Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
JENDELA KAMAR SEBERANG
8
Suka
7,192
Dibaca

Sudah tiga minggu ini, ritualku selalu sama. Tepat pukul sepuluh malam, aku akan mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan yang pekat, lalu bergerak pelan menuju jendela. Aku tidak butuh alarm. Suara itu—dentingan piano yang mulai merambat masuk lewat celah udara—adalah penanda waktu yang paling sempurna.

Aku menyibak sedikit gordin, menyisakan celah tipis agar pandanganku bisa mencuri lihat ke seberang tanpa pernah tertangkap basah. Di sana, kamar itu selalu menyala hangat, seolah menjadi satu-satunya panggung yang hidup di tengah dunia yang sudah tertidur.

Terlihat Laki-Laki sudah duduk tegak di depan pianonya. Jari-jarinya tidak sekadar menekan tuts; mereka menari, seolah sedang membisikkan rahasia pada dawai-dawai di dalamnya. Di sampingnya, Perempuan yaitu sang adik duduk disampingnya dengan senyuman manis. Saat mulutnya terbuka dan satu nada rendah meluncur keluar, udara di kamarku yang tadinya mati, tiba-tiba terasa hidup.

Mereka tidak tahu ada aku di sini. Mereka tidak tahu ada sepasang mata yang diam-diam mencuri kehangatan dari balik kaca.

Dan aku? Aku lebih memilih membusuk dalam diam daripada memecahkan gelembung indah itu.

Tiap malam, aku cuma bisa duduk bersandar di kaki tempat tidur, membiarkan melodi mereka merayap ke kulitku, mengisi sudut-sudut kamarku yang biasanya cuma berisi sunyi yang menyesakkan. Kadang, tanpa sadar bibirku ikut bergumam, mencoba masuk ke dalam harmoni mereka—berpura-pura kalau malam ini, aku bukan orang asing. Berpura-pura kalau aku adalah bagian dari mereka.

Tapi, selalu ada bagian yang paling menyakitkan.

Tepat sebelum lagu itu mencapai nada terakhirnya—saat aku hampir saja merasa "penuh"—lampu di seberang sana mendadak padam. Klik.

Semuanya kembali gelap. Suara itu hilang, menyisakan denging sunyi yang lebih tajam dari sebelumnya. Aku tertegun di lantai, sendirian lagi. Namun, entah kenapa, ada senyum tipis yang tertinggal di bibirku. Sebuah rasa nyaman yang aneh, yang tidak tahu harus kunamai apa.

Mungkin memang benar; kesepian tidak selamanya minta ditemani. Kadang, ia cuma butuh sesuatu untuk didengarkan dari kejauhan, tanpa perlu memiliki.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira
Novel
Bronze
Noir et Blanc
roomiegallery
Flash
Bronze
Mbah Karto
Ayumi Hara
Novel
Gold
Senandung Talijiwo
Bentang Pustaka
Novel
Bubblegum
Heyfebruary
Novel
Lady Rose
Fadhilot
Novel
Gold
The Age of Innocence
Mizan Publishing
Novel
Dark Side
Intan Nur Syaefullah
Komik
Iridescent
sweet potato
Skrip Film
DIVA
Lewi Satriani
Flash
Kesetiaan Seorang Kakek
M Fadly Hasibuan
Flash
Cerita Sang Kakak
Syifaanur Al Fitria
Novel
Bronze
Saksi Terakhir
DENI WIJAYA
Novel
HARU
Aram
Flash
Bronze
Janji Setelah Nikah
syafetri syam
Rekomendasi
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira
Flash
gak tau aturan
Putri Akira
Flash
GEMA
Putri Akira
Flash
Si Belang
Putri Akira
Flash
Kalah Sebelum Start
Putri Akira
Cerpen
Kelebihan Hormon Keberuntungan
Putri Akira