Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku masih ingat sebuah kisah, kisah yang aku alami sendiri bersama Pak Lurah Indra, cerita bermula ketika ada seorang pemilik kos-kosan, Sulistio, yang mengaku mendapat mimpi, mimpinya berulang.
Tentang ia yang mendapat hal tak menyenangkan dari Aldo, suami Susi, wanita yang ngekos di kos-kosan nya bersama seorang bocah perempuan berumur sekitar lima tahun, Marsha. Dan mimpi tersebut terjadi hampir setiap hari serta benar-benar meninggalkan efek di bagian tubuh tertentu Sulistio.
Tak mau ada apa-apa dengan dirinya Sulistio pun mendatangi kos-kosannya dan menanyakan pada Susi. Saat itu ia bersama Yuli, istrinya, karena istrinya juga ada urusan lain di kos-kosan, saat ditanya Susi mengaku suaminya masih sehat wal afiat belum meninggal, jadi tidak mungkin mendatangi lewat mimpi. Saat Susi menanyakan ciri-ciri suaminya, Susi terkejut ketika Sulistio memberikan karakter yang sama persis dengan karakter suaminya yang kini bekerja di Malaysia.
Saat itu suasana kos geger, mungkinkah ada makhluk yang menyerupai Aldo kemudian mendatangi Sulistio lalu melakukan kekerasan fisik padanya? Orang pintar pun didatangkan, pun Pak Indra sebagai lurah yang diminta menjadi saksi, dan aku yang dijadikan saksi pendamping, tapi orang pintar itu bilang rumah aman-aman saja baik di kos-kosan maupun kediaman Sulistio.
Tapi anehnya malamnya Yuli mengalami mimpi serupa, mimpi itu terlihat tak wajar untuk mimpi biasa karena berlangsung dari malam sampai hampir subuh, Yuli pun menceritakan mimpi buruknya itu pada suaminya. Sulistio kemudian mengambil satu kesimpulan, itu santet.
Singkatnya aku diminta kembali jadi saksi pendamping, bersama Pak Lurah dan si orang pintar tentunya, saat itu Yuli memaki-maki Susi, mengatakan Susi menikahi seorang tukang santet, Susi tentu tak terima ia menyatakan siap meninggalkan kos tapi tanpa uang bayaran, Susi logis karena uang bulanan sudah ia bayar pagi harinya, Sulistio dan Yuli pun setuju, siapa tahu pengaruh santet menghilang setelah tak ada komunikasi sama sekali, sebuah hal yang dipercayai warga kota selama bertahun-tahun.
Saat sedang beres-beres barang Marsha seolah bicara sendiri di pojokan dengan nada marah, yang intinya Barbosa, teman imajinasinya benar-benar nakal karena menyamar sebagai ayahnya dan menyebabkan ia dan ibunya diusir dari kos-kosan, mulanya kami yang memperhatikan tidak percaya dan menganggap itu reaksi seorang bocah cilik, tapi apa yang terjadi setelah itu membuat kami merinding, Marsha meninju udara kosong kemudian terdengar suara wanita tua dengan suara serak yang mengaduh, suaranya keras menggema ke seluruh ruangan, membuat kami semua saling menatap satu sama lain.
Setelah itu diadakan pembicaraan ulang dimana kini Marsha dilibatkan, Marsha mengaku memiliki teman imajinasi, dan setelah lama mengobrol akhirnya kami sampai pada titik obrolan dimana Marsha kehilangan benda kesayangannya, di memorinya ia masih ingat, Marsha kehilangan boneka kecil yang juga menjadi kesayangan Barbosa, saat mengingat-ingat Sulistio pun berkata bahwa ia membuang sebuah boneka berukuran kecil yang sudah kumal, ia tidak tahu bahwa itu milik Marsha, Sulistio kemudian meminta maaf dan berjanji membelikan boneka dengan ciri yang serupa detik itu juga.
Sulistio pun pergi ke toko mainan bersama Marsha disaksikan kami semua, boneka seharga 28 ribu terbeli, cirinya benar-benar sama, dan sejak saat itu baik Sulistio maupun Yuli tidak pernah mengalami mimpi buruk yang sama lagi, dan Susi serta Marsha pun tidak jadi pergi dari kos dan cenderung akrab dengan Sulistio juga Yuli setelah peristiwa aneh itu terjadi.
Apakah kalian merasa aneh? Sungguh, akupun tak percaya padahal mengalaminya sendiri.