Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Nanti kita beli ya..."
"Nanti bisa jadi milik kita, kok."
"Nanti pasti akan kesampaian juga."
Sederet kalimat itu adalah mantra yang selalu diucapkan Bapak. Sebuah janji yang digantungkan di awang-awang setiap kali aku melapor bahwa buku tulisku sudah habis, atau saat aku tertunduk lesu karena seragam olahragaku jadi yang paling beda serta paling kusam di antara teman-teman sekelasku yang lain, atau ketika beberapa guru menegur agar orang tuaku dapat membelikanku seragam batik dan buku-buku paket ku sendiri alih-alih meminta teman semeja ku untuk berbagi buku paket denganku, atau juga, ketika aku menyodorkan selembar kertas administrasi study tour yang ujung-ujungnya hanya berakhir jadi pajangan di atas meja makan rumah kami.
Alhasil, dari semua laporan yang kusampaikan di tengah wajah lelah Bapak yang baru saja pulang siaran dari sebuah stasiun radio swasta di Karawang, lebih banyaknya menguap begitu saja. Tak ada yang terealisasi.
Alhasil, aku belajar menjadi seorang "kurator" masa lalu. Aku terpaksa menghapus catatan di buku tulisku, lembar demi lembar, hanya agar aku punya ruang kosong untuk mencatat pelajaran hari itu. Merelakan materi pelajaran yang sudah kutulis sebelumnya hilang begitu saja.
Alhasil, aku terbiasa berdiri kaku menahan malu saat guru olahraga menegurku karena masih memakai baju olahraga bekas lungsuran tetangga yang bukan dari sekolahku sendiri.
Alhasil pula, aku pun hanya sanggup jadi penonton setia dari balik jendela kelas. Menatap punggung teman-temanku yang naik ke bus study tour dengan tawa yang terasa sangat jauh dari jangkauanku.
Aku sadar, penghasilan Bapak memang jauh dari kata cukup. Aku masih ingat jelas lebaran tahun lalu, Bapak mengajakku ke mall dekat rumah kami untuk memilih sepasang baju baru.
Namun, saat pilihanku sudah ada di tangan, Bapak tidak langsung membawanya ke kasir.
Bapak justru menyuruhku menyembunyikan baju itu di deretan paling belakang gantungan, seolah ingin memastikannya aman dari pandangan orang lain.
Lalu saat itu, Bapak mengajakku keliling kota. Bukan untuk menikmati senja menjelang buka puasa, melainkan untuk menemaninya mencari pinjaman dari satu kenalannya ke kenalan lain demi membeli sepasang baju lebaran pilihanku saat itu.
Hingga suatu hari, Mbah datang dan mengajakku tinggal di Jakarta.
Di usiaku yang akan menginjak sepuluh tahun pada bulan Juli itu, aku memutuskan ikut.
Bayangan tinggal dan bersekolah di Jakarta menjadi alasan utamaku mengiyakan ajakan si Mbah pindah ke rumah nenekku yang terkenal galak, namun sebenarnya punya caranya tersendiri untuk menunjukkan rasa pedulinya.
Anehnya, ternyata ada kebiasaan di Karawang yang tak dapat hilang begitu saja ketika akhirnya aku bersekolah di Jakarta.
Suatu hari, saat buku tulisku habis, aku tidak langsung melapor kepada Mbah untuk minta dibelikan buku tulis yang baru.
Aku kembali menjadi penghapus yang tekun.
Satu per satu coretan pensil berisi materi pelajaran lama kuhilangkan, menciptakan ruang putih baru agar aku tetap bisa belajar.
Sampai akhirnya, wali kelasku menyadari pola aneh ini dan memanggil si Mbah ke sekolah.
"Bu, maaf, Anya punya kebiasaan menghapus materi pelajaran di buku tulisnya. Apa memang di rumah tidak ada persediaan buku tulis baru?"
Mbah meledak saat kami sampai di rumah. Kemarahannya bukan dalam bentuk pukulan atau benda-benda yang melayang ke arahku—seperti yang dulu sering Bapak lakukan kalau sedang emosi. Ini adalah kemarahan yang penuh rasa tidak habis pikir.
"Kenapa kamu nggak bilang sama Mbah kalau buku tulis habis? Kebiasaan siapa yang kamu bawa sampai minta buku tulis saja kamu tidak berani?"
Aku hanya bisa menunduk. Tak ada air mata.
Bagiku, sejak dulu diam adalah pertahanan terbaik. Namun, kebisuanku justru membuat Mbah makin mendesak menuntut alasan di balik tindakanku yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Akhirnya, dengan suara nyaris tidak mampu keluar, aku menjawab jujur.
"Soalnya dulu waktu di Karawang, Anya terbiasa begitu sama Bapak, Mbah. Bapak hampir nggak pernah beliin Anya buku karena Bapak nggak punya uang. Anya sudah biasa begitu sejak dari Karawang."
Seketika, amarah Mbah luruh. Keheningan menyelimuti ruangan. Aku bisa merasakan hatinya seperti diremas mendengar kenyataan pahit yang keluar dari mulut cucunya dengan nada yang begitu datar—seolah kesulitan materi yang belum seberapa kujelaskan itu adalah sarapanku sehari-hari.
Malam itu, di dalam kamarnya, Mbah menangis dalam diam. Isaknya bergetar tanpa suara.
Sementara aku?
Aku tetap di meja belajar, mengerjakan PR seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi. Bagiku, dipanggil ke sekolah karena ketidakmampuanku dalam segi materi adalah pemandangan biasa. Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut ataupun malu.
Seolah kemiskinan adalah variabel yang sudah menyatu dengan jati diri Anya Valeria.
Namun, sebuah keajaiban kecil datang keesokan harinya.
Mataku terpaku pada sesuatu diatas meja makan.
Disana, sudah berjajar buku tulis baru beserta tumpukan alat tulis lainnya yang selama ini, tidak pernah kumiliki sepanjang aku bersekolah di Karawang.
Namun yang membuat hatiku meringus haru adalah sebuah tumpukan buku tulis baru.
Buku tulis baru yang bersih. Kosong. Dan tebal.
Tiga rangkap sekaligus.
Dan semuanya untukku.
Selama bertahun-tahun aku belajar untuk menjadi kuat dan tidak berperasaan, pertahananku akhirnya runtuh.
Di depan tumpukan buku itu, air mataku jatuh membasahi pipi.
Semua itu milikku.
Benar-benar milikku.
Tanpa harus menghapus masa lalu untuk menuliskan masa depan.