Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Sadarlah Hana, ini bukan dirimu. Tujuan kita bukan untuk ini," desisku.
"Kau salah. Bukankah kita hidup untuk mencari kebahagiaan? Dengan kekuatan ini aku bisa menyerap kebahagiaan semua orang dan menjadi orang paling bahagia di dunia." Hana terbahak-bahak.
"Tidak. Kau tidak akan benar-benar bahagia selama kau hidup dengan merampas kebahagiaan orang lain." Aku mengambil jeda untuk mengatakan ini, tetapi aku tak ingin Hana menyalahgunakan kekuatannya dan menghancurkan dirinya.
Aku mengulurkan tanganku dengan sisa tenaga yang kupunya, "Hana, jika kau ingin bahagia, aku rela jika semua kesedihan, kepahitan dan penderitaanmu kau salurkan kepadaku. Aku ingin kau bahagia dengan cara yang benar. Aku siap membantumu."
Hana tertegun sebentar lalu simpul tipis tergaris di bibirnya. Ia menyambut tanganku tanpa ragu.
Sekarang aku terhubung dengan memori-memori Hana. Kenangan-kenangan yang menyakitkan menyerobot masuk ke dalam pikiranku. Semua air matanya, rasa sepi yang menyelimutinya, dan semua amarah yang berkobar di kedalaman hatinya. Perihnya telah berpindah darinya dan sekarang merayap dan mencabik-cabik perasaanku dengan sakit yang amat sampai mau mati rasanya. Ini adalah belenggu Hana yang berhasil dilepasnya dan sekarang mengikatku dengan sangat kuat. Ia menghisap sisa-sisa kebahagiaan yang aku punya. Melumat kepercayaan diriku tanpa sisa. Aku tergeletak lemah di bawah kakinya.
Hana menarik napas panjang. Di bibirnya tergurat senyum lega, "Selamat meratapi hidup yang menyedihkan, Ratna."