Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pensil Untuk Lira
2
Suka
27
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kelas hening, pelajaran baru dimulai. Semua anak menunduk menulis, hanya Lira yang duduk diam. Jemarinya saling menggenggam di atas meja kosong.

“Mana pensilmu?” tanya Bu Guru lembut.

Lira memandang wajah gurunya itu, lalu tersenyum malu. “Belum punya, Bu,” jawabnya lirih.

Beberapa anak berbisik, ada yang tertawa pelan.

“Katanya sekolah, tapi nggak punya pensil.”

Lira memilih diam.

***

“Ibu boleh Lira minta uang buat beli pensil?”

Dengan wajah sayu, Ibunya hanya terdiam lelah, matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Nanti ya, Nak kalau sudah ada rezeki.”

Pertanyaan itu sudah Lira ulang sampai tiga kali di hari yang berbeda. Jawabannya tetap sama.

Ia juga tahu, ayahnya sering pulang dengan wajah kusut saat larut dengan tangan kosong atau kadang hanya membawa sedikit uang setelah menukar plastik-plastik hasil pulungan di jalanan. Ia juga tahu, sakit asmanya saja, selama ini sudah membuat ibunya harus menebus obat puskesmas berkali-kali.

Malam itu, Lira memilih tidak bertanya lagi.

***

Sepulang sekolah, Lira memilih berbaring, nafasnya sedikit sesak dan tubuhnya lemah, tapi hatinya jauh lebih letih.

“Aku cuma mau satu pensil,” gumamnya sebelum matanya terpejam.

Dalam tidurnya, cahaya lembut muncul. Seorang perempuan berdiri di hadapannya, bersinar cemerlang.

“Lira,” katanya, “aku bisa memberimu semua pensil yang kau inginkan, berapapun yang kamu mau.”

Mata Lira berbinar. “Benarkah?”

“Ya. Tapi, kau harus ikut denganku sekarang.”

Lira terdiam. Ia membayangkan kelasnya, tawa teman-temannya, dan meja kosongnya yang akhirnya akan terisi bukan hanya dengan sebatang pensil, tapi banyak, banyak sekali.

Namun perlahan, wajah sedih ibunya muncul di benaknya. Lalu ayahnya yang lelah, tapi selalu tersenyum setiap kali melihatnya. Lira tahu mereka sayang padanya, tapi mungkin memang begitulah nasibnya.

“Kalau aku ikut,” suara Lira pelan, “Ibuku bakal sedih ya?”

Perempuan itu tersenyum, tak menjawab.

Lira menggenggam bajunya sendiri. Pikirannya kalut dan bimbang, sebelum akhirnya berkata,

“Aku mau pulang aja. Aku nggak apa-apa nggak punya pensil, asal aku masih bisa lihat Ibu sama Ayah.”

Cahaya itu perlahan memudar, redup dan akhirnya menghilang.

***

Pagi harinya, ibu masuk ke kamar Lira.

“Lira, bangun, Nak, nanti terlambat sekolah.”

Tangan ibunya mengguncang lembut punggungnya.

Tubuh kecil itu masih terbaring tenang.

“Lira?”

Sunyi, tak ada jawaban.

Di samping tangannya, ada sebuah catatan di secarik kertas kecil, dengan tulisan goyah,

“Lira sudah punya pensil sekarang, Bu. Tapi Lira pilih pulang ya Bu. Lira sayang Ibu.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Novel
SEJAK
sisniwati
Skrip Film
Three Days Special
choirin nofianti
Skrip Film
Izinkan Hatimu Tertautkan Cintaku
Muhammad Ismail
Skrip Film
Rose Queen Requiem
Rahmat Gunawan
Novel
Bright Blue Autumn
Ariesta Mansoer
Novel
DAYU
Jastien Christy
Novel
Morning Coffee
Ang.Rose
Skrip Film
It's Me, J
Maria Ulfa
Skrip Film
Si Kaki Besi
Mira Herani
Skrip Film
Yang Tak Terlihat
Herman Siem
Flash
Bronze
Sampai Jumpa Lagi
Rahmawati
Flash
Bronze
Baru Saja Patah
B12
Flash
Be yourself
Ika nurpitasari
Novel
Smile Schedule
Jihannie
Rekomendasi
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pamit
Hans Wysiwyg
Flash
KAMU ITU CANTIK CLARISA
Hans Wysiwyg
Flash
DIA BUKAN MAVERICK
Hans Wysiwyg
Flash
Tetonam
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Tertawan Hati
Hans Wysiwyg
Flash
Jarak yang Menyisakan Rindu
Hans Wysiwyg
Cerpen
Aku Dalam Cermin
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg
Flash
Pacar Lima Ratus Langkah
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Selamanya
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg