Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di jalanan yang lurus, rata-rata para pemotor berlarian diatas 70 kilometer yang bisa menerbangkan pelepah sawit yang tingginya hampir tiga meter.
Meri nama panggilannya, seorang gadis pelajar yang selalu melewati jalan lurus tadi yang harus mempersiapkan diri selama tiga puluh menit perjalanan yang menempuh dari rumah ke sekolah.
Seketika setelah pulang sekolah, Meri sudah berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang menuju rumah, senja sudah mulai terik menyinari bagian barat dengan cuaca terik sore itu dia akan berkelana menerjang jalanan yang sering dia lalui, sebenarnya cuaca hari itu cukup cantik dengan dihiasi langit biru dan oranye yang saling bergandengan.
Meri dengan mood yang tidak fresh sepagi tadi, dengan lelahnya bersekolah sampai fullday, segera mengengkol kereta Supra lamanya hingga berkali-kali sampai menyala. Lalu kereta itu melaju dengan kecepatan biasa sambil melewati pasar sore, sungai kecil, dan sampai ke jalanan aspal yang akan ditempuh berkelok dan memanjang itu.
Belum sampai setengah perjalanan, Meri yang sedang menikmati senja sore yang melindungi wajah imutnya dengan masker dari pada debu kontainer itu tetap melaju santai ditengah jalan lurus persawitan. Tentu dijalan yang pengendara yang sangat minim ini terkadang rasa was-was juga muncul. Dan di hari yang cerah itu muncullah dua para pengendara kereta dengan lajunya menghampiri gadis imut ini.
Mereka berempat ini seolah-olah mengepung Meri dijalanan yang sempit dua arah dengan sambil berteriak usil, "Adek.... Adekkk... Mau Pulang Kemanaa? Ayo sini abang temanin sampe pulang, sampe tidur boleh juga HAHAHA", teriak mereka sambil tertawa satu sama lain.
Meri dengan jiwa santai tadi tiba-tiba terheran diam sambil langsung menambah gas motornya, yang awalnya hanya lari-lari 40 kilometer nambah-menambah sampai 60 kilometer, sampai 80 kilometerr, tapi para lelaki ini tanpa ragu tetap mengejar Meri sampai ketakutan parah yang membuat hijab Meri sampai hampir terbuka.
Dengan ketakutan yang tidak berlebihan, Meri langsung menyingkap maskernya lalu menghadapkan wajahnya ke para lelaki yang sedang sejajar dengan motornya, mulut Meri sudah dibuat mencong seolah seperti orang sumbing dan memerengkan kepalanya dan lalu berteriak ke para lelaki itu " Apa Bangggg?? Abang jangan macam-macam askashaugsuasdjkj", kata Meri dengan Suara sengaunya yang keluar dari mulut yang mencong itu dengan berbicara panjang dan lantang.
Lelaki bandit ini pun langsung melihat mulut mencong sumbing dan langsung mengangkat gasnya meninggalkan Meri dan berteriak "Anjing sumbil Jangkriikk, Babilaaa" kata satu pria dan disambut pria lainnya dengan tambahan "Najisssss, sumbingg cuuuy" sambil mengarahkan mukanya menghindari wajah Meri dan melihat jalanan didepannya.
Akhirnya perasaan lega muncul setelah para lelaki bandit itu meninggalkan Meri, tekanan gas Meri pun diturunkan tidak seperti ditengah2 tadi, dan perasaan yang menyelimuti ketakutan tadi hampir luruh sebagian.
Perjalanan kerumah masih ada seperempat jam lagi, dia harus melewati itu dengan rasa siaga sambil menunggu para pengendara lainnya bersama dengan dia, dan kemudian datanglah beberapa mobil dan motor yang saling berdampingan. Lalu, Meri menyelip diantara mereka, dan perasaan siaga tadi sudah berubah menjadi lega lagi aman.