Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
JENDELA KAMAR SEBERANG
0
Suka
85
Dibaca

Sudah tiga minggu ini, ritualku selalu sama. Tepat pukul sepuluh malam, aku akan mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan yang pekat, lalu bergerak pelan menuju jendela. Aku tidak butuh alarm. Suara itu—dentingan piano yang mulai merambat masuk lewat celah udara—adalah penanda waktu yang paling sempurna.

Aku menyibak sedikit gordin, menyisakan celah tipis agar pandanganku bisa mencuri lihat ke seberang tanpa pernah tertangkap basah. Di sana, kamar itu selalu menyala hangat, seolah menjadi satu-satunya panggung yang hidup di tengah dunia yang sudah tertidur.

Terlihat Laki-Laki sudah duduk tegak di depan pianonya. Jari-jarinya tidak sekadar menekan tuts; mereka menari, seolah sedang membisikkan rahasia pada dawai-dawai di dalamnya. Di sampingnya, Perempuan yaitu sang adik duduk disampingnya dengan senyuman manis. Saat mulutnya terbuka dan satu nada rendah meluncur keluar, udara di kamarku yang tadinya mati, tiba-tiba terasa hidup.

Mereka tidak tahu ada aku di sini. Mereka tidak tahu ada sepasang mata yang diam-diam mencuri kehangatan dari balik kaca.

Dan aku? Aku lebih memilih membusuk dalam diam daripada memecahkan gelembung indah itu.

Tiap malam, aku cuma bisa duduk bersandar di kaki tempat tidur, membiarkan melodi mereka merayap ke kulitku, mengisi sudut-sudut kamarku yang biasanya cuma berisi sunyi yang menyesakkan. Kadang, tanpa sadar bibirku ikut bergumam, mencoba masuk ke dalam harmoni mereka—berpura-pura kalau malam ini, aku bukan orang asing. Berpura-pura kalau aku adalah bagian dari mereka.

Tapi, selalu ada bagian yang paling menyakitkan.

Tepat sebelum lagu itu mencapai nada terakhirnya—saat aku hampir saja merasa "penuh"—lampu di seberang sana mendadak padam. Klik.

Semuanya kembali gelap. Suara itu hilang, menyisakan denging sunyi yang lebih tajam dari sebelumnya. Aku tertegun di lantai, sendirian lagi. Namun, entah kenapa, ada senyum tipis yang tertinggal di bibirku. Sebuah rasa nyaman yang aneh, yang tidak tahu harus kunamai apa.

Mungkin memang benar; kesepian tidak selamanya minta ditemani. Kadang, ia cuma butuh sesuatu untuk didengarkan dari kejauhan, tanpa perlu memiliki.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sanubari
Imajiner
Flash
Pulau Seniman
Berkat Studio
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira
Novel
Bronze
ANAK PUNGUT
Onet Adithia Rizlan
Komik
Bronze
KUNTILANAK FALLING IN LOVE
Dy williams7
Skrip Film
Cinta tak terhitung Cinta tiada ujung...
Siti Fatimah
Skrip Film
Musim Semi dan Kisah yang Hilang dalam Mimpi
Arini Putri
Skrip Film
Sajak.
Kevin Fauzan Arjuna
Flash
Janji Kayu Manis
Athar Farha
Flash
Bronze
Lelaki Penghias Pohon Natal Rumahan
Silvarani
Novel
Wassalamu'alaikum, Billal
krasivaya
Skrip Film
Cintai Cinta
Rina F Ryanie
Skrip Film
MENCARI MADRASAH
Nur Purnama Kasni
Skrip Film
Hello, Brother!
Lilis Alfina Suryaningsih
Cerpen
Bronze
Pemuda Pemburu Sunyi, Tiga Kucing dan Seekor Kelabang
Titin Widyawati
Rekomendasi
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira