Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Senja menggantung di langit kampung, menebarkan semburat tanur yang mendingin di teras rumah Misniati. Bayang-bayang pepohonan memanjang di halaman, menyatu dengan dinding yang mulai temaram. Orang-orang berjalan lebih cepat dari biasanya dengan wajah yang cerah.
Namun, perempuan sepuh berusia 62 tahun itu duduk tak berarah. Matanya yang masih awas meneliti setiap kendaraan yang melintas. Ada harap yang terus bergejolak: mungkin salah satu dari mobil itu parkir di depan rumahnya, menurunkan anak-anaknya yang lama tak pulang.
Tidak. Justru hanya riang dari kediaman tetangga yang menyapa telinganya.
Misniati tersenyum getir. Hatinya digelayuti rasa cemburu. Sahur pertama di bulan puasa ini mungkin masih harus dilaksanakannya sendirian. Tabah, meski rindu yang menganga tak henti mengundang air mata.
Hari demi hari Misnati menunggu. Waktu berjalan seakan lambat, tetapi cukup cepat dalam menorehkan sepi. Anak-anaknya selalu berkata sibuk, pekerjaan menumpuk, atau urusan tak bisa ditinggalkan. Kata-kata tersebut berulang, hingga perlahan terasa seperti alasan yang menutup pintu.
Misniati menyiapkan hidangan berbuka seorang diri. Ada sepanci kolak pisang, segelas teh manis, dan piring kosong yang tak pernah terisi. Magrib datang, azan berkumandang dari corong speaker musala di ujung jalan, Sayanganya, meja makan tetap sunyi.
Tidak ada riuh tentang makanan. Tidak ada tangan yang berebut. Misniati berbisik lirih sembari menahan air mata yang jatuh tanpa bisa dicegah, “Ya Allah, kuatkanlah hati ini.”
Konflik dalam hati Misniati semakin tajam. Kerinduan dan kepasrahan bergelut di dalam batin. Ia ingin marah, ingin menuntut perhatian, tetapi kasih seorang ibu selalu lebih besar daripada keluh kesah. Ia hanya bisa menunggu, mengasuh sabar yang kadang terasa seperti hukuman.