Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kembang Api
0
Suka
2,067
Dibaca

Dialah si bungsu kami. Di antara empat bersaudara, laki-laki semua selain dia, dia paling sering dipuja. Katanya matanya seperti anggur yang menggoda, manis sekaligus menuntut pengendalian diri agar tidak mabuk saat mereguknya.

Berulangkali Bapak dan Ibu kuingatkan. Jangan sampai lengah dengan pujian orang-orang. Jangan sampai pongah juga karena anak perempuannya jadi kembang yang diperebutkan. Ibu harus mengajarinya untuk tetap waspada dan Bapak harus menebalkan perisai siaga.

"Nggak papa. Wajar kalau orang-orang puji-puji dia. Laki-laki mana yang akan menyangkal kecantikannya? Toh, adikmu itu juga pasti tahu yang terbaik untuknya." Ibu memberikan pembelaan.

Bapak menanggapi sambil mengunyah membereskan sisa roti dalam rongga mulutnya, "Benar, Sandi, adikmu juga sudah dewasa. Dia sudah bisa jaga diri."

Aku menatap kedua adikku yang lain. Mereka diam tak menanggapi. Satunya mulai sibuk mengurusi anaknya yang belum genap lima tahun. Dari pada membuat gaduh, ia memberikan beberapa batang kembang api.

Ledakan pertama langsung terasa memekakkan, bocah itu dekat sekali dengan mulut pintu. Adik iparku mengomelinya dan menyuruh menjauh. Dia menutup pintu dengan kesal.

Ledakan kedua sudah lebih bersahabat di telinga. Aku tidak begitu membencinya. Aku masih bisa mendengar Bapak dan Ibu memuji-muji si bungsu kami. Mereka tersenyum rekah.

Sampai pada ledakan ketiga, tiba-tiba rumah diserang hening yang mencekam. Suara ledakan di luar mendadak lebih pelan bahkan hampir tidak terdengar. Si bungsu menarik semua mata ke arahnya. Dia mengucapkan sebuah pengakuan.

Ledakan kembang api si bungsu lebih memekakkan. Bapak dan Ibu melongo. Anak perempuannya ternyata gemar bermain api. Bermain api yang pertama menghasilkan jabang bayi. Main api berikutnya memilih waktu pengakuan di malam tahun baru. Pengakuan itu mengundang amarah ibu, mencabik martabat Bapak. Laki-laki penenggak anggur yang di tuang si bungsu telanjur kabur, jabang bayi telah gugur lebur, dan si bungsu memohon ampun dalam sungkur.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Unperfect Family
Arini Ilma
Skrip Film
Rashid and Rani : Partner in Crime
Rahmatul Aulia
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Novel
MELEPAS HARAP
Deya Nurfadilah
Skrip Film
Jejak-Jejak Renjana
Yayang Putri Ayunda
Flash
Jendela Bertumpuk
Seli Suliastuti
Flash
Bronze
Idola (Isi Jiwa)
Rere Valencia
Skrip Film
reinkarnasi gagal
susi purwaningsih
Novel
Dibalik Kedai Coffee Combi
farhana
Novel
Bronze
On Air
Berthy Adiningsih
Novel
Menggoda Janda
rhee
Skrip Film
Sampul hujan
Ayu Kartika Sari
Flash
Bronze
Kangen
Eva yunita
Novel
Rayla 2.0 Side A (Catatan 2017-2019)
Rivaldi Zakie Indrayana
Novel
Tuan Lori
Adinda Amalia
Rekomendasi
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Tak Hangat Lagi
BANYUBIRU
Flash
Titik Buta
BANYUBIRU
Flash
Memulai Ulang
BANYUBIRU
Flash
Patung
BANYUBIRU
Flash
Kata Orang
BANYUBIRU
Flash
Langkah yang Berani
BANYUBIRU
Flash
Boneka Beruang
BANYUBIRU
Flash
Jangan Paksa Aku Berdoa
BANYUBIRU
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Pesan Singkat
BANYUBIRU
Flash
Potret Masa Lalu
BANYUBIRU
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Flash
Di Atas Motor
BANYUBIRU
Flash
Penyerap Emosi
BANYUBIRU