Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aroma Semur
0
Suka
10,712
Dibaca

Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.

Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.

Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”

Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang yang menggetarkan lambung. “Apa itu, Bu?”

“Semur daging,” jawab sang ibu dengan senyum ringan, seolah tak ada yang bisa merenggut malam.

Ia lekas berlari ke kamar, menutup mata dengan bayangan daging empuk yang akan ia kunyah saat sahur pertama. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali terdengar batuk ibunya menjeda nyanyian malam, lalu hening.

Gelap menutup perlahan, merapatkan selimut ke tubuh. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lapar yang ditahan, dengan keyakinan bahwa sebentar lagi semur itu akan mengalir ke dalam perut.

Akan tetapi, keheningan pecah. Pintu digedor. Suara tergesa dan panggilan lirih membangunkan. Ia mengucek mata dengan polos. Kebingungan menyergap, mendapati ramai yang tak biasa.

Ayah, saudara, tetangga, semuanya menangis. Wajah-wajah sembab mengerubungi sang ibu yang terbaring di ruang tengah.

Lantunan Yasin memenuhi rumah. Ayat demi ayat mengalun pilu, menutup celah-celah udara dengan doa yang panjang. Rumah yang semula berbau semur, berubah dipenuhi semerbak kafan dan tangis.

Ia berjalan ke dapur, mencoba mencerna segalanya. Panci semur masih di atas tungku. Aromanya menjalar sedap, tetapi kini menusuk dada.

Pukul 03:00, suara-suara dari corong di masjid berkumandang lebih kencang. Seruan demi seruan bertaut, membangunkan insan yang hendak beribadah.

Dapur kian berwarna kelabu. Semu menyemur ke atas piring. Ia coba mengangkat beberapa potongan daging. Kuah bercampur air mata. Tangan berat untuk sekadar menyuap.

Ia makan perlahan. Bukan untuk merasakan kenyang, melainkan untuk menepati janji sang ibu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
(Script Film) The Sun, The Moon, and The Truth
Aisya Nurramadhani
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
KENANGAN
Iman Siputra
Novel
Growing Up: Let's walk on flowers path together
Lilly Amundsen
Flash
Berpisah atau Bersama tapi Menyakitkan
Ika nurpitasari
Skrip Film
DIVA
Lewi Satriani
Skrip Film
Rencana Penyelamatan Juni
NFAstaman
Flash
Stairway To Heaven
Ika nurpitasari
Novel
BusterBee
Tama Neio
Novel
TANPA TAPI
Rahma Pangestuti
Novel
Bronze
Bukan Lelaki Arimbi
Shinta Larasati Hardjono
Novel
Bronze
MUGIDIDE
Meila Siti Maulidiyah
Flash
Episode 365
Devita Sukma Nur Alifa
Flash
Jejak yang Tak Pernah Sampai
hyaeonasa
Skrip Film
PURA-PURA GILA
JUMAINAH
Rekomendasi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Siang
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Gerimis yang Percuma
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Pukul Tiga Pagi
Jasma Ryadi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Rindu
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Milo Mati
Jasma Ryadi
Flash
Senja yang Dilepas
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi