Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tertegun sejenak. Baru saja tadi, ekor mataku menangkap sosok seseorang yang familiar. Napasku sedikit tertahan. Aku memberanikan diri untuk benar-benar menengok. Barangkali penglihatanku sedang menipuku barusan.
Deg!
Oh, ternyata benar dia. Hatiku seketika berdesir. Ingatan lama kembali menguak di kepalaku. Tiba-tiba saja, gaun cantik yang ada di tanganku kehilangan daya tariknya bagiku.
Satu ... Dua ... Tiga ...
Aku menengok sekali lagi. Kali ini aku memandang dengan jelas. Dia berdiri disana.
Namun, ia tidak sendiri. Ia bersama seorang wanita yang berparas cantik. Rambut hitam bergelombang wanita itu sempat membuatku sedikit iri. Kulit putihnya juga membuatku malu. Tapi, tinggi wanita itu tidak beda jauh denganku.
Sekilas mereka terlihat cocok. Sungguh sebuah pemandangan yang cukup mengganggu bagiku sekarang. Siapa wanita itu? Pacar barunya? Tunangan? Jangan-jangan istrinya?
Aku mulai berpikir keras. Aku tidak ingat ia punya adik perempuan. Sejak tadi secara diam-diam aku terus memperhatikan mereka. Entah mengapa rasa penasaran masih mengganjal di dalam hatiku. Kenapa hatiku merasa sedikit berat?
"Sayang? Kamu jadi mau beli yang ini?"
Aku tersentak kaget. Kepalaku berputar kearah suara bariton tadi. Aku mendapati seorang pria berkulit cokelat manis. Ketika ia mengangkat tangannya dan menggaet pundakku, cincin di jarinya terpampang jelas di mataku. Sejenak aku merasa silau.
Aku menundukkan kepala. Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah. Oh, pikiran gila apa yang baru saja merasukiku? Bagaimana bisa aku berpikir demikian di hadapan pasanganku? Aku sudah sinting rupanya!
Dalam hati aku mulai merutuki kebodohanku. Pikiran kecilku mulai menasihati diri sendiri. Aku berkata pelan dalam hati, "Veona, hidup akan selalu berlalu dengan cepat. Kamu sudah mendapatkan pasangan yang baik. Bagaimana bisa kamu mendustakan nikmat yang kamu dapatkan sekarang?"