Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pensil Untuk Lira
8
Suka
7,383
Dibaca

Kelas hening, pelajaran baru dimulai. Semua anak menunduk menulis, hanya Lira yang duduk diam. Jemarinya saling menggenggam di atas meja kosong.

“Mana pensilmu?” tanya Bu Guru lembut.

Lira memandang wajah gurunya itu, lalu tersenyum malu. “Belum punya, Bu,” jawabnya lirih.

Beberapa anak berbisik, ada yang tertawa pelan.

“Katanya sekolah, tapi nggak punya pensil.”

Lira memilih diam.

***

“Ibu boleh Lira minta uang buat beli pensil?”

Dengan wajah sayu, Ibunya hanya terdiam lelah, matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Nanti ya, Nak kalau sudah ada rezeki.”

Pertanyaan itu sudah Lira ulang sampai tiga kali di hari yang berbeda. Jawabannya tetap sama.

Ia juga tahu, ayahnya sering pulang dengan wajah kusut saat larut dengan tangan kosong atau kadang hanya membawa sedikit uang setelah menukar plastik-plastik hasil pulungan di jalanan. Ia juga tahu, sakit asmanya saja, selama ini sudah membuat ibunya harus menebus obat puskesmas berkali-kali.

Malam itu, Lira memilih tidak bertanya lagi.

***

Sepulang sekolah, Lira memilih berbaring, nafasnya sedikit sesak dan tubuhnya lemah, tapi hatinya jauh lebih letih.

“Aku cuma mau satu pensil,” gumamnya sebelum matanya terpejam.

Dalam tidurnya, cahaya lembut muncul. Seorang perempuan berdiri di hadapannya, bersinar cemerlang.

“Lira,” katanya, “aku bisa memberimu semua pensil yang kau inginkan, berapapun yang kamu mau.”

Mata Lira berbinar. “Benarkah?”

“Ya. Tapi, kau harus ikut denganku sekarang.”

Lira terdiam. Ia membayangkan kelasnya, tawa teman-temannya, dan meja kosongnya yang akhirnya akan terisi bukan hanya dengan sebatang pensil, tapi banyak, banyak sekali.

Namun perlahan, wajah sedih ibunya muncul di benaknya. Lalu ayahnya yang lelah, tapi selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Lira tahu mereka sayang padanya, tapi mungkin memang begitulah nasibnya.

“Kalau aku ikut,” suara Lira pelan, “Ibuku bakal sedih ya?”

Perempuan itu tersenyum, tak menjawab.

Lira menggenggam bajunya sendiri. Pikirannya kalut dan bimbang, sebelum akhirnya berkata,

“Aku mau pulang aja. Aku nggak apa-apa nggak punya pensil, asal aku masih bisa lihat Ibu sama Ayah.”

Cahaya itu perlahan memudar, redup dan akhirnya menghilang.

***

Pagi harinya, ibu masuk ke kamar Lira.

“Lira, bangun, Nak, nanti terlambat sekolah.”

Tangan ibunya mengguncang lembut punggungnya.

Tubuh kecil itu masih terbaring tenang.

“Lira?”

Sunyi, tak ada jawaban.

Di samping tangannya, ada sebuah catatan di secarik kertas kecil, dengan tulisan goyah,

“Lira sudah punya pensil sekarang, Bu. Tapi Lira pilih pulang ya Bu. Lira sayang Ibu.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
Turtles All The Way Down
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Cerita-Cerita Bis Ibukota
Silvarani
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Novel
PRECIOUS (Setiap Detik Berharga)
Ambar MF
Novel
Bronze
Jerat Luka Di Lembah Duka
Tirabella
Novel
BEGIN AGAIN
Lapia Kunchay
Novel
Bronze
Dimensi Seperempat Abad
Ningrati Sumarto
Novel
Bronze
Before Metamorphosis
THIRZA EUNIKE SILABAN
Flash
Gelap
Ika nurpitasari
Novel
A Little Hope
Triyanti Fitri
Flash
Secangkir Kopi tak Bersuara
Ilestavan
Flash
Terjadwal
WN Nirwan
Flash
Menang Lagi
Hanif Ilham Mahaldi
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
Bronze
Di Sebuah Showroom Mobil
Nuel Lubis
Rekomendasi
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Dari Langit
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bandang
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg
Flash
Sebuah Pohon Sebuah Hidup
Hans Wysiwyg
Flash
Monoton
Hans Wysiwyg
Flash
Biar Tuhan Saja yang Menulis Ceritanya
Hans Wysiwyg
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Cerpen
THE CHOICE
Hans Wysiwyg
Flash
Kisi-Kisi
Hans Wysiwyg
Flash
Bahasa Cinta
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg