Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Dia Namanya Anto
0
Suka
6,695
Dibaca

    Bibi sedang memakan ayam goreng di rumahnya yang sepi, tetapi beberapa suara hembusan di sekitar merangkap ke dalam telinga seperti sejumlah lembaran yang akan tengah dibawa. Lalu, suara ketukan pintu menjatuhkan lembaran tersebut. Dan ayam goreng Bibi pun meloncat dari mulutnya. Tulang dengan sisa daging itu, beristirahat di permukaan piring.

  Bibi beranjak ke pintu utama rumah panggungnya. Langkah sedikit terseok-seok akibat terlalu lama duduk dengan kaki terlipat di lantai. Ototnya belum sempat terenggang. Dan harus berjalan agak sedikit terbirit-birit karena suara ketukan itu berlangsung sengit. Lalu, sedetiknya, pintu pun terbuka. Tatapan Bibi yang semula tidak ada sorot memaknai apapun, menjadi senja tengah menuntut paruhnya.

  "Ibu, jenengan masih ingat saya?"

Dia adalah anak yang Bibi kasih makan dengan ayam goreng dan ikan asin tetapi berujung menghanyut ke dalam sungai. Bibi tidak tahu mengapa anak itu tidak menyelesaikan makanannya, justru bermain ke dalam sungai dan hanya mengikuti arus derasnya sungai. Bibi tidak bisa berteriak melainkan matanya sudah terlanjur penuh pecahan. "Ibu, masih ingat Anto?" tanyanya lagi. Sosok di dalam pakaian bersih, berkemeja. Tubuhnya menjulang tinggi. Anak itu sudah besar. Tampak tidak sekurus dahulu. Pipinya bersih, putih. Matanya mengkilat syahdu. Potongan rambut dahulu yang pendek serta tipis, menjadi riak-riak tebal, menggemaskan. Bibi ingin membelai rambut itu.

Sayangnya, tubuh Bibi masih menjadi benang kisut. Kepalanya membubung entah ke mana. Di tempatnya, Bibi hanya bisa mendoakan sosok anak itu bisa hidup tentram bahagia.

   Bibi tersenyum, Bibi menutup mulutnya. Perlahan, matanya berair lalu menetes hingga menjadi pusaran para buaya.

Anto ikut tersenyum, menyadarkan Bibi untuk sesuatu hal di balik sungai itu.

Bibi mengernyitkan dahi, dan berbicara sendiri.

  "Anto! Baju kecilmu kan masih ada di sungai itu! Di tanah sungai itu, loh, Anto!" Bibi menjerit seketika. "Aku ambilkan dulu, sebentar!" Dengan cucuran air mata, Bibi menoleh ke belakang. "Inyong! Jaga rumah! Aku mau ke sungai dahulu!" lanjutnya. Dan suara dari dalam rumah sesaat menyahut.

"Ngapain Bi ke sungai? Udah malam."

Bibi tampak kebingungan untuk melakukan apa terlebih dahulu.

"Bentar, cari sendalku," katanya pada diri sendiri dengan mata yang menjalar ke lantai kayu. Anto sendiri hanya diam dengan wajah tak kalah bingungnya.

  "Bibi mau ngapain?" Sosok bertelanjang dada dengan mengalungkan sarung itu muncul, dan mengerutkan dahi ke arah Bibi yang terlihat aneh.

Bibi segera mengenakan sendalnya di sudut ruangan, dan menoleh ke Inyong yang hanya diam, termenung ke arah Bibi.

  "Aku mau ambil bajunya Anto, kata dia, namanya Anto. Bukan Iyan," ucap Bibi lalu meraih selendang di gantungan dekat pintu. Inyong diam saja, menatap Bibi. Bibi segera menjubahkan kepalanya dengan selendang. "Aku kembalikan ke Anto, mumpung warga tidak ada ke sungai, dan bilang dia namanya Iyan."

  Inyong segera mengedipkan mata saat Bibi beranjak keluar dari rumah panggung. Lantas, bersuara. "Bibi!"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Menunggu Bulan *Novel*
Herman Siem
Flash
Dia Namanya Anto
ayyy
Flash
Tujuan Maut
Sathya Vahini
Novel
Would you be my queen
Nadilla Karisya agustin
Flash
Pernikahan Kemarin
Miranti
Flash
ABOUT US 'Beautiful Goodbye'
Via S Kim
Cerpen
LILIN
Fredhi Lavelle
Novel
Gold
A [ Aku, Benci & Cinta ]
Coconut Books
Novel
Rumah Adik Kakak
Andre Sore
Novel
Ada Cerita di Sekolah
Awal Try Surya
Cerpen
Bronze
Do'a di langit biru
Azis Sulaeman
Novel
Batas Karsa
Aesya Muhami
Flash
Semangkuk Burjo Sebelum Pulang
Muhammad Zein Hanafi
Cerpen
Bronze
diambang kebencian
nanajemi
Novel
Alfameria
kumiku
Rekomendasi
Flash
Dia Namanya Anto
ayyy
Cerpen
Bronze
Asa yang Merajuk
ayyy
Novel
Percayalah, Kasih
ayyy
Cerpen
Bronze
Pijak, Menertawaimu
ayyy
Novel
Dengarkanlah Gemuruhku, Dhawa
ayyy