Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dua cangkir teh panas menemani sore itu. Dua perempuan yang beda generasi duduk di bangku teras, menikmati suasana sore yang ramai akan lalu lalang. Mereka mengobrolkan hal-hal random tapi sangat hangat. Obrolan kecil seperti ini adalah seni menjaga komunikasi dengan baik.
"Kalau kamu sama dia seagama pasti mamak restui."
Tiada hujan, ataupun badai yang datang. Sebuah celetuk dari sang mamak tercinta membuat Rere terdiam sesaat.
Mengingatkan sekilas memori Rere bersama dirinya. Kenangan yang telah mereka buat bersama. Isinya hanya hal-hal baik didalamnya. Sebenarnya hal-hal baik itu akan sempurna jika mereka dalam satu agama yang sama.
Perbedaan agama menjadi penyebab hubungan yang belum dimulai itu kandas. Jika diingat kembali, mereka adalah pasangan yang serasi. Tapi sayangnya tuhan tak merestui.
Bisa saja mereka bertindak egois. Tetap bersama tanpa memikirkan perbedaan yang ada. Tapi iman mereka sama kuatnya. Merasa bersalah seperti mengkhianati Tuhannya. Mereka memilih untuk selesai sebelum dimulai. Daripada berjalan tak jelas arahnya kemana.
Lucu ya, kenapa mereka harus dipertemukan hanya untuk dipisahkan?.
Rere menghela nafas dengan berat. Perlu cukup waktu lama untuk melupakan tentang dia yang pernah singgah. Bukan hanya satu tahun atau dua tahun untuk melupakan. Tapi delapan tahun Rere akhirnya bisa mengikhlaskannya.
Ternyata bukan melupakan yang Rere butuhkan. Yang Rere perlu lakukan adalah bagaimana cara dia mengikhlaskan.
"Dia sudah bahagia dengan pacarnya mak, seagama jugaa. Sudah bahagia dia mak."
Rere terdiam, ia kembali menghela nafasnya.
"Rere sudah ikhlas dengan apa yang terjadi Mak. Rere udah ga sakit lagi liat dia bahagia dengan orang lain. Gak tau kenapa mak, Rere justru lega melihat dia bahagia." jelas Rere dengan senyum manisnya.
"Maafin mamak ya Re, dia memang lelaki baik untukmu. Tapi agamanya saja berbeda. Dan memang kamu harus ikhlas karena dia bukan takdirmu." ucap mamak sambil mengelus rambut putrinya itu.