Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
1
Suka
6,766
Dibaca

“Rasanya gak ada hari yang lebih berat selain hari-hari setelah Ibu gak ada. Na sendirian, Bu. Lusa sudah masuk Ramadhan. Ini Ramadhan kedua tanpa Ibu. Masih sama seperti tahun kemarin—sepi.”

Syena menunduk, jemarinya meremas ujung rumput di samping pusara.

“Maaf ya, Bu. Na masih sering nangis kalau kangen Ibu. Bukan Na gak ikhlas Ibu pulang duluan. Na cuma… sesak. Kadang rasanya kayak dada Na penuh, tapi gak tau harus diluapin ke siapa.”

Angin sore berembus pelan. Tak ada jawaban, hanya suara daun yang bergesekan.

“Kalau sabar dan ikhlas bisa bikin kita ketemu lagi nanti di surganya Allah, Na akan belajar. Tiap hari. Na mau ketemu Ibu lagi. Tapi jujur, Bu… diuji kehilangan Ibu saja sudah berat. Ditambah ujian lain yang datang barengan. Na tau Allah gak akan kasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Na tau itu. Tapi Na capek, Bu. Kadang Na cuma pengin dipeluk dan dibilang semuanya bakal baik-baik aja.”

Tangisnya pecah, tak lagi ia tahan.

Sejak Ibu tak lagi membuka pintu rumah dengan senyum yang sama, segalanya berubah pelan-pelan. Meja makan terasa terlalu lengang. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk sahur. Tak ada lagi tangan yang menepuk kepalanya sambil berbisik, “Yang sabar ya, Nak.” Tak ada lagi yang diam-diam menyelipkan doa panjang setelah setiap sujudnya. Rumah tetap berdiri seperti biasa, tapi rasanya tak lagi sama. Hangatnya hilang.

Kalau dulu lelah bisa ia rebahkan di pangkuan Ibu, kini ia hanya bisa datang ke sini. Duduk lama di samping pusara, berbicara pada tanah yang memisahkan mereka. Bukan karena ia tak ikhlas. Bukan pula karena ia tak waras. Ia hanya sedang berusaha bertahan, dengan cara yang ia tahu.

Air matanya jatuh satu per satu ke atas tanah yang masih menyimpan namanya.

“Na akan coba untuk selalu kuat, Bu. Pelan-pelan.”

Dan untuk kesekian kalinya, setelah semua yang sesak itu terluah di sisi pusara, hatinya terasa sedikit lebih lapang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
If I Talk To God
Red Maira
Novel
Insecure
Rinzani Rosmawati
Flash
Mimpi Kita
Sena N. A.
Flash
Seperempat Abad
Rahma Pangestuti
Flash
Post Apocalypse di Wasteland
Hendra Purnama
Flash
Masih Pantaskah Kau Kupertahankan
Yutanis
Flash
Seperti Permen
Raden Maesaroh
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Novel
Gold
R [Raja, Ratu & Rahasia)
Coconut Books
Novel
Carla's Last Mission
Tanya Fransisca
Novel
OJI BOCAH BAHAGIA DAN TEMAN BERBULU COKLAT
Voni lilia
Novel
Dis - Ease (One Shoot - After Redline)
Sf_Anastasia
Novel
MEMO PLEDOI SAKTI MAHASISWA
Ayyub Ansori
Flash
Bronze
Caramel and Banana, Meal Only I Wanna
Silvarani
Flash
Hutang Bakti Adisty
T. Filla
Rekomendasi
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Novel
Bronze
Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama
Rahmi Azzura
Flash
Bronze
Pamit
Rahmi Azzura
Flash
Titik Kesia-Siaan
Rahmi Azzura
Flash
Sejak Kau Tak Ada
Rahmi Azzura
Cerpen
Pertemuan Terakhir
Rahmi Azzura
Flash
Senja yang Sama
Rahmi Azzura
Flash
Di Antara Altar dan Mimbar
Rahmi Azzura
Flash
Janji Di Semangkuk Bakso
Rahmi Azzura
Flash
Biarkan Doa Kita Bertemu Di Langit yang Sama
Rahmi Azzura
Flash
Ombak Luka yang Tak Surut
Rahmi Azzura
Cerpen
After 1550 days
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Tanpa Pelukan
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Tetaplah Melangkah
Rahmi Azzura