Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Millian Aruna Ashford tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan benar-benar tiba. Hari di mana bentangan jarak ribuan mil yang ia bangun antara Manchester dan Seattle mendadak menyusut menjadi nol.
Sebagai seorang Orthopedic Resident tahun terakhir yang waktunya habis tersita di koridor rumah sakit, Millie pikir ia sudah cukup terlatih menghadapi berbagai trauma fisik.
Namun, takdir ternyata punya cara yang lebih brutal untuk menguji ketenangannya.
Hari ini, Millie kembali dipaksa berhadapan dengan sepasang mata abu-abu milik seorang pria dari masa lalunya.
Sosok yang menyimpan fragmen cerita kelam Millie yang tidak pernah diketahui siapa pun, terutama oleh mantan kekasihnya sendiri, Miles Archer.
Selama ini, Millie hanya melihat iris abu-abu itu melalui layar televisi di ruang jaga dokter. Sosoknya berseliweran di ajang internasional F1 sebagai pembalap andalan dengan reputasi yang melambung tinggi.
Namun, kabar terakhir menyebutkan Jake Hayes mengalami kecelakaan hebat di sirkuit, sebuah insiden brutal yang mengakibatkan cedera serius pada lututnya dan memaksanya vakum dari jet darat yang sejak dulu pria itu puja.
Kini, pria itu bukan lagi pusat perhatian di paddock kemenangan, melainkan pasien yang masuk dalam daftar pengawasan klinis Millian Aruna Ashford M.D.
Dengan kata lain, mulai detik ini, pria itu kini resmi berada di bawah penanganan Millie untuk prosedur rehabilitasi pasca-operasi selama enam bulan ke depan.
Sialan.
Millie memeriksa rekam medis pada iPad-nya sekali lagi, berharap lembar profil dihadapannya hanya kesalahan administrasi.
Namun, saat langkah kaki Millie membawanya masuk ke ruang pemeriksaan sambil meninjau hasil pemindaian MRI, harapannya seketika hancur lebur.
Millie seakan tahu persis siapa yang sedang menantinya saat ini di ruang pemeriksaan.
Bukan sekadar pasien yang membutuhkan konsultasi soal cedera tulangnya, tapi pria yang dulu pernah tertidur di sisi Millie dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
"Millian?"
Suara berat dengan aksen British yang sialnya akrab di telinga Millie itu, mengisi setiap sudut ruang periksa yang kini menciptakan hening yang pekat.
Millie menoleh perlahan, dan harapannya pupus seketika.
Di atas ranjang pemeriksaan, duduk seorang pria dengan postur atletis yang melampaui rata-rata.
Rambut cokelat terang pria itu sedikit berantakan, dan mata abu-abu yang selalu sanggup membuat jantung Millie berdenyut nyeri itu kini menatapnya dengan binar yang tak terbaca.
Dan pria itu adalah Jake Hayes.
"It is really you," gumam Jake, seolah sedang menatap sebuah keajaiban di tengah Seattle ini.
Millie mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha memungut kembali kewarasannya. Sebagai dokter, ia seharusnya menunjukkan profesionalitas tinggi dengan tetap tenang.
Namun matanya yang melebar menatap Jake seakan meluruhkan benteng profesionalitas Millie.
"You still remember me, don't you?" Jake memajukan tubuhnya, menatap Millie lebih lekat, seolah mencoba memancing reaksi dari Millie yang masih mematung.
Dengan susah payah, Millie memaksakan sebuah senyum yang bodohnya malah jadi membuatnya terlihat canggung.
"Hai, Jake. It’s been a while, isn't it?" hanya itu yang mampu Millie ucapkan. Kalimatnya jadi terdengar payah, memicu kekehan pelan dari Jake. Kekehan itu terdengar antara berusaha mencairkan suasana atau menertawakan betapa canggungnya reuni tak terduga ini.
"Aku tidak tahu kalau kamu yang akan menjadi dokter ortopedi yang menangani terapi ku" ujar Jake, suaranya kini terdengar lebih ceria, kontras sekali dengan gemuruh hebat di dada Millie.
Millie hanya mampu mengangguk samar. Dalam hatinya ia belum juga berhenti merutuk.
Kalau saja aku tidak sedang dalam jadwal rotasi ini, lebih baik ku suruh dokter lain saja yang menangani mu!
Millie mencoba fokus pada rekam medis di sistem komputernya untuk menutupi perasaannya yang berkecamuk.
Jake Hayes yang sekarang jauh lebih berbahaya bagi pertahanan batinnya. Di dagunya tumbuh janggut tipis yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa. Potongan rambutnya kali ini lebih pendek, meninggalkan kesan bersih dan maskulin, tidak lagi dibiarkan ikal berantakan di dahi seperti dulu. Lengannya lebih berotot, memancarkan aura jantan yang bahkan mampu membuat beberapa perawat pendamping Millie gagal menahan rona merah di pipi mereka.
Namun, kerlingan jenaka sekaligus menggoda di mata Jake masih sama. Mata yang dulu memuja Millie meski Millie adalah milik Miles Archer, saudara tiri sekaligus musuh bebuyutan Jake.
Mata yang dulu pernah Millie sakiti, namun anehnya Jake tak pernah benar-benar pergi meski Millie sudah berteriak agar pria itu menjauh.
"Millie, kenapa bisa-bisanya kamu secantik dulu?"
Pertanyaan itu meluncur tepat saat Millie sedang menyusun strategi protokol terapi pada layar komputernya.
Millie terdiam, jemarinya membeku seketika di udara.
Ia tertawa kecil, berusaha menganggapnya sebagai gurauan pasien.
"Jake, ayolah. Aku bahkan belum memberikan resep analgesic dalam dosis tinggi untuk kamu konsumsi, tapi bicaramu ini sudah seperti orang yang sudah hilang kesadaran karena pengaruh obat."
Jake terkekeh lagi, namun kali ini ada nada getir dalam suaranya. Ia membalas sarkasme Millie dengan tatapan mendalam, "Sejak kapan sih aku bicara ngawur soal kecantikanmu? Millie, kamu itu masih jadi gadis satu-satunya yang bisa membuatku terpukau, persis seperti saat kamu berdiri di depan pintu rumahku untuk pertama kalinya dengan sepiring kue kacang jahe buatan ibumu."
Millie membisu. Ia tidak berani melirik Jake sedikit pun meskipun bibirnya masih berusaha menyunggingkan senyum.
Dengan kikuk Millie berdiri, mengambil sarung tangan medis untuk mengevaluasi kondisi patella atau tempurung lutut Jake yang mengalami cedera parah. Tindakan cepat untuk menutupi kecanggungan didalam ruangan.
Namun, saat Millie akhirnya berdiri tepat di hadapan Jake dengan jantung menderu gila-gilaan, tangan Jake justru terulur.
Telapak tangannya yang lebar terbuka, memperlihatkan sebuah gelang hitam lusuh dengan inisial J.H.
Napas Millie terhenti di udara.
Mata Millie akhirnya terangkat, bertemu dengan mata Jake yang kini menatapnya penuh kerinduan yang sendu.
"Aku masih menyimpan ini. Gelang pemberianmu," bisik Jake dengan suara rendah. "Gelang yang kamu buat sendiri dan kamu berikan sebagai pengingat bahwa sejauh apa pun aku pergi, aku akan selalu tahu ke mana jalan untuk pulang. Kamu memberikan ini tepat ketika kupikir aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk menguatkan ku. Kamu memberikan ini ketika ibuku baru saja pergi meninggalkanku."
Jake menjeda, menatap Millie seolah dunia di sekitar mereka sudah menghilang. "Dan kamu—yang walaupun dulu milik Miles Archer—adalah orang yang sama yang akan selalu memiliki hatiku, sekeras apa pun kamu sibuk menyangkal. Meskipun sejauh apa pun jarak dan waktu membentang di antara kita berdua."
Millie berharap dirinya menghilang saja dari bumi ini, daripada harus setengah mati menghadapi jantungnya yang berhenti berfungsi dengan normal sejak berhadapan dengan Jake Hayes.