Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kau tahu kan, perasaan seperti pernah melihat atau bertemu orang asing di suatu tempat? Mencoba mengingat namun tetap tak ada kenangan yang didapat.
Tapi aku yakin pernah bertemu dengannya. Gadis berambut panjang itu. Entah di mana.
Hari ini terjadi lagi. Kami berpapasan di lorong sekolah yang sempit. Hanya bertukar tatap, bertukar sapa sekedarnya, agar tak canggung saja. Tapi setelah lewat beberapa langkah dirasa ... ada kalimat tanya yang senantiasa menggantung di pangkal lidah.
Seakan aku tersedak, dimuntahkan tak bisa, ditelan tak enak.
Ha ... kalau bisa, aku tak mau bertemu dengannya. Bikin hati tidak nyaman.
Tapi akhirnya. Suatu hari, aku bangun kesiangan, ditinggal abangku yang melajukan motornya untuk menuju kantor terlebih dahulu. Tidak ada tumpangan membuatku harus berlari tunggang langgang ke pemberhentian bus di ujung komplek.
Setibanya di sana, aku mengumpat dalam hati. Ada dia, si rambut iklan shampoo itu ada di halte bus, pandangan kami bertemu. Tak mungkin pura-pura tak melihat. Pengecut sekali kesannya diriku.
Maka, kuberanikan diri untuk menyapanya dengan benar kali ini.
"Eh ... lo," tanyaku menggantung, masih sedikit ragu. Batinku berbisik, jangan-jangan aku dikira mau menggoda dirinya yang tergolong cantik ini.
Tapi tanpa kuduga, dia melangkah mendekat dengan cepat. Lalu berdiri tepat selangkah dariku.
Kami berhadapan. Aku mati kutu. Tidak siap mental.
"Rumah kosong pagar bambu, di ujung kampung Daun. Kamu yang memecahkan kaca, kan?" tanyanya menyembur begitu saja.
"Eh? Ah, apa?" Aku gelagapan mendengar suaranya yang tiba-tiba.
Ini kalimat panjang pertama darinya sejak beberapa bulan bertegur sapa sekadarnya.
Matanya berkilat menatapku, menunggu.
Aku menggaruk tepi rahang, tersenyum canggung.
"Maaf, tapi gue gak inget. Cuma ..."
Dia menaikkan alis.
"Cuma rasanya gue pernah ketemu sama lo. Dulu ..." Aku mengigit bibirku ragu.
Dia mendengus, tersenyum samar. Mengusap belakang lehernya sekilas.
"Lupa rupanya. Padahal kukira kau mengingatku, karena menyapaku lebih dulu," ujarnya. Terdengar lebih lega, lalu menggeser sepatunya menjauh.
Hey. Kenapa dia merasa lebih lega karena aku lupa padanya? Apa jangan-jangan dia operasi plastik?
"Jadi, kita emang kenal? Eum... Pernah kenal?" tanyaku penasaran.
Ada ingatan tertutup kain usang meringkuk di pojokan otakku. Menggeliat pelan dan malas, tapi ingin dibangunkan.
Gadis itu kembali menatapku, dengan mata yang kali ini tanpa semangat.
"Entahlah. Toh kamu juga tidak ingat," sambutnya datar, berpaling menatap jalanan.
"Harusnya aku enggak usah nanya," lanjutnya berdesis pelan. Seolah bicara sendiri, tapi ingin agar tetap bisa kudengar.
Ia lalu melangkah pergi. Gantungan kunci kayu di ranselnya berkelotakan. Semakin samar seiring langkahnya menjauh, namun anehnya ada ingatan jauh yang terpanggil, datang kian mendekat padaku.
***