Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Buah dadaku sudah membesar sebesar buah apel. Sekitar tiga bulan lalu aku mendapatkan haid pertamaku. Warnanya merah sekali membuatku hampir pingsan. Untung saja ada ibu yang menemaniku menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhku. Ibu mengajariku mengenakan pembalut dengan benar, membungkus pembalut yang sudah terpakai agar darahnya tidak bercecer, serta cara mencuci celana dalam dari darah haid yang membandel.
Kata ibu begini ketika aku menangis mendapati tubuhku menjadi aneh, "Itu tandanya kamu sudah besar, Nduk. Sudah puber. Kamu akan jadi cantik seperti ibu."
Bibirku melengkung mendengarnya. Aku ingin sekali menjadi cantik seperti ibu. Memakai bibir semerah cabai, pergi ke salon untuk meluruskan rambut, pakai sepatu berhak tinggi yang bikin kaki pegal linu, lalu pergi arisan setiap minggu sambil menenteng tas kecil yang selalu berbeda warnanya.
Kini aku sedang belajar menjadi ibu. Mengoleskan cabai rasa stroberi di bibir keringku, mencatok rambutku dari subuh sebab belum punya uang pergi ke salon, pakai flatshoes karena tidak ingin kakiku pegal linu, serta menyelempangkan tas merah muda yang ku beli di pasar malam.
Aku akan pergi kencan. Teman laki-laki yang mengajakku sudah menunggu di depan rumah. Jantungku berdegup kencang mendengar suara motornya. Rasanya aneh sekali seperti ingin terbang.
Sebelum pergi kencan, aku pergi ke kamar ibu untuk berpamitan. Tetapi aku urungkan karena mendengar suara pria lain dari dalam kamar. Bapak sedang pergi memancing. Jadi suara pria siapa yang berbicara "Dandan yang cantik sayang. Aku jemput di perempatan biasanya. I love you" di dalam kamar ibuku?