Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore itu, langit masih malu-malu memerah di ufuk saat Nabila, Aisya, dan Kania duduk melingkar di bawah pohon mangga dekat madrasah di pesantren mereka.
“Pokoknya hari ini kita harus jujur,” kata Nabila sambil menyilangkan tangan. “Nggak boleh ada yang nutupin lagi.”
“Setuju. Kita kan sahabatan, nggak boleh ada rahasia,” kata Aisya mengangguk serius.
Kania menyipitkan mata. “Iya sih, tapi jangan sampai nanti malah jadi awkward ya.”
Tiba-tiba saja suasana langsung hening mendadak, lalu, mereka bertiga saling melirik, dan dalam hati masing-masing bilang,
“Semoga mereka nggak suka dia juga.”
***
“Gini aja,” usul Aisya. “Kita cerita ciri-cirinya dulu, nggak usah sebut nama.”
“Setuju!” sahut Kania cepat.
Nabila mulai duluan, wajahnya langsung berubah serius menerawang seperti orang habis lihat drama Korea.
“Dia itu… alim. Suaranya adem banget. Kalau ngomong, rasanya kayak, dosa-dosa aku auto minta ampun.”
Aisya langsung menegakkan badan. “Eh, kok mirip ya?”
Kania buru-buru nimbrung, agak panik.
“Kalau pun mirip, belum tentu orang yang sama. Soalnya yang aku suka itu, tinggi, pakai kacamata, terus kalau senyum, duh, kayak diskon pahala.”
Nabila membeku, Aisya juga ikut membeku.
“Eh,” kata Aisya pelan. “Yang aku suka juga gitu, terus dia baru datang dari kota, katanya sih lulusan sarjana.”
Selama beberapa detik mereka bertiga saling menatap.
“Jangan-jangan, ” bisik Kania.
“Ustaz Yusuf?” kata Nabila dan Aisya bersamaan.
Sunyi tiba-tiba menyergap, daun jatuh dramatis gara-gara mereka bertiga berisik, lalu,
“YA ALLAH!!!” mereka bertiga teriak bareng.
***
“Astaghfirullah, ini nggak boleh terjadi,” Nabila pegang kepala.
“Ini bukan cinta segitiga lagi, ini segitiga sama sisi!” kata Kania dramatis.
Aisya malah mulai panik. “Gimana kalau kita saingan?
"Nggak! Persahabatan kita lebih penting!” Timpal Kania.
“Setuju!” kata Nabila. “Kita harus fair.”
“Fair gimana?” tanya Kania.
Aisya berpikir keras, lalu menjentikkan jari.
“Kita lihat siapa yang paling ‘berjodoh’ lewat tanda-tanda!”
“Contohnya?” Nabila penasaran.
“Kalau dia lebih sering lihat siapa pas ngajar, berarti itu pertanda,” jelas Aisya yakin, padahal sebenarnya ngarang.
“Masuk akal!” kata Kania, tak mikir lagi jawabnya.
***
Akhirnya mereka masuk ke kelas dengan deg-degan. Ustaz Yusuf sudah berdiri di depan.
“Assalamu’alaikum,” suaranya lembut.
“Wa’alaikumussalam,” jawab murid-murid, termasuk tiga hati yang mulai lomba maraton untuk jatuh cinta.
Sepanjang pelajaran, mereka bertiga sibuk sendiri, Nabila pura-pura nyatet, padahal tiap dua detik ngintip. Aisya sok fokus, tapi senyumnya nggak berhenti. Kania bahkan duduk paling depan, gaya paling siap jadi menantu idaman.
Mereka mulai memperhatikan pertanda yang mereka diskusikan di luar barusan.
“Eh, dia tadi lihat aku nggak sih?” bisik Nabila.
“Kayaknya lihat aku deh,” balas Aisya.
“Perasaan ke aku deh,” sahut Kania.
Mereka hampir debat, sampai kemudian suara Ustad Yusuf memecah suasana.
“Baik, sebelum kita lanjut,” kata Ustaz Yusuf tiba-tiba. “Saya ingin menyampaikan sesuatu.”
Tiga-tiganya langsung duduk tegak. Jantung mereka nggak karuan, deg deg deg degan.
“Karena saya baru di sini, mungkin belum banyak yang tahu,”
Nabila pegang tangan Aisya, Aisya pegang tangan Kania, Kania pegang tas sendiri karena panik.
“…sebenarnya saya sudah menikah.”
Tiba-tiba waktu berhenti tanpa diberi aba-aba, nafas mereka bertiga juga ikutan berhenti.
“Kebetulan,” lanjut beliau santai, “istri saya juga akan mulai mengajar di madrasah ini minggu depan.”
Kania pelan-pelan menutup wajah pakai buku, Nabila menatap kosong ke depan seperti habis kehilangan arah hidup, Aisya malah nyengir.
“Alhamdulillah,” bisik Aisya. “Persahabatan kita selamat.”
Nabila langsung nyeletuk, “Selamat apanya? Kita bertiga baru saja patah hati berjamaah!”
Kania menghela napas panjang. “Ini pertama kalinya aku gagal sebelum mulai.”
***
Bel pulang berbunyi, mereka bertiga keluar kelas dengan langkah lemas. Tapi tiba-tiba Aisya berhenti.
“Eh, tunggu.”
“Kenapa lagi?” tanya Nabila lesu.
Aisya menyeringai.
“Berarti kita bebas dong cari yang lain?”
Kania langsung angkat kepala. “Maksudnya?”
Aisya menunjuk ke arah halaman, di mana ada seorang pemuda baru lagi ngobrol dengan penjaga sekolah.
“Yang itu gimana?”
Nabila dan Kania langsung menoleh, hening sejenak karena pandangan mereka bertiga fokus ke seseorang di depan mereka.
“Fix, itu aku duluan!” kata Nabila.
“Eh nggak, aku lihat duluan!” bantah Kania.
Aisya geleng-geleng kepala.
“Ya Allah, belum juga move on.”
Begitulah, tiga sahabat itu, belum sempat jatuh cinta dengan benar, sudah langsung gagal massal, lalu berpindah target secara berjamaah, persis kutu loncat cari peluang.
Persahabatan mereka? ya pasti utuh dong. Tapi harga diri mereka, paling tidak sedang dalam proses pemulihan. Sebelum nanti patah hati lagi, atau salah satu dari mereka dapat gebetan.