Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Summer yang Tak Pernah Hilang
4
Suka
7,995
Dibaca

Bonn, di kota yang jauhnya ribuan mil dari Jakarta itu, aku belajar tentang rindu dan tentang seseorang yang tak pernah benar-benar kumiliki.

Namaku Ray.

Aku pertama kali melihatnya bukan di kampus, tapi di bandara.

Hari itu aku baru tiba di Jerman. Tubuhku masih lelah didera jetlag setelah penerbangan panjang dari Jakarta. Di antara antrean panjang penumpang bandara Cologne Bonn, aku melihat seorang gadis berdiri beberapa meter di depanku. Ia mengenakan sweter berwarna krem, coat panjang, dan menarik koper hitam dengan gerakan tenang.

Aku tidak tahu kenapa, gadis itu membuatku tertarik, selain wajah cantiknya.

Padahal ia hanya berdiri, atau sesekali menunduk sambil tersenyum kecil pada layar ponselnya.

Aku sempat berpikir dia orang Indonesia. Tapi Bonn adalah kota internasional. Terlalu banyak kemungkinan.

Seperti semua pertemuan singkat di bandara, kami berlalu begitu saja. Aku tak memikirkan apapun selain sekadar sebuah kebetulan.

Semua berakhir tanpa nama, tanpa cerita.

***

Musim semi di Bonn menjadi terasa aneh bagiku. Tidak benar-benar hangat, tapi juga tidak lagi dingin.

Aku mulai terbiasa dengan rutinitas kuliah, jalan kaki melewati gedung-gedung tua, dan duduk sendirian di taman kampus. Hidupku sederhana, aktifitasku tak lebih dari kelas, perpustakaan, lalu kembali ke apartemen kecilku.

Sampai hari itu datang.

Hari ketika musim hampir berubah menjadi summer.

Aku masuk ke ruang kelas sedikit terlambat. Profesor sudah memulai kuliah. Kursi-kursi hampir penuh kecuali satu di baris tengah.

Dan di situlah aku melihatnya lagi.

Gadis di bandara itu.

Sweter hoodie-nya kini berwarna biru muda. Ia sedang mencatat sesuatu dengan serius, alisnya sedikit berkerut, seolah dunia di sekitarnya tidak mampu menganggunya.

Jantungku berdegup aneh. Lalu Aku memilih duduk di kursi kosong di sampingnya.

Ia melirik sekilas, lalu tersenyum sopan.

“Indonesia?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk, agak gugup. “Iya.”

“Kirain cuma aku,” katanya, sedikit lega.

Entah mengapa, sejak saat itu, dunia di Bonn tidak lagi terasa asing, lebih berwarna.

***

Namanya Anaya.

Aku tahu itu dari perkenalan singkat setelah kelas. Ia berasal dari keluarga yang kalau boleh jujur terlalu “tinggi” untuk orang sepertiku.

Ayahnya pengusaha besar. Ibunya sering muncul di majalah, dan dia sendiri ya, dia seperti definisi perempuan sempurna yang berjalan.

Tapi yang membuatku jatuh hati bukan itu, melainkan hal-hal kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain.

Caranya tertawa pelan saat sesuatu tidak terlalu lucu, atau caranya mengucapkan “iya” dengan nada lembut.

Aku paling suka ketika ia bertanya "gimana-gimana?" dengan senyum dan binar mata indahnya yang selalu membuatku tak bisa berkata-kata.

Begitu juga caranya memperlakukan semua orang dengan hormat, tanpa terlihat dibuat-buat.

Kami tidak langsung dekat.

Aku terlalu sadar diri. Aku hanya Ray mahasiswa biasa dengan beasiswa, hidup hemat, dan masa depan yang belum jelas.

Sementara dia seperti seseorang yang sudah ditentukan untuk bersinar sejak lahir.

Kami mulai sering bertemu tanpa direncanakan.

Di perpustakaan, di kantin, atau di taman dekat sungai Rhein saat matahari mulai hangat.

Kadang kami duduk bersama, membicarakan hal-hal sederhana.

Tentang makanan Indonesia yang kami rindukan, atau tentang panasnya Jakarta yang tiba-tiba terasa mewah di tengah udara dingin Bonn.

Begitu juga tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar, dan kami harus sedikit berbisik menceritakannya.

“Kalau lagi kangen rumah, kamu ngapain?” tanyaku suatu sore.

Dia menatap langit yang mulai keemasan.

“Aku masak,” jawabnya. “Walaupun rasanya nggak pernah sama.”

Aku tertawa kecil. “Aku malah seringnya cuma lihat foto makanan.”

Dia ikut tertawa.

Saat itulah aku merasa bisa merasakan hidup yang begitu indah. Di negeri orang, bersisian dengan perempuan bidadari.

Tapi semakin dekat aku dengannya, semakin jelas batas itu.

Dia tidak pernah menjauh, tapi juga tidak pernah benar-benar mendekat.

Seperti seseorang yang tahu garisnya dan memilih untuk tidak melewatinya. Aku juga tidak pernah berani.

Perasaan ini kusimpan rapi, seperti musim yang hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dimiliki.

***

Suatu hari menjelang puncak summer, kami berjalan bersama di tepi Rhein.

Angin hangat berhembus pelan. Orang-orang tertawa diantara selingan alunan musik jalanan yang terdengar samar.

“Ray,” katanya tiba-tiba.

“Iya?”

“Aku mungkin pulang lebih cepat.”

Langkahku terhenti. “Kenapa?”

“Orang tua memintaku pulang,” jawabnya singkat. “Ada hal yang harus aku urus di Jakarta.”

Aku mengangguk, berusaha terlihat biasa saja. Padahal sesuatu di dalam dadaku runtuh perlahan.

“Oh, ya sudah. Semoga lancar.”

Dia tersenyum, tapi kali ini berbeda.

“Terima kasih ya sudah jadi teman di sini.”

Teman.

TEMAN.

Aku tersenyum juga, meskipun kata itu rasanya lebih tajam dari belati manapun. Mungkin karena aku terlalu berharap padanya.

***

Hari kepergiannya datang tanpa seremoni.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji.

Hanya pesan singkat:

"Jaga diri di Bonn, ya."

Aku membalas:

"Kamu juga di Jakarta."

Selesai.

Sesederhana itu.

***

Sekarang, setiap summer datang, aku selalu kembali ke tempat-tempat yang pernah kami datangi.

Bangku di taman.

Perpustakaan kecil di sudut kampus.

Dan tepi Rhein yang pernah menjadi saksi percakapan sederhana kami.

Orang bilang musim panas adalah tentang kehangatan. Tapi bagiku, summer selalu membawa satu hal, kenangan tentang seseorang yang datang seperti cahaya dan pergi tanpa pernah benar-benar bisa kugenggam.

Namanya Anaya.

Entah kenapa, sampai sekarang aku masih menyimpannya bukan sebagai luka. Lebih tepatnya Aku selalu jatuh cinta bila mengingat saat summer bersamanya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (5)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Novel
Gold
Surat cinta dari rindu
Noura Publishing
Flash
Pamanku Pendiam
Dirman Rohani
Novel
Cinta dan Salib, di Langit Bandung
Pena Akara
Novel
Under Jakarta Skies
Yukino Chiba
Novel
Bronze
Akad!
Akhmad Qurtubi
Novel
PUTRI SENJA DAN REMAH ROTI
Maz Li
Novel
Selatan : Sebelas Anak Sultan
Alwinn
Novel
Chasing The Next Door
Arisyifa Siregar
Flash
Secret love
almirah Yuliyanti
Novel
Kehidupan sekolah
fabian
Cerpen
One Time Whisper
Adinda Amalia
Cerpen
Bronze
Cinta Bukan Permainan
Nuel Lubis
Novel
Jodohku di Tangan Orang Tuaku
Lolita Alvianti susintaningrum
Cerpen
Bronze
Sandiwara Cinta yang Berakhir
Ridwan Albakri
Rekomendasi
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Flash
Laras
Hans Wysiwyg
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Flash
Traces Left Behind
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pamit
Hans Wysiwyg
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg
Flash
Traitor
Hans Wysiwyg
Flash
Bahasa Cinta
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Flash
Tetonam
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH BERTABUR BAN
Hans Wysiwyg
Flash
Suatu Hari di Toko
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg