Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aroma Semur
0
Suka
9,221
Dibaca

Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.

Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.

Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”

Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang yang menggetarkan lambung. “Apa itu, Bu?”

“Semur daging,” jawab sang ibu dengan senyum ringan, seolah tak ada yang bisa merenggut malam.

Ia lekas berlari ke kamar, menutup mata dengan bayangan daging empuk yang akan ia kunyah saat sahur pertama. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali terdengar batuk ibunya menjeda nyanyian malam, lalu hening.

Gelap menutup perlahan, merapatkan selimut ke tubuh. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lapar yang ditahan, dengan keyakinan bahwa sebentar lagi semur itu akan mengalir ke dalam perut.

Akan tetapi, keheningan pecah. Pintu digedor. Suara tergesa dan panggilan lirih membangunkan. Ia mengucek mata dengan polos. Kebingungan menyergap, mendapati ramai yang tak biasa.

Ayah, saudara, tetangga, semuanya menangis. Wajah-wajah sembab mengerubungi sang ibu yang terbaring di ruang tengah.

Lantunan Yasin memenuhi rumah. Ayat demi ayat mengalun pilu, menutup celah-celah udara dengan doa yang panjang. Rumah yang semula berbau semur, berubah dipenuhi semerbak kafan dan tangis.

Ia berjalan ke dapur, mencoba mencerna segalanya. Panci semur masih di atas tungku. Aromanya menjalar sedap, tetapi kini menusuk dada.

Pukul 03:00, suara-suara dari corong di masjid berkumandang lebih kencang. Seruan demi seruan bertaut, membangunkan insan yang hendak beribadah.

Dapur kian berwarna kelabu. Semu menyemur ke atas piring. Ia coba mengangkat beberapa potongan daging. Kuah bercampur air mata. Tangan berat untuk sekadar menyuap.

Ia makan perlahan. Bukan untuk merasakan kenyang, melainkan untuk menepati janji sang ibu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Novel
Gold
Happiness is You
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
BETTER HALF
KUMARA
Skrip Film
RETAK RETAK SOLU
Sri kartini Handayani
Novel
[FAKE] IDOL
Diva Amane
Novel
Bronze
Pemindah Malam
Desynata Purnamasari
Novel
Rayla
Rivaldi Zakie Indrayana
Flash
LOSE
mafaz mira
Flash
Hipokrit
pelantunkata
Novel
Aku (tak) Punya Ayah
Putri Widya
Novel
Jalan Emas
Akana.T
Novel
Jodoh Pilihan Allah ~Novel~
Herman Sim
Novel
VIDE
Savira Aulia Putri Ardini
Novel
Bronze
Antagonis Touch
Redfile
Novel
Bronze
Hidden Memories
Rene
Rekomendasi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Flash
Kamar 304
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Dunia Tanpa Hukum
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Giant's Heart
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka Bilang Aku Durhaka
Jasma Ryadi
Flash
Jangan Menimpali!
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Doa Uni Salamah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi