Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lantai kayu di lorong rumah tua itu mengerit, bukan karena injakan kaki, melainkan seolah-olah fondasi rumah itu sendiri sedang menggeliat dalam tidur yang gelisah. Elias berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai kayu hitam yang diletakkan di sudut ruang tamu. Cermin itu adalah warisan, kata mereka, satu-satunya benda yang selamat dari kebakaran rumah kakek buyutnya. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela kaca patri melemparkan bayangan aneh di permukaan cermin yang sedikit buram dan bergelombang.
Bulu kuduk di tengkuk Elias meremang. Udara di sekitarnya mendadak dingin, jauh lebih dingin daripada malam musim gugur di luar. Sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana, baru saja melintas di sudut matanya, di dalam cermin.
Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan tersumbat. "Siapa di sana?" tanyanya, suaranya parau, hampir tidak lebih dari bisikan yang gemetar.
Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya detak jantungnya sendiri yang berpacu liar di dada, seperti genderang perang yang bertalu-talu.
Elias memberanikan diri, melangkah satu tapak lebih dekat ke cermin. Ia menyipitkan mata, mencoba menembus kegelapan di dalam pantulan. Wajahnya sendiri menatap balik, pucat dan ketakutan, mata yang biasanya jernih kini tampak gelap dan cekung.
Tapi ada sesuatu yang salah. Elias menyadari itu dengan kejutan yang menyentak. Tangan kanannya terangkat, jari-jarinya menyentuh bingkai cermin yang dingin. Namun, pantulannya di cermin itu… tangan kanannya tetap diam di samping tubuh, sementara tangan kirinya terangkat, perlahan, jari-jarinya perlahan merayap menuju wajahnya sendiri, menuju mata kiri pantulan itu.
Napas Elias tercekat. Ia mencoba mundur, memutar tubuhnya, tapi otot-ototnya terasa kaku, terpaku oleh pemandangan mengerikan itu.
"Elias..." Sebuah suara berbisik dari dalam cermin, suara yang mirip dengan suaranya sendiri, tapi terdengar jauh, terdistorsi, seolah-olah datang dari kedalaman air yang gelap. "Kenapa kau meninggalkanku di sini?"
Sosok di dalam cermin itu mulai berubah. Wajahnya perlahan membusuk, kulitnya mengelupas seperti kertas tua, memperlihatkan daging yang menghitam dan tulang rahang yang menyeringai. Mata kirinya, yang sekarang disentuh oleh jari-jari pantulannya, mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah gelap, yang menetes perlahan ke bingkai cermin yang retak.
Elias menjerit, tapi suaranya terperangkap di tenggorokan, hanya erangan tertahan yang keluar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk, manifestasi dari kelelahan dan kesedihan yang selama ini ia pendam.
Ketika ia membuka mata kembali, cermin itu kembali normal. Hanya ada pantulan dirinya yang ketakutan, napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahi. Namun, di sudut mata kanannya, di luar bingkai cermin, ia melihat sesuatu yang lain. Sebuah tangan yang kurus dan pucat, dengan jari-jari yang panjang dan kuku yang tajam, perlahan muncul dari kegelapan lorong, merayap menuju dirinya, menuju tengkuknya yang masih meremang.
Elias menyadari, dengan ngeri yang melumpuhkan, bahwa apa yang ia lihat di cermin bukanlah masa depan, melainkan cerminan dari apa yang sedang terjadi, tepat di belakangnya, di dunia nyata.