Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Anak Durhaka
1
Suka
6,610
Dibaca

Anak ibu ada tiga termasuk aku.

Anak pertama. Laki-laki. Seorang pengusaha yang bisnisnya sudah terkenal di ibu kota, bahkan ke luar pulau. Tetapi tidak pernah aku tahu apa usahanya, juga tidak ingin tahu.

Anak kedua. Laki-laki. Seorang ahli hukum yang selalu berisik membagi harta warisan. Mungkin karena ia tahu usia ibu tidak akan lama lagi.

Sepuluh tahun sudah ibu jatuh sakit, tepat seminggu selepas bapak wafat. Sehari-harinya ibu hanya berbaring di kasur atau sesekali duduk di kursi roda. Saat itu aku masih kelas tiga SMA yang sedang semangat belajar agar masuk PTN impian. Namun, sebagai satu-satunya anak perempuan sekaligus anak bungsu, tentu akulah yang harus merawat ibu.

Aku merelakan mimpiku untuk berkuliah. Aku rela mengubur dalam-dalam mimpiku merantau ke Jakarta, menjadi artis ibu kota yang memerankan sepuluh judul film dalam setahun. Aku rela menahan malu ketika guru-guru berkata, "Mbak, kamu lulusan sini kok ngepel di sini?"

Semua hal yang ku relakan itu demi dapat mengawasi ibu yang stroke. Tapi pengorbananku selama ini sepertinya tidak terlihat di mata ibu yang mulai rapuh. Setiap kali kedua kakakku pulang ketika hari raya, mereka akan menghadiahi ibu barang-barang mewah. Kalung, cincin, dan anting emas. Jelas mahal harganya. Makanya ibu tidak bisa berhenti tersenyum dan membanggakan kedua putranya yang sukses.

Sementara aku dilupakan. Dibuang ke dapur untuk memasakkan kedua putranya makanan lezat. Bahkan ibu berkata padaku, "Kamu tuh harusnya kayak masmu. Punya kerjaan bagus, gaji besar, udah berumah tangga, punya istri cantik dan anak-anak lucu. Lah kamu? Cuma jadi tukang pel. Mana bisa kamu kasih emas gini buat ibu?"

Tubuhku kaku dibuatnya. Aku mencoba menepis bahwa kalimat itu tidak keluar dari mulut ibu. Tapi ketika melihat ibu memamerkan emas-emas yang menempel di badannya padaku membuat aku tersadar.

Ibu sedang memakiku. Di hadapan kedua kakakku yang tidak pernah menanyakan kabar ibu.

Meskipun tahu aku sedang direndahkan karena tidak bisa memberikan emas, aku hanya diam. Aku lanjut menyiapkan masakan lezat untuk kedua putra kesayangan ibu yang mencoba menghiburku. Padahal air mataku tidak turun setetes pun.

Aku hanya diam. Sejak itu aku diam. Tanpa berpamitan aku pergi meraih mimpiku merantau ke Jakarta, meninggalkan ibu yang stroke sendirian di rumah. Sampai ibu mengadu pada bapak bahwa putri mereka satu-satunya telah durhaka pun aku masih diam.

Aku tidak pulang membawakan emas.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Anonim di Argo Parahyangan
Cheri Nanas
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Muara Rindu
penamaliafara
Novel
Bronze
TUK-TUK
Herman Trisuhandi
Skrip Film
Kembali Ke Masa Muda
Eva yunita
Flash
Menikah
(Nur) Rohayati
Flash
Image dan Gengsi
Impy Island
Flash
Bahagia Bukan Hanya Soal Rasa (surat 2)
Lail Arahma
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Bronze
BUMI Ajari Aku Kematian
Nofi Yendri Sudiar
Novel
Dijatuhi Manusia Diangkat Sang Pencipta
Rizvalinda Syahnas
Skrip Film
DIANA SANG BIDUAN
M Fadly Hasibuan
Skrip Film
Sanubari (Script)
Imajiner
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Bronze
Mungkin Bagimu Tak Seberapa
Rere Valencia
Rekomendasi
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia