Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Harusnya langit cerah berwarna biru di bumi. Tapi tidak di sini. Langit seputih awan meski tanpa kumpulan uap air.
Debu-debu masih beterbangan di antara gedung. Pencakar langit menyisakan tiang-tiang beton. Seolah menolak runtuh dari serangan peluru kendali.
Dari ketinggian terdengar suara raungan pesawat. Semakin nyaring tiap detiknya.
Manusia-manusia rapuh bertahan di reruntuhan. Beberapa saling menggenggam tangan, bersiap menghadap kematian. Beberapa tak berdaya, merintih berdarah-darah.
Saat titik-titik kecil berjatuhan dari langit, tubuh-tubuh lapar itu menegang. Napas tertahan. Beberapa tangis meledak.
Malaikat penolong ataukah maut yang datang?
Mereka mulai mendongak, melihat titik-titik itu perlahan mengembang. Melayang, jatuh perlahan membawa kotak-kotak coklat.
Mereka berlari. Menghampiri dan menyeret kotak yang didapat ke persembunyian.
Parasut-parasut itu datang sebagai penolong. Membawa makanan dan obat. Meski semua orang tahu jumlah itu tidak cukup, tapi mereka tetap berbagi.
Sedikit senyum terbentuk dari perut yang melilit. Sedikit harapan merayap dari mereka yang luka.
Sedikit kebahagian dan harapan sudah cukup. Bahkan terlalu berlebihan di neraka dunia ini.
Tak berselang lama, titik-titik bermunculan kembali dari langit. Tanpa suara.
Ketika roti-roti dibagikan, saat kain kasa direntangkan, peluru itu melesat cepat, mengeluarkan awan bahan bakar di udara. Bola api raksasa menghantam bumi.
Dentuman keras membuat telinga berdenging. Hentakan udara menerbangkan pasir dan material kecil.
Di pusat ledakan, beton-beton menyisakan besi-besi penyangga yang menghitam. Makanan dan peralatan P3K luruh. Darah terpercik di sisa-sisa peradaban.
Ketika debu serta pasir hilang dan jelaga mengendap, hanya jejak karbon yang mampu bersaksi. Tidak ada apa pun di sana.