Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pensil Untuk Lira
8
Suka
8,360
Dibaca

Kelas hening, pelajaran baru dimulai. Semua anak menunduk menulis, hanya Lira yang duduk diam. Jemarinya saling menggenggam di atas meja kosong.

“Mana pensilmu?” tanya Bu Guru lembut.

Lira memandang wajah gurunya itu, lalu tersenyum malu. “Belum punya, Bu,” jawabnya lirih.

Beberapa anak berbisik, ada yang tertawa pelan.

“Katanya sekolah, tapi nggak punya pensil.”

Lira memilih diam.

***

“Ibu boleh Lira minta uang buat beli pensil?”

Dengan wajah sayu, Ibunya hanya terdiam lelah, matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Nanti ya, Nak kalau sudah ada rezeki.”

Pertanyaan itu sudah Lira ulang sampai tiga kali di hari yang berbeda. Jawabannya tetap sama.

Ia juga tahu, ayahnya sering pulang dengan wajah kusut saat larut dengan tangan kosong atau kadang hanya membawa sedikit uang setelah menukar plastik-plastik hasil pulungan di jalanan. Ia juga tahu, sakit asmanya saja, selama ini sudah membuat ibunya harus menebus obat puskesmas berkali-kali.

Malam itu, Lira memilih tidak bertanya lagi.

***

Sepulang sekolah, Lira memilih berbaring, nafasnya sedikit sesak dan tubuhnya lemah, tapi hatinya jauh lebih letih.

“Aku cuma mau satu pensil,” gumamnya sebelum matanya terpejam.

Dalam tidurnya, cahaya lembut muncul. Seorang perempuan berdiri di hadapannya, bersinar cemerlang.

“Lira,” katanya, “aku bisa memberimu semua pensil yang kau inginkan, berapapun yang kamu mau.”

Mata Lira berbinar. “Benarkah?”

“Ya. Tapi, kau harus ikut denganku sekarang.”

Lira terdiam. Ia membayangkan kelasnya, tawa teman-temannya, dan meja kosongnya yang akhirnya akan terisi bukan hanya dengan sebatang pensil, tapi banyak, banyak sekali.

Namun perlahan, wajah sedih ibunya muncul di benaknya. Lalu ayahnya yang lelah, tapi selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Lira tahu mereka sayang padanya, tapi mungkin memang begitulah nasibnya.

“Kalau aku ikut,” suara Lira pelan, “Ibuku bakal sedih ya?”

Perempuan itu tersenyum, tak menjawab.

Lira menggenggam bajunya sendiri. Pikirannya kalut dan bimbang, sebelum akhirnya berkata,

“Aku mau pulang aja. Aku nggak apa-apa nggak punya pensil, asal aku masih bisa lihat Ibu sama Ayah.”

Cahaya itu perlahan memudar, redup dan akhirnya menghilang.

***

Pagi harinya, ibu masuk ke kamar Lira.

“Lira, bangun, Nak, nanti terlambat sekolah.”

Tangan ibunya mengguncang lembut punggungnya.

Tubuh kecil itu masih terbaring tenang.

“Lira?”

Sunyi, tak ada jawaban.

Di samping tangannya, ada sebuah catatan di secarik kertas kecil, dengan tulisan goyah,

“Lira sudah punya pensil sekarang, Bu. Tapi Lira pilih pulang ya Bu. Lira sayang Ibu.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
SEKALI DUDUK
Sukma Nurrizki
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
Rafilus
Noura Publishing
Novel
Bronze
Hari Bersama Raka
Mittah Latif
Novel
Cinta di negara jam
Author WN
Novel
Gold
PBC Holidays
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Cerita-Cerita Bis Ibukota
Silvarani
Flash
Bronze
Putus
B12
Flash
Bayi yang Tidak Pernah Dilahirkan
Hilda Resina
Novel
Me & Dream
Linasariasniyanti
Novel
Gold
Bukan Salah Waktu
Bentang Pustaka
Novel
Surat - surat tak Berbalas
Pitri Yanti
Novel
Ikatlah Ilmu Dengan Tulisan
Qalamaynda
Flash
Iri hati
Cahaya HusMa
Flash
Bahagia Bukan Hanya Soal Rasa (surat 2)
Lail Arahma
Rekomendasi
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Flash
Luruh Bersama Angin
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kenapa Harus Dia?
Hans Wysiwyg
Flash
BAJINGAN
Hans Wysiwyg
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Flash
Traitor
Hans Wysiwyg
Flash
Mimpi Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Flash
Pengawal Pribadi
Hans Wysiwyg
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
Penyihir Tanpa Mantra
Hans Wysiwyg
Cerpen
Harmonika Déjà vu
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg
Cerpen
Janji Desember
Hans Wysiwyg