Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ingat Laras si gadis payung?, kenalkan aku Davian, gebetannya.
***
Sore itu, kami duduk di bangku taman. Langit cerah. Tidak ada hujan.
Tapi tentu saja Laras tetap bawa payungnya.
“Astaga, panas aja nggak, hujan juga nggak, ngapain sih?” aku mengeluh.
“Ini bukan soal cuaca,” jawabnya tenang.
“Terus?”
“Ini soal estetika hidup.”
Aku menatapnya datar. “Kamu butuh bantuan.”
Dia tertawa kecil. “Ih, apa sih, kamu aja yang belum paham seni.”
Aku ingin membalas, tapi urung.
Karena saat itu, Laras tiba-tiba memiringkan payungnya sedikit ke arahku.
Jadi sekarang kami berdua berada di bawah satu payung yang sama.
“Biar apa?” tanyaku.
“Biar kamu nggak kepanasan.”
“Aku nggak”
“Diam,” potongnya cepat. “Nikmati aja.”
Aku diam.
Tiba-tiba aku merasa payung itu tidak seaneh yang kupikir.
Karena setiap kali hujan turun, atau bahkan saat langit cerah sekalipun, Aku tahu, akan selalu ada satu payung yang terbuka untukku.
Dan di bawahnya, ada Laras yang terus menggodaku, menertawakanku, dan diam-diam mencintaiku dengan cara paling sederhana, dan ternyata aku menyukai caranya itu.
***
Beberapa hari kemudian, hujan turun.
Deras banget.
Aku berdiri di depan rumah, menunggu ojek, ketika tiba-tiba sebuah payung muncul di atas kepalaku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
“Tumben nggak bawa payung sendiri,” kata Laras.
Aku mendengus. “Aku bukan kolektor payung.”
“Makanya hidup kamu kurang warna.”
Aku menoleh padanya. Rambut Silky Straight Hair-nya sedikit basah di ujung. Tapi senyumnya tetap sama.
“Laras,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Kalau kalau suatu saat kamu harus pilih.”
Dia langsung memotong. “Kamu cemburu lagi ya?”
Aku diam.
Dia menatapku beberapa detik. Menyelidik sambil memincingkan mata menatapku, lalu mengangguk-angguk dan tersenyum kecil, bukan senyum jahil seperti biasa, tapi kali ini lebih lembut.
“Davian,” katanya pelan, “kamu tahu nggak kenapa aku suka payung?”
Aku menggeleng.
“Karena payung itu selalu datang sebelum hujan jadi masalah.”
Aku mengernyit masih tidak paham.
Dia melanjutkan, “Dan kamu selalu ada sebelum aku merasa sendirian.”
Aku terpaku, masih tetap mikir dan bingung, meski diam-diam berisik riang di hatiku.
“Cowok itu mungkin mirip kamu,” katanya lagi, santai. “Tapi dia nggak pernah bisa jadi kamu.”
Tiba-tiba hatiku merasa hangat. Rasa cemburu yang pernah menggumpal menyublim entah kemana.
"Makin kamu ngambek, kamu bikin aku gemes Dev. Kamu kayak Tetonam."
"Hah Tetonam, klub bola Inggris, apa hubungannya?"
"Itu Tottenham, Tottenham Hotspur, ini Tetonam Dev, beda jauh kayak bumi dan langit."
"Terus?"
"Sabar aku jelasin, Tetonam itu slangnya orang Korea untuk nyebutin cowok yang auranya itu maskulin benget, percaya diri, pemberani, dan berkharisma kayak kamu." Aku goyah, hatiku berisik riang, tapi aku sembunyikan di balik senyum yang aku buat secuek yang aku bisa.
Laras lalu mengangkat payungnya sedikit lebih tinggi, mendekat.
“Lagipula,” bisiknya pelan, “yang pertama kali kena panah aku itu kamu.”
Aku tersenyum.
“Dan aku nggak pernah meleset.”
Aku tertawa kecil. “Sombong.”
“Iyaaa,” katanya cepat. “Tapi akurat kan, cinta kan sama aku??.” Ujarnya manja sambil menjajari jalanku.
Aku memilih berjalan meninggalkannya dalam hujan dan dia mengejarku sambil menarik bahuku, berusaha melihatku tersenyum malu-malu.
***
Kriiiiing! tiba-tiba hape laras berdering.
"Bentar ya Dev, Jovi nelpon," ujarnya sambil berbalik badan memunggungiku.
"Iya Jo, lagi di jalan nih. Boleh!, kita ketemuan di tempat biasa kan?" Laras langsung menutup hapenya, dan buru-buru mengambil payung lain dari tasnya.
"Boleh ya?" Aku hanya menjawabnya dengan kedikan bahu.
"See you Devian sayang," ujarnya sambil berlalu.
Ngapain lagi sih selebgram sialan itu, runtukku dalam hati.