Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sejak pertama melihatnya di platform itu, Aku langsung jatuh cinta. Jangan ditanya apa logikanya, sebab kalau hati sudah memilih, kita nggak berdaya menolaknya.
Belakangan ketika rindu menjadi-jadi, aku kewalahan menanggungnya. Maunya dekat, tapi nggak bisa. Maunya nemenin dia, tapi juga nggak bisa. Apalagi kemarin dia bilang sakit. Ternyata meski jauh, aku bisa merasakan sedih dan sakitnya, di sini, di dalam hati.
Apalagi setelah aku tahu bagaimana masa lalunya, langsung membuatku tambah sayang sama dia. Rasanya jarak malah membuatku merasa nggak bisa bantu dia apa-apa.
Akhirnya hati dan rinduku memilih jalani aja semuanya. Selama dia baik-baik saja, sehat, dan bahagia aku juga harus merasa begitu. Nggak boleh berlebihan khawatirnya, sekalipun karena alasan sayang juga.
Apa semua memang harus sesakit itu?
Tapi aku nggak pernah menyesal mengenal Dia, sekalipun membuat rindu jadi sesak begini.
***
Malam jadi saat "ketemu" yang hangat.
“Udah makan?” pesannya sederhana, tapi sudah cukup bikin dadaku berisik.
Lama aku berusaha mendengar detak jantungku sendiri sebelum membalas.
“Udah. Kamu gimana?"
"Masih sakit?”
Tiga titik ketikan muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Seperti perasaanku yang ikut gelisah menunggu.
“Masih dikit. Tapi gapapa kok.”
Aku tahu mungkin ia hanya ingin membuatku merasa tenang.
Di kota yang berbeda, di waktu yang hampir sama, kami sama-sama belajar menahan rindu, cemas, dan keinginan untuk sekadar duduk bersebelahan tanpa harus berkata apa-apa.
“Maaf ya,” tulisku ketika membuka obrolan.
“Kenapa?”
“Karena aku cuma bisa ada sejauh ini.”
Aku lama menunggu jawabannya, mungkin jari-jarinya ikut membeku mengikuti pikirannya.
“Gapapa. Aku juga.”
Padahal, Aku merasa semuanya tidak pernah benar-benar “gapapa.”
Apalagi kalau aku kangen. Semua jadi serba salah, insomnia iya, apalagi saat tertidur ditemani mimpi-mimpi manis bersamanya.
***
Mungkin jarak memang bisa bikin sesakit itu.
Bukan karena cintanya kurang, tapi karena cintanya terlalu banyak sampai jarak terasa seperti hukuman.
Tapi aku memilih nggak mau berhenti.
Karena kalau harus memilih nahan sakitnya rindu, aku akan tetap milih dia. Gila memang.!