Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kembang Api
0
Suka
5,057
Dibaca

Dialah si bungsu kami. Di antara empat bersaudara, laki-laki semua selain dia, dia paling sering dipuja. Katanya matanya seperti anggur yang menggoda, manis sekaligus menuntut pengendalian diri agar tidak mabuk saat mereguknya.

Berulangkali Bapak dan Ibu kuingatkan. Jangan sampai lengah dengan pujian orang-orang. Jangan sampai pongah juga karena anak perempuannya jadi kembang yang diperebutkan. Ibu harus mengajarinya untuk tetap waspada dan Bapak harus menebalkan perisai siaga.

"Nggak papa. Wajar kalau orang-orang puji-puji dia. Laki-laki mana yang akan menyangkal kecantikannya? Toh, adikmu itu juga pasti tahu yang terbaik untuknya." Ibu memberikan pembelaan.

Bapak menanggapi sambil mengunyah membereskan sisa roti dalam rongga mulutnya, "Benar, Sandi, adikmu juga sudah dewasa. Dia sudah bisa jaga diri."

Aku menatap kedua adikku yang lain. Mereka diam tak menanggapi. Satunya mulai sibuk mengurusi anaknya yang belum genap lima tahun. Dari pada membuat gaduh, ia memberikan beberapa batang kembang api.

Ledakan pertama langsung terasa memekakkan, bocah itu dekat sekali dengan mulut pintu. Adik iparku mengomelinya dan menyuruh menjauh. Dia menutup pintu dengan kesal.

Ledakan kedua sudah lebih bersahabat di telinga. Aku tidak begitu membencinya. Aku masih bisa mendengar Bapak dan Ibu memuji-muji si bungsu kami. Mereka tersenyum rekah.

Sampai pada ledakan ketiga, tiba-tiba rumah diserang hening yang mencekam. Suara ledakan di luar mendadak lebih pelan bahkan hampir tidak terdengar. Si bungsu menarik semua mata ke arahnya. Dia mengucapkan sebuah pengakuan.

Ledakan kembang api si bungsu lebih memekakkan. Bapak dan Ibu melongo. Anak perempuannya ternyata gemar bermain api. Bermain api yang pertama menghasilkan jabang bayi. Main api berikutnya memilih waktu pengakuan di malam tahun baru. Pengakuan itu mengundang amarah ibu, mencabik martabat Bapak. Laki-laki penenggak anggur yang di tuang si bungsu telanjur kabur, jabang bayi telah gugur lebur, dan si bungsu memohon ampun dalam sungkur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Novel
PANCA-GILA : Ucup left The Group
Alvin Raja
Novel
Bronze
Tentang Kita
Yaa_Rhaa
Komik
Blue Gardenia
Windia Nata
Flash
Mawar Hitam
Drew Andre A. Martin
Novel
Jangan Jatuh Terlalu Dalam
kingsleigh
Novel
My Real Espresso
Kandil Sukma Ayu
Novel
Mahasantri dan Vespa Bapak
Jahhid Fitrah Alamsyah
Novel
Buah Bibir
Fey Mega
Skrip Film
Kembali Ke Masa Muda
Eva yunita
Flash
Bunga untuk Mama
myollaa
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Bronze
Pohon Kersen dan Kamu
Perdians syah
Cerpen
Luna: Bayangan yang Kembali (Prequel Luna: Jiwa yang Hilang)
Sekar Kinanthi
Novel
Se Kai No Dare Yori Mo Aishiteru
Michaela Noe
Rekomendasi
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Penyerap Emosi
BANYUBIRU
Flash
Patung
BANYUBIRU
Flash
Kata Orang
BANYUBIRU
Flash
Aku Ini Presiden
BANYUBIRU
Flash
Memulai Ulang
BANYUBIRU
Flash
Surat Ramalan
BANYUBIRU
Novel
Daftar Riwayat Luka
BANYUBIRU
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Flash
Filter
BANYUBIRU
Flash
Kiri, Pak!
BANYUBIRU
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Flash
Setting-an
BANYUBIRU
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Flash
Keluarga
BANYUBIRU