Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ia memegang tangannya untuk terakhir kali.
Ia melihat ibunya menangis keras, ia ingat bahkan ibunya tidak menangis seperti itu saat kakek meninggal.
Ia melihat adiknya berusaha menahan ibunya yang protes ke tenaga medis saat itu.
Ia terdiam, ia mengutuk dirinya
"Ini salahku, pasti karena doaku."
Sudah setahun ayahnya sakit.
Selama itu juga ia melihat ayahnya menderita.
Selama itu juga ia melihat betapa orangtuanya saling mencintai dengan cara mereka sendiri.
Tahun itu, mungkin tahun yang berat untuk mereka.
Hari-hari terakhir sebelum ayahnya meninggal ia berdoa
"Ya Allah, jika memang engkau menginginkannya, jemputlah. Ia sudah bersih dari dosa, satu tahun sudah engkau bersihkan dosanya."
Di hari itu. Ia melihat ayahnya sudah selesai. Ia mendekatkan diri kemudian berbisik "Yah, kalau memang mau pulang, pulanglah. Kami akan belajar ikhlas."
Setelah itu, ia melihat ayahnya menutup mata selamanya.
Di pemakaman, ia tidak menangis. Ia hanya memperhatikan orang-orang yang terus bilang bahwa ayahnya orang baik.
Ia memastikan, ibu dan adik-adiknya masih sanggup melalui hari itu. Hari itu saja. Sisanya nanti ia pikirkan, katanya.
Sudah 8 tahun berlalu. Ia masih terbayang detik terakhir ayahnya hidup saat menutup matanya. Ia masih terluka.
Orang bilang, waktu menyembuhkan. Tidak. Luka kehilangan seseorang yang sangat berarti selamanya, tidak akan sembuh.
Luka itu selamanya terbuka dan ia hanya berusaha mengobati luka itu sepanjang hidupnya.