Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
0
Suka
5
Dibaca

“Rasanya gak ada hari yang lebih berat selain hari-hari setelah Ibu gak ada. Na sendirian, Bu. Lusa sudah masuk Ramadhan. Ini Ramadhan kedua tanpa Ibu. Masih sama seperti tahun kemarin—sepi.”

Syena menunduk, jemarinya meremas ujung rumput di samping pusara.

“Maaf ya, Bu. Na masih sering nangis kalau kangen Ibu. Bukan Na gak ikhlas Ibu pulang duluan. Na cuma… sesak. Kadang rasanya kayak dada Na penuh, tapi gak tau harus diluapin ke siapa.”

Angin sore berembus pelan. Tak ada jawaban, hanya suara daun yang bergesekan.

“Kalau sabar dan ikhlas bisa bikin kita ketemu lagi nanti di surganya Allah, Na akan belajar. Tiap hari. Na mau ketemu Ibu lagi. Tapi jujur, Bu… diuji kehilangan Ibu saja sudah berat. Ditambah ujian lain yang datang barengan. Na tau Allah gak akan kasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Na tau itu. Tapi Na capek, Bu. Kadang Na cuma pengin dipeluk dan dibilang semuanya bakal baik-baik aja.”

Tangisnya pecah, tak lagi ia tahan.

Sejak Ibu tak lagi membuka pintu rumah dengan senyum yang sama, segalanya berubah pelan-pelan. Meja makan terasa terlalu lengang. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk sahur. Tak ada lagi tangan yang menepuk kepalanya sambil berbisik, “Yang sabar ya, Nak.” Tak ada lagi yang diam-diam menyelipkan doa panjang setelah setiap sujudnya. Rumah tetap berdiri seperti biasa, tapi rasanya tak lagi sama. Hangatnya hilang.

Kalau dulu lelah bisa ia rebahkan di pangkuan Ibu, kini ia hanya bisa datang ke sini. Duduk lama di samping pusara, berbicara pada tanah yang memisahkan mereka. Bukan karena ia tak ikhlas. Bukan pula karena ia tak waras. Ia hanya sedang berusaha bertahan, dengan cara yang ia tahu.

Air matanya jatuh satu per satu ke atas tanah yang masih menyimpan namanya.

“Na akan coba untuk selalu kuat, Bu. Pelan-pelan.”

Dan untuk kesekian kalinya, setelah semua yang sesak itu terluah di sisi pusara, hatinya terasa sedikit lebih lapang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Damai Atas Luka
Nuriska Beby
Flash
Berawal dari menfess
Ninazyn
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Novel
Bronze
Benang Merah
leshdewika
Flash
Bronze
Kumohon Kembalikan
Nabil Bakri
Flash
Pencari Sayap
Veninda Oktaviana
Flash
Bronze
Lipstik Berasap
Silvarani
Flash
Bronze
PERAHU KERTAS
Christin Meirdhika
Cerpen
Penumpang Gelap
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
I NEED YOU: The Dark Side of Teenagers
Alviona Himayatunisa
Novel
GALAKSHIT!
memoraters
Novel
Bronze
Menghapus Bayangmu
Alexa Rd
Skrip Film
Fireworks
Ade Pramoedya Ananta
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Bronze
Sudut Pandang
Drezzlle Alexandar
Rekomendasi
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Sejak Kau Tak Ada
Rahmi Azzura
Flash
Pamit
Rahmi Azzura
Cerpen
Pelukan Yang Tertunda
Rahmi Azzura
Flash
Di Antara Altar dan Mimbar
Rahmi Azzura
Flash
Senja yang Sama
Rahmi Azzura
Flash
Ombak Luka yang Tak Surut
Rahmi Azzura
Flash
Titik Kesia-Siaan
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Tanpa Pelukan
Rahmi Azzura
Novel
Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama
Rahmi Azzura
Cerpen
Pertemuan Terakhir
Rahmi Azzura
Cerpen
After 1550 days
Rahmi Azzura