Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aroma Semur
0
Suka
9
Dibaca

Panci di atas kompor masih hangat. Kuah kecokelatan berkilau di bawah lampu dapur, mengirimkan bau manis bawang dan kecap ke seluruh sudut rumah.

Bau itu menempel di dinding, di ingatan, dan di sela tatapan. Ia berdiri lama di ambang pintu, menatap panci itu seakan menatap masa depan yang penuh janji.

Sang ibu menepuk bahunya dengan lembut. “Itu buat sahur kita nanti. Makanya, cepat tidur.”

Ia menadahkan wajah, menyambut uap yang melayang yang menggetarkan lambung. “Apa itu, Bu?”

“Semur daging,” jawab sang ibu dengan senyum ringan, seolah tak ada yang bisa merenggut malam.

Ia lekas berlari ke kamar, menutup mata dengan bayangan daging empuk yang akan ia kunyah saat sahur pertama. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan. Sesekali terdengar batuk ibunya menjeda nyanyian malam, lalu hening.

Gelap menutup perlahan, merapatkan selimut ke tubuh. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa lapar yang ditahan, dengan keyakinan bahwa sebentar lagi semur itu akan mengalir ke dalam perut.

Akan tetapi, keheningan pecah. Pintu digedor. Suara tergesa dan panggilan lirih membangunkan. Ia mengucek mata dengan polos. Kebingungan menyergap, mendapati ramai yang tak biasa.

Ayah, saudara, tetangga, semuanya menangis. Wajah-wajah sembab mengerubungi sang ibu yang terbaring di ruang tengah.

Lantunan Yasin memenuhi rumah. Ayat demi ayat mengalun pilu, menutup celah-celah udara dengan doa yang panjang. Rumah yang semula berbau semur, berubah dipenuhi semerbak kafan dan tangis.

Ia berjalan ke dapur, mencoba mencerna segalanya. Panci semur masih di atas tungku. Aromanya menjalar sedap, tetapi kini menusuk dada.

Pukul 03:00, suara-suara dari corong di masjid berkumandang lebih kencang. Seruan demi seruan bertaut, membangunkan insan yang hendak beribadah.

Dapur kian berwarna kelabu. Semu menyemur ke atas piring. Ia coba mengangkat beberapa potongan daging. Kuah bercampur air mata. Tangan berat untuk sekadar menyuap.

Ia makan perlahan. Bukan untuk merasakan kenyang, melainkan untuk menepati janji sang ibu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Jerawat Cinta
Indah Putri
Novel
Januari
Melissa Octavia
Novel
Bronze
Olimpiade Cinta
E. Karto
Novel
Kau Seperti Ayahmu
Asep Saepuloh
Flash
Pergaulan Bebas
lidhamaul
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Cerpen
BISU
Muhamad Irfan
Novel
Bronze
StarLight
Vidharalia
Novel
Caramel Popcorn
Annisa Tang
Novel
Adora
Puteri M.
Skrip Film
SEVENTH
Kiko
Flash
Bronze
Epitaf
B12
Novel
Bronze
Cinta Buta Sulungku
Rosalia
Novel
Kapan Nikah?
mahes.varaa
Skrip Film
Ambang
Dessy Oktavia
Rekomendasi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Flash
Maaf, Aku Lelah
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Rasa yang Tak Bisa Kembali
Jasma Ryadi
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ketika Kata-Kata Kembali
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Flash
Gerimis yang Percuma
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Mereka yang Masih di Dalam
Jasma Ryadi