Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Summer yang Tak Pernah Hilang
4
Suka
7,560
Dibaca

Bonn, di kota yang jauhnya ribuan mil dari Jakarta itu, aku belajar tentang rindu dan tentang seseorang yang tak pernah benar-benar kumiliki.

Namaku Ray.

Aku pertama kali melihatnya bukan di kampus, tapi di bandara.

Hari itu aku baru tiba di Jerman. Tubuhku masih lelah didera jetlag setelah penerbangan panjang dari Jakarta. Di antara antrean panjang penumpang bandara Cologne Bonn, aku melihat seorang gadis berdiri beberapa meter di depanku. Ia mengenakan sweter berwarna krem, coat panjang, dan menarik koper hitam dengan gerakan tenang.

Aku tidak tahu kenapa, gadis itu membuatku tertarik, selain wajah cantiknya.

Padahal ia hanya berdiri, atau sesekali menunduk sambil tersenyum kecil pada layar ponselnya.

Aku sempat berpikir dia orang Indonesia. Tapi Bonn adalah kota internasional. Terlalu banyak kemungkinan.

Seperti semua pertemuan singkat di bandara, kami berlalu begitu saja. Aku tak memikirkan apapun selain sekadar sebuah kebetulan.

Semua berakhir tanpa nama, tanpa cerita.

***

Musim semi di Bonn menjadi terasa aneh bagiku. Tidak benar-benar hangat, tapi juga tidak lagi dingin.

Aku mulai terbiasa dengan rutinitas kuliah, jalan kaki melewati gedung-gedung tua, dan duduk sendirian di taman kampus. Hidupku sederhana, aktifitasku tak lebih dari kelas, perpustakaan, lalu kembali ke apartemen kecilku.

Sampai hari itu datang.

Hari ketika musim hampir berubah menjadi summer.

Aku masuk ke ruang kelas sedikit terlambat. Profesor sudah memulai kuliah. Kursi-kursi hampir penuh kecuali satu di baris tengah.

Dan di situlah aku melihatnya lagi.

Gadis di bandara itu.

Sweter hoodie-nya kini berwarna biru muda. Ia sedang mencatat sesuatu dengan serius, alisnya sedikit berkerut, seolah dunia di sekitarnya tidak mampu menganggunya.

Jantungku berdegup aneh. Lalu Aku memilih duduk di kursi kosong di sampingnya.

Ia melirik sekilas, lalu tersenyum sopan.

“Indonesia?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk, agak gugup. “Iya.”

“Kirain cuma aku,” katanya, sedikit lega.

Entah mengapa, sejak saat itu, dunia di Bonn tidak lagi terasa asing, lebih berwarna.

***

Namanya Anaya.

Aku tahu itu dari perkenalan singkat setelah kelas. Ia berasal dari keluarga yang kalau boleh jujur terlalu “tinggi” untuk orang sepertiku.

Ayahnya pengusaha besar. Ibunya sering muncul di majalah, dan dia sendiri ya, dia seperti definisi perempuan sempurna yang berjalan.

Tapi yang membuatku jatuh hati bukan itu, melainkan hal-hal kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain.

Caranya tertawa pelan saat sesuatu tidak terlalu lucu, atau caranya mengucapkan “iya” dengan nada lembut.

Aku paling suka ketika ia bertanya "gimana-gimana?" dengan senyum dan binar mata indahnya yang selalu membuatku tak bisa berkata-kata.

Begitu juga caranya memperlakukan semua orang dengan hormat, tanpa terlihat dibuat-buat.

Kami tidak langsung dekat.

Aku terlalu sadar diri. Aku hanya Ray mahasiswa biasa dengan beasiswa, hidup hemat, dan masa depan yang belum jelas.

Sementara dia seperti seseorang yang sudah ditentukan untuk bersinar sejak lahir.

Kami mulai sering bertemu tanpa direncanakan.

Di perpustakaan, di kantin, atau di taman dekat sungai Rhein saat matahari mulai hangat.

Kadang kami duduk bersama, membicarakan hal-hal sederhana.

Tentang makanan Indonesia yang kami rindukan, atau tentang panasnya Jakarta yang tiba-tiba terasa mewah di tengah udara dingin Bonn.

Begitu juga tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar, dan kami harus sedikit berbisik menceritakannya.

“Kalau lagi kangen rumah, kamu ngapain?” tanyaku suatu sore.

Dia menatap langit yang mulai keemasan.

“Aku masak,” jawabnya. “Walaupun rasanya nggak pernah sama.”

Aku tertawa kecil. “Aku malah seringnya cuma lihat foto makanan.”

Dia ikut tertawa.

Saat itulah aku merasa bisa merasakan hidup yang begitu indah. Di negeri orang, bersisian dengan perempuan bidadari.

Tapi semakin dekat aku dengannya, semakin jelas batas itu.

Dia tidak pernah menjauh, tapi juga tidak pernah benar-benar mendekat.

Seperti seseorang yang tahu garisnya dan memilih untuk tidak melewatinya. Aku juga tidak pernah berani.

Perasaan ini kusimpan rapi, seperti musim yang hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dimiliki.

***

Suatu hari menjelang puncak summer, kami berjalan bersama di tepi Rhein.

Angin hangat berhembus pelan. Orang-orang tertawa diantara selingan alunan musik jalanan yang terdengar samar.

“Ray,” katanya tiba-tiba.

“Iya?”

“Aku mungkin pulang lebih cepat.”

Langkahku terhenti. “Kenapa?”

“Orang tua memintaku pulang,” jawabnya singkat. “Ada hal yang harus aku urus di Jakarta.”

Aku mengangguk, berusaha terlihat biasa saja. Padahal sesuatu di dalam dadaku runtuh perlahan.

“Oh, ya sudah. Semoga lancar.”

Dia tersenyum, tapi kali ini berbeda.

“Terima kasih ya sudah jadi teman di sini.”

Teman.

TEMAN.

Aku tersenyum juga, meskipun kata itu rasanya lebih tajam dari belati manapun. Mungkin karena aku terlalu berharap padanya.

***

Hari kepergiannya datang tanpa seremoni.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji.

Hanya pesan singkat:

"Jaga diri di Bonn, ya."

Aku membalas:

"Kamu juga di Jakarta."

Selesai.

Sesederhana itu.

***

Sekarang, setiap summer datang, aku selalu kembali ke tempat-tempat yang pernah kami datangi.

Bangku di taman.

Perpustakaan kecil di sudut kampus.

Dan tepi Rhein yang pernah menjadi saksi percakapan sederhana kami.

Orang bilang musim panas adalah tentang kehangatan. Tapi bagiku, summer selalu membawa satu hal, kenangan tentang seseorang yang datang seperti cahaya dan pergi tanpa pernah benar-benar bisa kugenggam.

Namanya Anaya.

Entah kenapa, sampai sekarang aku masih menyimpannya bukan sebagai luka. Lebih tepatnya Aku selalu jatuh cinta bila mengingat saat summer bersamanya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (5)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Cerpen
BUNGA KUNING KAMBOJA BALI
Lian lubis
Novel
Romantika Cinta Dinar - Buku-1
TOTO M. RIANTO
Cerpen
Bronze
Elegy of Miss Cute Antagonist
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Suara Puitis Pacar Online-ku
Bulan Separuh
Komik
A Cactus Among The Flowers
widya azhar
Flash
Bronze
Ketika Laut dan Langit Saling Mencinta
Silvarani
Novel
Gold
19+
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Debar Hujan
Annisa fathonah
Cerpen
Bronze
After 15 Years Ago? You Safe Me From Your heart?
Maina Suryani
Novel
Gold
Miss Heartbreaker
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
KISAH TAK TERLUPA
Linda Fadilah
Novel
DIANTARA SENJA KITA
Febrianti Dwi A
Cerpen
I Love You but
Nadiah Alwi
Novel
Bronze
Sepatu Butut Keramat
M Syalu
Rekomendasi
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
Sebuah Pohon Sebuah Hidup
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg
Novel
Stalker Misterius KOZMIC BLUES
Hans Wysiwyg
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Flash
Biar Tuhan Saja yang Menulis Ceritanya
Hans Wysiwyg
Flash
SUMMON LEVEN
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Selamanya
Hans Wysiwyg
Flash
Suatu Hari di Toko
Hans Wysiwyg