Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Puput dan ibunya sedang berada di rumah teman akrab ibu Puput. Rumah sederhana ini bukanlah milik teman ibu Puput, melainkan milik orangtua dari teman ibu Puput. Di dalam rumah tua yang sederhana ini tinggal beberapa keluarga, termasuk keluarga teman ibu Puput. Teman ibu Puput yang bernama tante Erni ini menjalankan usaha dagang kecil-kecilan di bidang kuliner bersama ibunya.
Mereka berjulan di teras rumah. Dengan meja kayu kecil dan steling kaca yang diletakkan di atasnya, mereka berjualan berbagai menu kudapan. Mereka mulai menggelar dagangan di sore hari. Ada mie bihun goreng, bubur kacang hijau, bubur sumsum, bolu pandan, bolu tapai, bolu meses, bolu keju parut, bakwan, tahu isi, pastel, combro, dan misro. Kadang tidak semuanya ada sekaligus di satu hari. Menunya sering berganti-ganti. Tapi yang pasti ada setiap hari adalah mie bihun goreng dan beberapa gorengan.
Puput sering disuruh ibunya membeli jajanan di sini bila ia sedang tak ada kegiatan les atau mengaji. Tante Erni adalah langganan ibu Puput meminjam uang. Ibu Puput, selain membuka warung di rumah mereka juga punya usaha kredit barang dan usaha pinjam uang. Jadi sore ini selain mereka bertujuan ingin membeli kudapan, juga sekalian untuk menagih cicilan uang pinjaman.
Hari sudah sangat sore, suhu udara panas sudah mulai turun. Puput dan ibunya sedang duduk di sofa ruang tamu bersama tante Erni, serta ibu dan bapak dari tante Erni. Penganan pesanan mereka sudah berada dalam bungkusan yang kini sedang dipegang oleh Puput. Tante Erni memulai cerita tentang kejadian yang dialami ibunya beberapa minggu lalu.
"Sekitar 3 mingguan lalu kak, ibuk tuh lagi duduk di sini, nungguin laki ku pulang kerja. Kan abang lagi shift malem tuh. Kami semua udah pada tidur di kamar, jadi ibuk sendirian di sini duduk sambil nonton TV. Pintu semua udah dikunci tapi pager cuma di-slot. Eh ibuk ketiduran. Tiba-tiba pintu samping ni kebuka, eh ada orang berdiri di luar pintu."
Ibu dari tante Erni mengangguk-angguk mengiyakan, begitu juga dengan ayah dari tante Erni. Ibu dari tante Erni pun melanjutkan ceritanya, "Iya, jadi ibu ketiduran, TV masih nyala, ntah udah berapa lama tertidur sambil duduk, kok ya terasa ada angin, padahal pintu-pintu udah pada dikunci, semua jendela udah ditutup. Terus ibu kebangun, ibu liat pintu samping kok kebuka, ibu pikir ada yang keluar, atau laki si Erni udah pulang. Tapi kan laki Erni gak pernah bawa kunci. Tiba-tiba udah muncul aja orang berdiri di luar pintu, entah laki entah perempuan gak gitu jelas, karna kayak bayangan item aja gitu. Ibu pikir itu si Heri laki Erni, ibu panggil-panggil namanya, tapi dia gak nyaut. Terus tuh orang melambai-lambai ke ibu. Ibu kucek-kucek mata karna baru bangun tidur kan, mata masih agak burem. Emang bener tuh orang ngelambai-lambain tangannya kayak nyuruh ikut dia gitu. Ya ibu lari aja ke kamar, tak tinggal itu pintu yang masih kebuka."
"Iya. Teriak-teriak dia sampe kamar, bangunin aku." Kata ayah dari tante Erni.
"Panik ibuk. Langsung bangunin bapak." Jelas tante Erni.
"Ya iyalah, orang setan gitu, siapa yang gak takut. Bapak juga dibangunin susah banget, orang udah ketakutan. Pules banget tidurnya." Ibu dari tante Erni melanjutkan kisahnya.
"Ya namanya udah tengah malem, udah pules lah. Tapi pas bangun langsung tak kejer kok ya gak ada, tapi memang pintunya kebuka sih." Si bapak ikut mengisahkan.
"Padahal udah kukunci lo itu pintu. Kok ya bisa kebuka sendiri." Kata si ibu meyakinkan kembali.
"Untung bisa lari ya ke kamar, untung gak pingsan." Ibu Puput mengomentari.
"Sakit besoknya ibuk, kak." Kata tante Erni.
"Iya demam ibuk." Kata si ibu.
"Oh, kesapa ya berarti." Kata ibu Puput.
Puput merapatkan duduknya pada ibunya. Ia jadi merinding membayangkan kisah itu. Pintu samping yang diceritakan oleh mereka ada di hadapan Puput. Puput memandangi pintu itu dan membayangkan detail peristiwa menyeramkan yang baru saja dikisahkan. Langit sudah mulai kekuningan, azan magrib sebentar lagi berkumandang. Puput ingin segera pulang ke rumahnya.