Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Warisan Turun Temurun
2
Suka
6,623
Dibaca

Tahun 1985, umurku 8 tahun. Bapak dan ibu tidak bisa membawaku pergi ke sekolah. Katanya aku cukup di rumah saja menemani ibu yang sedang hamil besar. Jika azan duhur berkumandang, aku pergi mengantarkan rantang tiga tingkat ke tempat bapak bekerja.

Ketika bapak makan bersama rekan-rekannya, diam-diam aku mengambil segenggam cengkeh yang sudah dipetik oleh pekerja, lalu memasukkannya ke dalam saku celana hingga penuh. Bapak yang menyuruhku melakukannya setiap hari selama masa panen sejak umurku masih lima tahun.

Cengkeh hasil curianku itu akan dijual setelah masa panen selesai. Total berat cengkeh kering itu tidak menentu, tergantung ukuran tanganku yang masih masa pertumbuhan. Yang pastinya setiap tahunnya angka di timbangan selalu bertambah.

Tahun pertama aku hanya mendapat 1 kilogram. Tahun kedua 2,5 kilogram, tahun ketiga 4 kilogram, dan tahun ini aku mendapat 6 kilogram. Bapak menerima uang 60 ribu rupiah yang pada jaman itu begitu besar. Uang itu dibelikan sekarung beras, bahan masakan lainnya, serta baju koko untuk aku pergi mengaji.

Dua puluh tahun kemudian, tahun 2005, bermula menjadi buruh sejak bujang, aku akhirnya diangkat menjadi pengawas di kebun cengkeh tempat bapak bekerja dahulu. Selain menjadi pengawas, aku juga ditugasi mengatur upah para pekerja.

Kabar baiknya lagi, aku sudah berumah tangga dan memiliki satu putra berumur 5 tahun. Dia sering ikut aku bekerja, duduk dari kejauhan sambil bermain mobil kayu hasil buatanku.

Aku sangat menyayangi putraku. Di umurnya yang masih kecil dan belum mengenal bangku sekolah, putraku sudah bisa membaca dengan lancar. Kepintarannya itu membuatku bertekad untuk menyekolahkannya hingga ke perguruan tinggi agar ia tidak menjadi sepertiku—tidak berpendidikan.

Memang gajiku menjadi pengawas cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Makan keluargaku terjamin, tetapi tidak dengan biaya pendidikan untuk putraku. Oleh sebab itu aku menggunakan kekuasaanku menjadi pengawas dengan diam-diam mengambil selembar uang dari gaji setiap pekerja.

"Hanya segenggam. Itu tidak seberapa," kata bapak dahulu yang masih ku ingat dan ku pegang kuat.

Tahun demi tahun berjalan begitu cepat. Putraku tumbuh menjadi siswa berprestasi yang selalu menduduki ranking pertama. Dia bahkan memenangkan olimpiade yang membuatnya mendapat beasiswa ke Perguruan Tinggi Negeri di Ibu Kota.

Aku sangat bangga padanya. Semakin bangga ketika di umurnya yang masih muda, beberapa tahun selepas lulus kuliah, ia dilantik menjadi Kepala Dinas Perkebunan di provinsi kami tinggal. Hasil jerih payahnya itu ia berikan padaku dengan merenovasi rumah serta mengirim uang bulanan sehingga aku tidak perlu bekerja lagi.

Rasa bangga pada putraku satu-satunya itu membuat aku tidak bisa berhenti pamer pada rekan kerjaku dahulu.

"Aku bangga sekali dengan putraku. Dia tumbuh dengan baik."

"Kami pun ikut bangga. Masih ingat sekali dia selalu bermain di kebun dan tidur di punggungmu setiap pulang kerja."

Namun rasa bangga itu tidak berlangsung lama ketika stasiun televisi ramai memberitakan kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh pejabat muda.

Itu putraku. Putraku satu-satunya yang selalu aku banggakan.

Istriku terkejut melihat berita itu sampai tidak bisa berhenti menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. "Ini salahku. Aku kurang dalam mendidiknya," ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya yang mengepal terus memukul dadaku.

Aku tidak bisa menenangkan tangisan istriku. Badanku lemas. Lidahku kelu.

Melihat putraku memakai rompi oranye membuatku dipenuhi rasa bersalah. Aku baru teringat bahwa dulu ketika diam-diam mengambil satu lembar uang dari setiap amplop upah pekerja, putraku selalu tertidur di gendonganku. Pernah sekali ia terbangun dan bertanya, "Mengapa diambil Pak? Bukannya itu sama dengan mencuri?"

Dan aku menjawab, "Tidak. Hanya selembar, itu tidak seberapa."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
DAEGAL
Hesti Ary Windiastuti
Novel
Bronze
JAPAN
N. Sabrina Putri
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Cerpen
Bronze
The Butterfly
Kandil Sukma Ayu
Novel
Theory: The Reason I'm Single
Dhincaa
Novel
Sepucuk Surat
Zia Faradina
Flash
Matahari Tak Pernah Lelah
Sulistiyo Suparno
Flash
Waktu
Ika nurpitasari
Novel
Bronze
Sudah Tiba Saatnya
Martha Melank
Skrip Film
(Bukan) Mimpi Buruk
diannafi
Skrip Film
Bintang SMA 102
Yorandy Milan Soraga
Skrip Film
Meisje
Abe Ruhsam
Flash
SHIKI -Thanatos, Eros, dan yang Memainkan Mereka-
Kosong/Satu
Flash
12
Impy Island
Flash
Tongkat, Payung, dan Kulit Kacang
Desto Prastowo
Rekomendasi
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia