Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aroma Semur
0
Suka
1,645
Dibaca

Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.

Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.

Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”

Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang yang menggetarkan lambung. “Apa itu, Bu?”

“Semur daging,” jawab sang ibu dengan senyum ringan, seolah tak ada yang bisa merenggut malam.

Ia lekas berlari ke kamar, menutup mata dengan bayangan daging empuk yang akan ia kunyah saat sahur pertama. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali terdengar batuk ibunya menjeda nyanyian malam, lalu hening.

Gelap menutup perlahan, merapatkan selimut ke tubuh. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lapar yang ditahan, dengan keyakinan bahwa sebentar lagi semur itu akan mengalir ke dalam perut.

Akan tetapi, keheningan pecah. Pintu digedor. Suara tergesa dan panggilan lirih membangunkan. Ia mengucek mata dengan polos. Kebingungan menyergap, mendapati ramai yang tak biasa.

Ayah, saudara, tetangga, semuanya menangis. Wajah-wajah sembab mengerubungi sang ibu yang terbaring di ruang tengah.

Lantunan Yasin memenuhi rumah. Ayat demi ayat mengalun pilu, menutup celah-celah udara dengan doa yang panjang. Rumah yang semula berbau semur, berubah dipenuhi semerbak kafan dan tangis.

Ia berjalan ke dapur, mencoba mencerna segalanya. Panci semur masih di atas tungku. Aromanya menjalar sedap, tetapi kini menusuk dada.

Pukul 03:00, suara-suara dari corong di masjid berkumandang lebih kencang. Seruan demi seruan bertaut, membangunkan insan yang hendak beribadah.

Dapur kian berwarna kelabu. Semu menyemur ke atas piring. Ia coba mengangkat beberapa potongan daging. Kuah bercampur air mata. Tangan berat untuk sekadar menyuap.

Ia makan perlahan. Bukan untuk merasakan kenyang, melainkan untuk menepati janji sang ibu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Cerita-Cerita Ketika Hujan Datang
Artie Ahmad
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Ayah, Kau di Mana?
Adinda Amalia
Novel
TEGAR
Blogky
Flash
Terkoyak
Sugiadi Azhar
Flash
Bronze
KERETA TUJUAN
sisibulan
Novel
My Amazing Brother
Yaz
Flash
Bronze
Mungkin Bagimu Tak Seberapa
Rere Valencia
Novel
AMBIVALEN
SATUNI
Flash
My Own Night World
Rexa Strudel
Novel
INTROVERT
Andrikbas
Novel
Bronze
Romantic Love Story #2
Imajinasiku
Flash
Mimpi
Shofiyah Azzahra
Novel
Sesal
Alicia Nagata
Novel
Gold
Gadis Jeruk
Mizan Publishing
Rekomendasi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Di Radio Sekolah
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Cinta di Atas Materai
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi