Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Orang Gila
4
Suka
7,842
Dibaca

Bapak adalah manusia hebat yang sangat aku banggakan. Beliau selalu bekerja keras demi menafkahi aku, putri satu-satunya. Berbekal otot sekuat baja, bapak memanggul berkarung-karung semen setiap hari. Kulitnya menjadi gelap sekali. Bahkan perutnya mirip seperti coklat batangan yang sering bapak bawakan sepulang kerja.

Setiap kali ditanya kelak aku ingin menjadi apa, aku selalu menjawab ingin menjadi seperti bapak. Tangguh, pekerja keras, dan penuh kasih sayang. Kelak, aku ingin menjadi ibu seperti bapak. Bisa masak makanan enak, menjahit celanaku yang berlubang, dan menceritakan dongeng untukku setiap malam.

"Tapi kamu kan tidak punya ibu," celetuk temanku.

Bibirku terkatup rapat. Kepalaku menunduk melihat puluhan kelereng berkumpul yang berhasil didorong keluar lingkaran dengan satu sentilan.

Memang aku tidak punya ibu. Tidak pernah tahu rupa ibuku seperti apa. Bapak bilang ibu tidak menginginkanku. Jadi aku menganggap bapak seperti ibu.

Ketika kami anak-anak kampung asyik bermain kelereng, seorang perempuan dengan daster compang-camping, rambut berantakan, dan berjalan tanpa alas kaki melewati kami. Dia menggendong boneka menggunakan sewek sambil bersenandung. Cukup merdu. Anakku ayu dewe. Anakku ayu dewe.

Perempuan gila itu memang sering berjalan bebas di kampung kami. Dia baik, tidak mengganggu atau melukai anak-anak. Kebiasaannya hanya berjalan sambil menimang boneka dalam gendongannya.

"Ibuku bilang orang gila itu punya anak," bisik temanku.

"Ke mana anaknya?"

"Dibawa oleh bapaknya."

"Dia gila karena pisah dengan anaknya?"

"Tidak. Dia sudah gila sejak lama," jawab temanku. "Ibuku bilang ada laki-laki yang menjahatinya sampai hamil. Anaknya perempuan, punya tanda lahir berwarna ungu di pusar."

"Bagaimana ibumu tahu?"

"Ibuku membantunya lahiran waktu itu."

"Laki-laki jahat itu tidak dihukum?"

"Tidak. Karena ia mau merawat anak itu."

Setiap hari sejak hari itu aku perlahan menjauh dari bapak. Jarang mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan aku selalu kabur ketika ia mencoba merangkul atau mencium pipiku. Rasa banggaku pada bapak pun perlahan ikut menghilang setiap kali aku bercermin dan melihat tanda lahir berwarna ungu di pusarku.

Ternyata selama ini aku membanggakan orang gila. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Yes, Way
Benita Sulaiman
Flash
Api dalam Hujan
Elysiaaan
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Novel
Di Malam yang Sangat Dingin
Putri Zulikha
Novel
Bronze
Alunan Langkah
Wida Ningsih
Novel
Bronze
Di Sepanjang Rel Kereta
Neneng Hendriyani
Novel
The Little Butterfly
NoThesis
Skrip Film
Pengganti Ayah
Nurbaiti Fitriyani
Cerpen
MELEPASKAN
Darbi Writing Club
Cerpen
Bronze
Rolet dan Pisau Lipat
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
UNTUKMU...
Iman Siputra
Cerpen
Bronze
Menyemai Dongeng
nirjana
Novel
Gold
PBC Holidays
Mizan Publishing
Novel
Eyes
Cumiplutoo
Novel
Bronze
Tak Lekang oleh Waktu
Endah Purwaningsih
Rekomendasi
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia