Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aroma Semur
0
Suka
6,962
Dibaca

Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.

Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.

Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”

Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang yang menggetarkan lambung. “Apa itu, Bu?”

“Semur daging,” jawab sang ibu dengan senyum ringan, seolah tak ada yang bisa merenggut malam.

Ia lekas berlari ke kamar, menutup mata dengan bayangan daging empuk yang akan ia kunyah saat sahur pertama. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali terdengar batuk ibunya menjeda nyanyian malam, lalu hening.

Gelap menutup perlahan, merapatkan selimut ke tubuh. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lapar yang ditahan, dengan keyakinan bahwa sebentar lagi semur itu akan mengalir ke dalam perut.

Akan tetapi, keheningan pecah. Pintu digedor. Suara tergesa dan panggilan lirih membangunkan. Ia mengucek mata dengan polos. Kebingungan menyergap, mendapati ramai yang tak biasa.

Ayah, saudara, tetangga, semuanya menangis. Wajah-wajah sembab mengerubungi sang ibu yang terbaring di ruang tengah.

Lantunan Yasin memenuhi rumah. Ayat demi ayat mengalun pilu, menutup celah-celah udara dengan doa yang panjang. Rumah yang semula berbau semur, berubah dipenuhi semerbak kafan dan tangis.

Ia berjalan ke dapur, mencoba mencerna segalanya. Panci semur masih di atas tungku. Aromanya menjalar sedap, tetapi kini menusuk dada.

Pukul 03:00, suara-suara dari corong di masjid berkumandang lebih kencang. Seruan demi seruan bertaut, membangunkan insan yang hendak beribadah.

Dapur kian berwarna kelabu. Semu menyemur ke atas piring. Ia coba mengangkat beberapa potongan daging. Kuah bercampur air mata. Tangan berat untuk sekadar menyuap.

Ia makan perlahan. Bukan untuk merasakan kenyang, melainkan untuk menepati janji sang ibu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Pesona Ayah
Ana Yuliana
Skrip Film
WE LOVE U FRISKA!
ciciaulfa
Flash
Bronze
Reuni
Desy Cichika
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Novel
Smile Schedule
Jihannie
Novel
The Only Woman
Tjong Mi Mi
Novel
Bronze
Gelanggang Di Bulan Mei
Lady Mia Hasneni
Flash
Bronze
Inikah Rasanya...
Nuel Lubis
Cerpen
Jangan malu, Putri!
Raja Alam Semesta
Novel
Bronze
Tentang Kita
Yaa_Rhaa
Flash
BUJANGAN BAJINGAN
Call Me W
Flash
Bronze
Si Gadis Berkucir Satu
Andriyana
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg
Flash
Pacar Lima Ratus Langkah
Hans Wysiwyg
Cerpen
PERNIKAHAN KERTAS
hadi wiyono
Rekomendasi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Antara 45 dan 65 Derajat
Jasma Ryadi
Flash
Lift
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Doa Uni Salamah
Jasma Ryadi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Flash
Datang
Jasma Ryadi