Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kisah ini bukan pembenaran akan disersi, akan tetapi kritik betapa abu-abunya manusia pada masa perang.
Cerita dimulai saat prajurit veteran Richard Robert Bronson atau yang akrab dipanggil Robert dimandatkan oleh pimpinannya untuk menyerbu wilayah selatan dalam masa perang Leningrad, saat itu perang sudah berjalan hampir satu tahun, semua sudah lelah, perang belum juga usai. Dan disitulah semua bermulai, Robert tanpa sengaja membaca surat cinta milik bawahannya, Johnny, letnan dua tersebut pun mengambil keputusan ekstrim, melindungi Johnny memanfaatkan tugas yang diemban. Salah satu prajurit yang dibawa oleh Robert tentu adalah Johnny dengan alasan yang sudah kita tahu.
Saat perjalanan serbuan sering terjadi, tetapi Robert berpikir, demi kekasihnya Johnny lah satu satunya yang perlu dilindungi, jadinya ia abai pada prajurit yang lain, konsekuensinya jelas, prajurit-prajurit yang juga punya orang-orang tersayang tersebut gugur. Robert tidaklah egois, mental nya sedang lumpuh parah akibat peperangan panjang, dan kini ia harus memimpin tim, tapi kacaunya nurani moralnya digoyah oleh selembar surat asmara.
Selain itu ada alasan lain, Robert merasa kekasih Johnny mirip istrinya dalam bersikap, itu terlihat dalam isi surat, istri Robert telah tewas, dan ia tak ingin orang yang sifatnya sama seperti mendiang istrinya kehilangan orang yang ia cintai. Pikiran itu begitu menguasai batin Robert yang telah lumpuh sehingga memprioritaskan Johnny diatas prajurit yang lain.
Lalu dimana disersinya? Singkatnya penyerbuan gagal, prajurit yang ikut Robert banyak yang tewas dan ironisnya Johnny, meski sudah mati-matian dilindungi olehnya. Robert kembali dengan mental dan fisik yang hampir lebur, saat menghadap atasan dengan masih tak logis ia menyatakan akan mengundurkan diri dari pertempuran, mentalnya sudah tak bisa membedakan sebab akibat, puncaknya dirinya yang tentu ditolak pengundurannya dan kembali ditugaskan memimpin garis depan kabur di tengah-tengah perang yang sedang berkecamuk hebat.
Saat itu jiwa dan raga Robert adalah manusia yang perlu penanganan mental serius, ia lari ke arah utara tanpa tujuan, dalam pelariannya itu secara tak langsung ia membuat beberapa anak buahnya meregang nyawa. Ya, ia tak bermaksud, pikirannya yang kini seolah tanpa akal sehat hanya tahu satu hal, perang adalah neraka, dan dia harus pergi dari realitas neraka tersebut. Akibatnya banyak misi gagal, Robert menjadi buronan.
Robert tidak pernah diadili secara militer, tak pernah dipenjara, tak dieksekusi mati, tapi dia hidup dengan jiwa yang kosong, mental yang benar-benar telah habis, bertahan hidup seperti hewan liar di tengah hutan yang hampir setiap hari memiliki cuaca ekstrim. ia sendiri wafat 3 tahun kemudian, saat serangan jantung menyerangnya, akibat tak menjaga kesehatan, disebabkan tak bisa menjaga tubuh, akibat pikirannya yang terganggu, dan nalarnya yang sudah lenyap.