Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dusun Daun di pinggiran kota, lebih dekat dengan pabrik daripada permukiman berisi manusia modern.
Pabrik itu pun memunggungi dusun kami yang tanpa ciri khas tertentu. Suara deru mesin dan riuh rendah suara manusia terdengar dari dhuha sampai senja, lima kali sepekan.
Banyak pemuda dusun mengais rejeki menjadi buruh di sana. Tapi ada pula yang mendapat keuntungan lebih dari penduduk kebanyakan.
Dialah pak Sugih.
Seperti namanya, dia keturunan keluarga sugih alias kaya raya. Pintar mencari peluang meraup uang tepatnya.
Ia memasok kebutuhan kantin pabrik cat dengan ratusan karyawan itu lima kali sepekan. Bertahun-tahun.
Rumahnya pun paling bagus di antara penduduk dusun yang kebanyakan masih separuh bata-separuh anyaman. Rumah pak Suhih full beton, dua lantai, berdiri kokoh di ujung dusun, menjadi batas antara dusun dan pabrik.
Rumah pak Sugih itulah. Rumah berpagar bambu, yang dihadirkan gadis berambut iklan shampoo pada ingatanku.
Aku sendiri pindah dari dusun Daun sejak lulus SD. Pindah semua, satu keluarga, seperti juga banyak keluarga yang tinggal di sana.
Alasannya sederhana, dusun kami sudah tak bisa lagi ditempati. Pabrik yang berkembang membuat orang sejenis pak Sugih semakin pandai mencium bau uang.
Orang dari luar dusun berdatangan mencari mata pencaharian, disambut penduduk dusun yang berlomba membuat deretan tempat tinggal untuk disewakan.
Beberapa hektar sawah diurug, ladang-ladang menjadi warung-warung dan petak-petak kontrakan.
Kesenyapan dan keamanan dusun pun menipis. Ternak dan hasil ladang sering hilang, bahkan ada pula pasangan percintaan yang ditikung warga pendatang.
Namun, bukan itu sebab utama yang membuat warga pindah.
Pembebasan lahan.
Pengusaha properti melihat potensi masa depan di lahan dusun kami. Pelan-pelan, satu demi satu warga lokal menjual tempat tinggal, kandang dan ladang, sampai sebagian tanah pemakaman. Ditukar menjadi rupiah.
Aku menyaksikan pagar-pagar beton terpasang di sawah-sawah dan tanah warga yang dilepas pemiliknya.
Rumah teman-temanku roboh satu persatu. Meski banyak yang masih satu sekolah, sebagaian mereka tinggal di desa sebelah.
Bapakku termasuk yang bertahan lama ... sampai rumah kami terkepung pagar beton, hingga sulit ke sana ke mari.
***
Peristiwa itu sudah lama, sudah lima tahun lebih aku jadi warga kota. Sampai kini aku masuk SMA. Teman-teman SD sekampung dulu sudah putus kontak sejak kami lulus sekolah dasar.
Namun, gadis rambut panjang itu memanggil kenangan tentang masa kecilku di kampung itu.
Saat keluargaku hengkang dari sana, bangunan mewah itu seakan mengucapkan selamat jalan pada kami, dengan tenang, dingin dan tampak kesepian. Entah apakah penghuninya juga meninggalkan rumah yang menjadi idaman warga dusun itu, atau tetap berkeras hingga harga tawar lahan di bawahnya melangit.
Aku jadi bertanya-tanya, apakah gadis 'berambut panjang itu' adalah teman bermainku pada masa kecil dulu?
Tapi wajahnya tak muncul saat aku mengabsen episode bermain di sawah, kali atau kala main hujan-hujanan.
Jadi, jika dia bukan teman bermainku, bagimana kami bertemu? Mengapa aku seperti familier dengan sosoknya?
Kapan pula dia melihatku memecahkan kaca rumah mewah? Mendekati bangunan bagus itu saja aku segan, apalagi cari gara-gara dengan merusaknya? Bisa-bisa habis aku digebuk emak.
Tapi wajah pucat gadis itu sudah terlanjur ada di kepalaku sejak lama, dan baru kusadari saat bertemu dengannya.
Siapa dia?
***