Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Azan magrib baru saja selesai berkumandang. Ibu Puput bergegas ke pasar guna menjaga toko mereka menggantikan ayah Puput yang akan menunaikan salat magrib.
"Mamak berangkat ya. Adeknya mamak bawa, biar jangan ganggu kamu belajar. Kamu belajar ya! Kerjain PR bagus-bagus! Jangan lupa salat magrib dulu!" Ujar ibu Puput.
"Ya...aaah. Adek jangan dibawa lah mak!" Pinta Puput memelas.
"Enggak. Dia ikut sama mamak aja. Nanti kalo dia di sini, gangguin kamu belajar lagi."
"Sini aja dia. Gak ganggu kok dia."
"Ah enggak. Nanti kamu gak belajar pasti kalo dia ada di sini. Udah salat sana! Magrib itu waktunya singkat."
Ibu Puput berangkat sambil menuntun tangan kecil adik batitanya itu. Puput kesal ditinggal sendirian di rumah. Tadi ketika ibunya sedang mempersiapkan diri untuk berangkat, Puput telah mengambil wudhu di kamar mandi. Kini ia tinggal sendiri. Tangannya sudah memegang sajadah dan mukena.
Namun karena kesal, ia melemparkan sajadah ke belakang ia berdiri, ia tak mau melaksanakan salat magrib. Kakinya melangkah ke area depan rumah yang merupakan warung kecil milik ibunya. Ia bergegas mengambil chiki kesukaannya yang sejak beberapa hari lalu ia pandang-pandangi. Ia tak bisa dengan bebas mengambil jajanan bila ibunya ada di rumah, sebab ibunya sangat pelit. Ayahnya juga kadang-kadang mengadu pada ibunya jika Puput mengambil jajanan yang harganya tergolong mahal.
Kini, mumpung ia sendirian di rumah ia akan memakan chiki yang sudah diidam-idamkannya selama beberapa hari terakhir ini. Ia juga akan menyimpannya 1 di tas, sebagai bekal untuk di sekolah besok. Tetapi sebelum tangannya mengambil chiki itu, ia juga menginginkan cokelat batang mini. Maka kedua tangannya segera beralih ke toples berisi cokelat, mengambilnya satu buah, membuka bungkusnya, lalu mengunyahnya. Kedua tangannya kembali menutup toples.
Ketika tangannya sedang merapatkan tutup toples, ekor matanya melihat seperti ada bayangan hitam melayang di tempat ia melemparkan sajadahnya tadi. Ia segera menolehkan kepalanya, melihat pada bayangan hitam tadi. Tapi, ia tak melihat apa pun. Hanya ada sajadah yang tadi ia lempar. Sajadah berwarna dominan hitam itu tergeletak di lantai. Puput berpikir, "Apa sajadahnya yang melayang?"
Sebab tak mungkin sajadah yang beberapa menit lalu ia lempar, terjatuhnya baru sekarang.
"Tapi kalo memang itu sajadah yang melayang, kok gak ada bunyi suara kain jatuh ya? Itu sajadah kan lumayan tebal. Tadi aja pas kulempar, ada kok bunyi kain jatuh." Pikirnya lagi. Puput menyesal tidak jadi melaksanakan salat magrib. Sebenarnya waktu magrib masih ada. Tapi ia terlalu takut untuk kembali ke bagian dalam rumah.
Walaupun rumahnya sangat sempit, hanya berbentuk lurus dan open space, tapi karena ia masih kelas 1 SD, ia merasa sangat takut menghadapi situasi itu. Suasana di luar rumah kebetulan juga sangat sepi. Tak ada suara dari rumah tetangga di sekitar, kendaraan juga tak ada satu pun yang lewat.
Magrib itu sangat mencekam bagi Puput, sebab ia juga ingat rumor tentang angkernya pohon kecapi dan pohon rambutan tua yang berada tepat di samping rumahnya. Ia urung mengambil chiki kesukaannya itu. Cokelat yang ada dimulutnya saja belum selesai ia kunyah.