Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
0
Suka
3,762
Dibaca

“Rasanya gak ada hari yang lebih berat selain hari-hari setelah Ibu gak ada. Na sendirian, Bu. Lusa sudah masuk Ramadhan. Ini Ramadhan kedua tanpa Ibu. Masih sama seperti tahun kemarin—sepi.”

Syena menunduk, jemarinya meremas ujung rumput di samping pusara.

“Maaf ya, Bu. Na masih sering nangis kalau kangen Ibu. Bukan Na gak ikhlas Ibu pulang duluan. Na cuma… sesak. Kadang rasanya kayak dada Na penuh, tapi gak tau harus diluapin ke siapa.”

Angin sore berembus pelan. Tak ada jawaban, hanya suara daun yang bergesekan.

“Kalau sabar dan ikhlas bisa bikin kita ketemu lagi nanti di surganya Allah, Na akan belajar. Tiap hari. Na mau ketemu Ibu lagi. Tapi jujur, Bu… diuji kehilangan Ibu saja sudah berat. Ditambah ujian lain yang datang barengan. Na tau Allah gak akan kasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Na tau itu. Tapi Na capek, Bu. Kadang Na cuma pengin dipeluk dan dibilang semuanya bakal baik-baik aja.”

Tangisnya pecah, tak lagi ia tahan.

Sejak Ibu tak lagi membuka pintu rumah dengan senyum yang sama, segalanya berubah pelan-pelan. Meja makan terasa terlalu lengang. Tak ada lagi suara lembut yang membangunkannya untuk sahur. Tak ada lagi tangan yang menepuk kepalanya sambil berbisik, “Yang sabar ya, Nak.” Tak ada lagi yang diam-diam menyelipkan doa panjang setelah setiap sujudnya. Rumah tetap berdiri seperti biasa, tapi rasanya tak lagi sama. Hangatnya hilang.

Kalau dulu lelah bisa ia rebahkan di pangkuan Ibu, kini ia hanya bisa datang ke sini. Duduk lama di samping pusara, berbicara pada tanah yang memisahkan mereka. Bukan karena ia tak ikhlas. Bukan pula karena ia tak waras. Ia hanya sedang berusaha bertahan, dengan cara yang ia tahu.

Air matanya jatuh satu per satu ke atas tanah yang masih menyimpan namanya.

“Na akan coba untuk selalu kuat, Bu. Pelan-pelan.”

Dan untuk kesekian kalinya, setelah semua yang sesak itu terluah di sisi pusara, hatinya terasa sedikit lebih lapang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Cinta Tapi Beda
Imajinasiku
Flash
Aku Menulis Tentang Kau
Aneidda
Flash
Bullying
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Saat Kau merasa Orang Lain Bebas, Mereka Merasa Tidak
Fadel Ramadan
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Flash
Bronze
Perempuan yang Tidak Bisa Menjahit
Ahmad Muhaimin
Novel
Letters of a Liar
Yoga Arif Rahmansyah
Flash
Air Mata Bidadari
JWT Kingdom
Flash
Pulang
A. R. Pratiwi
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Pengertian Cinta
AlifatulM
Flash
AIR ITU DATANG TANPA MENGETUK
Dyah
Cerpen
Pengarsip Kenangan
Fredhi Lavelle
Novel
Bronze
Asa, Cinta, dan Realita
Nurmaisyah
Novel
Dreams List
Shabrina Hanum wajdy
Rekomendasi
Flash
Ramadhan Kedua Tanpa Ibu
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Ilusi
Rahmi Azzura
Flash
Di Antara Altar dan Mimbar
Rahmi Azzura
Flash
Sejak Kau Tak Ada
Rahmi Azzura
Cerpen
Pertemuan Terakhir
Rahmi Azzura
Flash
Janji Di Semangkuk Bakso
Rahmi Azzura
Novel
Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama
Rahmi Azzura
Flash
Senja yang Sama
Rahmi Azzura
Cerpen
After 1550 days
Rahmi Azzura
Flash
Titik Kesia-Siaan
Rahmi Azzura
Flash
Ombak Luka yang Tak Surut
Rahmi Azzura
Flash
Rumah Tanpa Pelukan
Rahmi Azzura
Cerpen
Pelukan Yang Tertunda
Rahmi Azzura
Flash
Pamit
Rahmi Azzura