Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bapak adalah manusia hebat yang sangat aku banggakan. Beliau selalu bekerja keras demi menafkahi aku, putri satu-satunya. Berbekal otot sekuat baja, bapak memanggul berkarung-karung semen setiap hari. Kulitnya menjadi gelap sekali. Bahkan perutnya mirip seperti coklat batangan yang sering bapak bawakan sepulang kerja.
Setiap kali ditanya kelak aku ingin menjadi apa, aku selalu menjawab ingin menjadi seperti bapak. Tangguh, pekerja keras, dan penuh kasih sayang. Kelak, aku ingin menjadi ibu seperti bapak. Bisa masak makanan enak, menjahit celanaku yang berlubang, dan menceritakan dongeng untukku setiap malam.
"Tapi kamu kan tidak punya ibu," celetuk temanku.
Bibirku terkatup rapat. Kepalaku menunduk melihat puluhan kelereng berkumpul yang berhasil didorong keluar lingkaran dengan satu sentilan.
Memang aku tidak punya ibu. Tidak pernah tahu rupa ibuku seperti apa. Bapak bilang ibu tidak menginginkanku. Jadi aku menganggap bapak seperti ibu.
Ketika kami anak-anak kampung asyik bermain kelereng, seorang perempuan dengan daster compang-camping, rambut berantakan, dan berjalan tanpa alas kaki melewati kami. Dia menggendong boneka menggunakan sewek sambil bersenandung. Cukup merdu. Anakku ayu dewe. Anakku ayu dewe.
Perempuan gila itu memang sering berjalan bebas di kampung kami. Dia baik, tidak mengganggu atau melukai anak-anak. Kebiasaannya hanya berjalan sambil menimang boneka dalam gendongannya.
"Ibuku bilang orang gila itu punya anak," bisik temanku.
"Ke mana anaknya?"
"Dibawa oleh bapaknya."
"Dia gila karena pisah dengan anaknya?"
"Tidak. Dia sudah gila sejak lama," jawab temanku. "Ibuku bilang ada laki-laki yang menjahatinya sampai hamil. Anaknya perempuan, punya tanda lahir berwarna ungu di pusar."
"Bagaimana ibumu tahu?"
"Ibuku membantunya lahiran waktu itu."
"Laki-laki jahat itu tidak dihukum?"
"Tidak. Karena ia mau merawat anak itu."
Setiap hari sejak hari itu aku perlahan menjauh dari bapak. Jarang mengobrol dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan aku selalu kabur ketika ia mencoba merangkul atau mencium pipiku. Rasa banggaku pada bapak pun perlahan ikut menghilang setiap kali aku bercermin dan melihat tanda lahir berwarna ungu di pusarku.
Ternyata selama ini aku membanggakan orang gila.