengar Bapak dan Ibu memuji-muji si bungsu kami. Mereka tersenyum rekah.

Sampai pada ledakan ketiga, tiba-tiba rumah diserang hening yang mencekam. Suara ledakan di luar mendadak lebih pelan bahkan hampir tidak terdengar. Si bungsu menarik semua mata ke arahnya. Dia mengucapkan sebuah pengakuan.

Ledakan kembang api si bungsu lebih memekakkan. Bapak dan Ibu melongo. Anak perempuannya ternyata gemar bermain api. Bermain api yang pertama menghasilkan jabang bayi. Main api berikutnya memilih waktu pengakuan di malam tahun baru. Pengakuan itu mengundang amarah ibu, mencabik martabat Bapak. Laki-laki penenggak anggur yang di tuang si bungsu telanjur kabur, jabang bayi telah gugur lebur, dan si bungsu memohon ampun dalam sungkur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bukan Sekadar Manusia
Diva Aelah
Flash
Bronze
Julia Mencari Popi
Afri Meldam
Flash
Bronze
Naila
Ahmad Muhaimin
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Novel
KARMA KITA
Novia dewi
Novel
Gila
Jang Syauqi
Novel
Just Say Goodnight And Go
Silvi Monica
Flash
Jalan Tol
lidhamaul
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Novel
Tsubut
Lailatul Rif'ah
Novel
Gold
Talijiwo
Bentang Pustaka
Flash
Buah tangan
Mahmud
Flash
CINTA SMP (Sakitnya Patah Hati)
Yattis Ai
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Flash
Rangga
Affa Rain
Rekomendasi
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Flash
Badai Tidak Akan Berlalu
BANYUBIRU
Flash
Potret Masa Lalu
BANYUBIRU
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Flash
Cincin Antik
BANYUBIRU
Flash
Setting-an
BANYUBIRU
Flash
Selamat Bergabung
BANYUBIRU
Flash
Keluarga
BANYUBIRU
Flash
Aku Ini Presiden
BANYUBIRU
Flash
Ular Berbisa
BANYUBIRU
Flash
Boneka Beruang
BANYUBIRU
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Filter
BANYUBIRU
Flash
Langkah yang Berani
BANYUBIRU