Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kembang Api
0
Suka
6,341
Dibaca

Dialah si bungsu kami. Di antara empat bersaudara, laki-laki semua selain dia, dia paling sering dipuja. Katanya matanya seperti anggur yang menggoda, manis sekaligus menuntut pengendalian diri agar tidak mabuk saat mereguknya.

Berulangkali Bapak dan Ibu kuingatkan. Jangan sampai lengah dengan pujian orang-orang. Jangan sampai pongah juga karena anak perempuannya jadi kembang yang diperebutkan. Ibu harus mengajarinya untuk tetap waspada dan Bapak harus menebalkan perisai siaga.

"Nggak papa. Wajar kalau orang-orang puji-puji dia. Laki-laki mana yang akan menyangkal kecantikannya? Toh, adikmu itu juga pasti tahu yang terbaik untuknya." Ibu memberikan pembelaan.

Bapak menanggapi sambil mengunyah membereskan sisa roti dalam rongga mulutnya, "Benar, Sandi, adikmu juga sudah dewasa. Dia sudah bisa jaga diri."

Aku menatap kedua adikku yang lain. Mereka diam tak menanggapi. Satunya mulai sibuk mengurusi anaknya yang belum genap lima tahun. Dari pada membuat gaduh, ia memberikan beberapa batang kembang api.

Ledakan pertama langsung terasa memekakkan, bocah itu dekat sekali dengan mulut pintu. Adik iparku mengomelinya dan menyuruh menjauh. Dia menutup pintu dengan kesal.

Ledakan kedua sudah lebih bersahabat di telinga. Aku tidak begitu membencinya. Aku masih bisa mendengar Bapak dan Ibu memuji-muji si bungsu kami. Mereka tersenyum rekah.

Sampai pada ledakan ketiga, tiba-tiba rumah diserang hening yang mencekam. Suara ledakan di luar mendadak lebih pelan bahkan hampir tidak terdengar. Si bungsu menarik semua mata ke arahnya. Dia mengucapkan sebuah pengakuan.

Ledakan kembang api si bungsu lebih memekakkan. Bapak dan Ibu melongo. Anak perempuannya ternyata gemar bermain api. Bermain api yang pertama menghasilkan jabang bayi. Main api berikutnya memilih waktu pengakuan di malam tahun baru. Pengakuan itu mengundang amarah ibu, mencabik martabat Bapak. Laki-laki penenggak anggur yang di tuang si bungsu telanjur kabur, jabang bayi telah gugur lebur, dan si bungsu memohon ampun dalam sungkur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Maret dan rahasia
haniifa_
Flash
Toxic!
Devi Wulandari
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Di Atas Motor
BANYUBIRU
Novel
SI BURUNG PENYENDIRI
Ahmad Karim
Flash
ISTRIKU
Embart nugroho
Flash
Koin Odong-odong
Putri Rafi
Novel
Sisi Lain Istana
Fitriani
Novel
Sides
Choi
Novel
RESTRAINT
Asoka Biru
Skrip Film
LANDAK TANPA PERSAHABATAN
Senna Simbolon
Komik
Bronze
Mission
varykaart
Skrip Film
Kepingan Hati Milik Anggit (Script)
Yeni Shelpi Aliani
Skrip Film
Lurah Duaratus juta
Rana Kurniawan
Novel
Jeritan Hati Riana, Sang Wanita Simpanan
Bian
Rekomendasi
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Di Atas Motor
BANYUBIRU
Flash
Memulai Ulang
BANYUBIRU
Flash
Tak Hangat Lagi
BANYUBIRU
Flash
Nggak Kenal
BANYUBIRU
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Flash
Penyerap Emosi
BANYUBIRU
Flash
Kata Orang
BANYUBIRU
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Flash
Filter
BANYUBIRU
Flash
Potret Masa Lalu
BANYUBIRU
Flash
Cincin Antik
BANYUBIRU
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Flash
Setting-an
BANYUBIRU