Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Warna pipimu Saat itu
0
Suka
10
Dibaca

Gema pantulan bola basket di lantai kayu gedung olahraga SMA Nusantara selalu menjadi musik latar yang paling menakutkan bagi Arin. Arin adalah definisi dari "siswi bayangan". Kacamata bulatnya yang sering merosot, rambut dikuncir kuda yang agak berantakan karena beban buku-buku tebal di pelukannya, dan langkah kaki yang selalu berusaha tidak menimbulkan suara.

Di sisi lain dunia—atau setidaknya di sisi lain lapangan—ada Dewa.

Nama yang sangat akurat. Dewa adalah kapten tim basket kebanggaan sekolah. Tinggi, atletis, dengan senyum yang bisa membuat antrean kantin mendadak ricuh. Dan yang paling penting, Dewa adalah kakak kelas yang menurut Arin hanya bisa ia lihat dari kejauhan, melalui celah rak perpustakaan atau dari balik kerumunan koridor.

Sore itu, hujan turun tanpa permisi. Arin terjebak di depan aula olahraga, memeluk tas ranselnya yang berisi tugas kalkulus. Ia harus menyerahkan tugas itu ke ruang guru di seberang lapangan, tapi genangan air membuatnya ragu.

BUM!

Suara bola basket yang menghantam dinding di dekatnya membuat Arin terlunjak. Jantungnya hampir copot. Saat ia menoleh, sosok jangkung dengan jersei bernomor punggung 07 sedang berlari ke arahnya, peluh membasahi keningnya, membuat rambut hitamnya nampak acak-acakkan namun justru terlihat... sangat keren.

"Sori, sori! Bolanya lari sendiri," suara berat itu menyapa.

Arin membeku. Itu Dewa. Dewa sedang bicara padanya. Dewa berada hanya dua langkah di depannya. Arin bisa mencium aroma sisa parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun—khas seseorang yang baru saja bekerja keras.

"E-eh, iya... nggak apa-apa, Kak," cicit Arin. Ia menunduk dalam, menatap ujung sepatunya yang sudah agak usang. Ia bisa merasakan darah berdesir naik ke wajahnya.

Dewa tidak langsung pergi. Ia memungut bola basketnya, tapi matanya tertuju pada kacamata Arin yang berembun karena hawa dingin hujan. "Anak kelas sepuluh ya? Kok belum pulang? Hujan deras lho."

"Mau... mau ke ruang guru, Kak. Tapi nunggu reda sedikit," jawab Arin, masih tidak berani mengangkat wajah.

Dewa terkekeh kecil. Suara kekehannya rendah dan hangat, seperti selimut di musim hujan. "Ruang guru mah jauh kalau lewat sana. Sini, lewat selasar atlet aja, lebih teduh."

Sebelum Arin sempat menolak, tangan besar Dewa sudah berada di bahunya, mengarahkan Arin masuk kembali ke dalam gedung olahraga yang luas. Arin merasa seperti sebuah planet kecil yang mendadak ditarik masuk ke orbit matahari. Panas. Sangat panas.

Mereka berjalan bersisian di koridor samping lapangan yang sepi. Dewa berjalan santai sambil memutar-mutar bola di jarinya, sementara Arin berjalan kaku seperti robot yang kehabisan baterai.

"Namanya siapa?" tanya Dewa tiba-tiba.

"Arin, Kak."

"Arin. Nama yang lucu," Dewa menoleh, memberikan senyum miring yang menghancurkan pertahanan Arin. "Aku Dewa. Tapi kayaknya kamu udah tahu, ya? Anak-anak basket berisik banget soalnya."

Arin hanya mengangguk pelan. Ia ingin sekali menghilang ke dalam lantai kayu saat itu juga. Ia yakin wajahnya sekarang sudah matang seperti tomat.

Tiba-tiba, Dewa berhenti di depan sebuah loker besar. Ia merogoh sesuatu dari dalam tas olahraganya. Sebuah susu kotak rasa stroberi yang masih dingin.

"Buat kamu. Biar nggak pucat-pucat banget kena angin hujan," Dewa menyodorkan susu itu.

Arin menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Kak. Tapi... aku nggak pucat kok."

Dewa mencondongkan tubuhnya, sedikit merunduk agar matanya sejajar dengan mata Arin di balik kacamata bulat itu. Jarak mereka hanya beberapa senti. Arin bisa melihat warna cokelat tua di mata Dewa yang nampak jenaka namun tulus.

"Memang nggak pucat sekarang," bisik Dewa pelan, suaranya mengandung nada menggoda yang sangat halus. "Sekarang malah merah banget. Kamu sakit ya, Rin?"

"Eng—enggak! Cuma... gerah," Arin membela diri, meskipun mereka sedang berada di tengah suhu AC gedung olahraga yang dingin.

Dewa tertawa lepas. "Gerah ya? Padahal lagi hujan begini."

Dewa lalu meraih kacamata Arin yang merosot, membetulkannya dengan ujung jari telunjuknya ke atas pangkal hidung Arin. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik yang manis bagi Arin.

"Rin, tahu nggak? Aku sering lihat kamu di perpustakaan," kata Dewa sambil mulai berjalan lagi.

Arin tersentak. "Hah? Kakak... lihat aku?"

"Iya. Kamu kalau lagi baca buku serius banget, sampai kacamata kamu merosot pun kamu nggak sadar. Aku sering mau nyapa, tapi takut ganggu konsentrasi si 'Juara Umum'," Dewa mengedipkan sebelah matanya.

Arin merasa dunianya jungkir balik. Jadi selama ini, matahari itu juga memperhatikan planet kecil sepertinya?

Mereka sampai di ujung selasar yang terhubung langsung dengan kantor guru. Hujan sudah mulai menipis, menyisakan bau tanah yang menenangkan.

"Nah, sudah sampai. Tugasnya selamat, kamunya nggak basah kuyup," ucap Dewa lega.

Arin berbalik, memberanikan diri menatap Dewa. "Makasih banyak ya, Kak Dewa. Susunya juga... makasih."

Dewa mengacak rambut Arin pelan—sebuah gestur yang sangat santai tapi sanggup membuat Arin merasa seperti Baru saja mendapat lotre. "Sama-sama. Oh iya, besok ada pertandingan semifinal jam empat sore di sini. Datang ya? Aku butuh 'pemandangan tenang' di bangku penonton supaya nggak emosi kalau lawan main kasar."

Arin tertegun. "Aku, Kak? Nonton Kakak?"

"Iya, kamu. Arin yang pipinya warna stroberi," Dewa melambaikan tangan sambil mulai berlari kecil kembali ke tengah lapangan. "Jangan lupa diminum susunya! Sampai ketemu besok!"

Arin berdiri terpaku di depan pintu ruang guru. Ia menggenggam susu kotak itu erat-erat. Dinginnya kotak susu itu tidak mampu mendinginkan pipinya yang kini benar-benar panas membara.

Ia tersenyum, sebuah senyum kecil yang sangat bahagia. Warna pipinya saat itu bukan karena demam, bukan pula karena gerah. Itu adalah warna merah paling jujur yang pernah ia miliki. Warna yang menandakan bahwa mulai hari ini, siswi bayangan itu akhirnya menemukan cahayanya.

Di kejauhan, ia melihat Dewa menoleh sekali lagi sebelum masuk ke lapangan, memastikan Arin benar-benar masuk ke kantor guru. Dan bagi Arin, kalkulus tidak lagi terasa sulit sore itu.

            ****TAMAT****

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Novel
Suga Babe
Alice Gio
Flash
Bronze
Sejatinya Indah
DMRamdhan
Cerpen
Dua Matahari
zain zuha
Cerpen
Bunga Layu di Taman Hati
Starlightvv
Novel
Bronze
BERDAMAI DENGAN LUKA
Tri Tomy Julio
Flash
Bronze
Kalau Sayuran Bisa Ngomong...
Shabrina Farha Nisa
Flash
LONCENG KEMATIAN
DENI WIJAYA
Flash
Bronze
Kau adalah Karya Seni Terindahku
Silvarani
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN ASAP
Indah Fai
Novel
Bronze
Hujan, Embun, dan Samudra
zee astri
Novel
Bronze
GRAY
violia natha
Novel
Cellular Memory
Bramanditya
Skrip Film
Cinta Terlarang
Rana Kurniawan
Flash
Cita, Cinta, dan Realita
Syafira Muna
Rekomendasi
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Kunci kamar nomor 10
lilla safira alhasanah