Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Anak Durhaka
1
Suka
8,015
Dibaca

Anak ibu ada tiga termasuk aku.

Anak pertama. Laki-laki. Seorang pengusaha yang bisnisnya sudah terkenal di ibu kota, bahkan ke luar pulau. Tetapi tidak pernah aku tahu apa usahanya, juga tidak ingin tahu.

Anak kedua. Laki-laki. Seorang ahli hukum yang selalu berisik membagi harta warisan. Mungkin karena ia tahu usia ibu tidak akan lama lagi.

Sepuluh tahun sudah ibu jatuh sakit, tepat seminggu selepas bapak wafat. Sehari-harinya ibu hanya berbaring di kasur atau sesekali duduk di kursi roda. Saat itu aku masih kelas tiga SMA yang sedang semangat belajar agar masuk PTN impian. Namun, sebagai satu-satunya anak perempuan sekaligus anak bungsu, tentu akulah yang harus merawat ibu.

Aku merelakan mimpiku untuk berkuliah. Aku rela mengubur dalam-dalam mimpiku merantau ke Jakarta, menjadi artis ibu kota yang memerankan sepuluh judul film dalam setahun. Aku rela menahan malu ketika guru-guru berkata, "Mbak, kamu lulusan sini kok ngepel di sini?"

Semua hal yang ku relakan itu demi dapat mengawasi ibu yang stroke. Tapi pengorbananku selama ini sepertinya tidak terlihat di mata ibu yang mulai rapuh. Setiap kali kedua kakakku pulang ketika hari raya, mereka akan menghadiahi ibu barang-barang mewah. Kalung, cincin, dan anting emas. Jelas mahal harganya. Makanya ibu tidak bisa berhenti tersenyum dan membanggakan kedua putranya yang sukses.

Sementara aku dilupakan. Dibuang ke dapur untuk memasakkan kedua putranya makanan lezat. Bahkan ibu berkata padaku, "Kamu tuh harusnya kayak masmu. Punya kerjaan bagus, gaji besar, udah berumah tangga, punya istri cantik dan anak-anak lucu. Lah kamu? Cuma jadi tukang pel. Mana bisa kamu kasih emas gini buat ibu?"

Tubuhku kaku dibuatnya. Aku mencoba menepis bahwa kalimat itu tidak keluar dari mulut ibu. Tapi ketika melihat ibu memamerkan emas-emas yang menempel di badannya padaku membuat aku tersadar.

Ibu sedang memakiku. Di hadapan kedua kakakku yang tidak pernah menanyakan kabar ibu.

Meskipun tahu aku sedang direndahkan karena tidak bisa memberikan emas, aku hanya diam. Aku lanjut menyiapkan masakan lezat untuk kedua putra kesayangan ibu yang mencoba menghiburku. Padahal air mataku tidak turun setetes pun.

Aku hanya diam. Sejak itu aku diam. Tanpa berpamitan aku pergi meraih mimpiku merantau ke Jakarta, meninggalkan ibu yang stroke sendirian di rumah. Sampai ibu mengadu pada bapak bahwa putri mereka satu-satunya telah durhaka pun aku masih diam.

Aku tidak pulang membawakan emas.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Bahagia di atas 80 Tahun
Shabrina Farha Nisa
Flash
MAMA. . . . AKU RINDU. . . .
Iman Siputra
Flash
Rombongan Teater "Dramatika"
Adinda Amalia
Novel
AKU KAMU BEDA YANG SAMA
Oktaviona Bunga Asmara
Novel
PANCA-GILA : Ucup left The Group
Alvin Raja
Novel
Bronze
SETUMPUK RINDU UNTUK ALLEA
Khaerun Nadiah
Novel
Gold
The Age of Innocence
Mizan Publishing
Novel
Bronze
BENANG TAKDIR
Ira A. Margireta
Novel
TITIK KEMBALI
Karla SB
Flash
TAWA
Rifatia
Flash
Bronze
Tiga Lampu Rambu Lalu Lintas
Silvarani
Skrip Film
Short Film Script Volume IV
Yorandy Milan Soraga
Skrip Film
Nge-Band! 107
Yorandy Milan Soraga
Novel
Bronze
Tetes Embun
Elawati
Rekomendasi
Flash
Anak Durhaka
Alifia Sastia
Flash
Surga di Telapak Kakiku
Alifia Sastia
Flash
Jam Malam
Alifia Sastia
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Flash
Jas Hujan
Alifia Sastia
Flash
Headset Kabel dan Lagu Jelek
Alifia Sastia
Skrip Film
Keluarga Tanpa Ibu (Script)
Alifia Sastia
Flash
Warisan Turun Temurun
Alifia Sastia
Flash
Bronze
Saklar
Alifia Sastia
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Hard for Me
Alifia Sastia
Flash
Puber
Alifia Sastia