Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Farewell
0
Suka
45
Dibaca

[KISAH INI BERDASARKAN SEBUAH KISAH NYATA, YANG SAYA SEDIKIT GUBAH DENGAN BAHASA SAYA SENDIRI]

Hari itu kami sekeluarga saling berdempetan di sebuah shuttle bus. Yang membawa kami pulang ke sebuah kota kecil nan jauh disana.

Hiruk pikuk suasana pun serasa membara, walau keadaan di luar dipenuhi dengan rintikan air hujan yang menetes deras dari langit. Tak bergeming satu patah katapun dari balik mulut orang-orang yang ada disana.

Termasuk diriku. Yang sedari tadi menghabiskan waktu memandangi layar ponsel ku. Walau begitu, pemandangan yang cukup dingin dan membeku layaknya sebuah es batu di dalam freezer kulkas. Tak serta merta bisa kuabaikan begitu saja.

Semua ini datang dari sebuah kabar pilu yang datang menyambar keluarga besar kami. Sambaran yang begitu mengejutkan kami, seolah disambar oleh petir yang menghanguskan raga manusia sekejap mata.

Paman kami, pamanku sedang sakit kritis. Jantungnya bermasalah. Padahal dari keterangan dokter sudah diberikan operasi ring jantung demi membantu kinerja jantungnya agar semoganya berfungsi seperti normal sediakala.

Namun, sepertinya hal tersebut tidak cukup baginya. Ini merupakan permintaan dari beliau sendiri. Menginginkan mungkin untuk bisa melihat keluarga besarnya untuk kali terakhirnya.

Memori kami akan beliau memang tidak sepenuhnya baik. Suka dan duka pernah kami semua lewati bersama tatkala masih sehat bugar raga dan jiwanya. Sesekali mungkin ada cekcok diantara kita. Entah perkara sepele maupu yang sampai rumit.

"Panji, tulung isah-isah ke piring e ya"

"Nji, duwe duit 100 ewu ra? Nyilih dilit ndang suk tak balekne"

"Panji, nyilih motormu delok ya"

Begitulah beberapa kata yang sempat terdengar di telinga Panji, saat masih serumah dengan pamannya sewaktu muda. Pamannya kala itu sedang mengalami kesulitan finansial, yang sampai-sampai harus membuatnya tinggal serumah dengan keluarga Panji.

Terlebih, ditinggalkan pula oleh istrinya, membuat kami semua sebagai keluarga besar merasa perlu menolong beliau sebagai tempat bernaung terakhir.

Walau terasa cukup memberatkan, keberadaan Paman Panji juga dulunya terhitung cukup sukses. Salah satu penopang keluarga besar kami, bak emas keluarga. Hanya saja, takdir semakin kesini tidak berpihak kepada beliau.

Dan nampaknya dari yang mulanya dihantam dengan permasalahan finansial, kini permasalahan kesehatan pun juga menghujam kehidupan Paman yang sudah penuh lika-liku.

Kami pun tiba di Rumah Sakit, dan lantas saja aku menanyakan kamar tempat Paman ranap."Permisi sus, Kamar Mentari No 45E, ada dimana ya?"

Perawat itu lalu mengantarkan kami ke kamar dimana Paman berada. Ketika kami sudah berada di depan kamar tersebut, kami semua membeku. Tidak sanggup untuk melihat keadaan Paman yang mungkin saja sedang terbaring penuh sakit diatas ranjang RS.

Kami semua menelan ludah. Aku sebagai salah satu yang termuda, diminta untuk membuka pintu Kamar Mentari No 45E tersebut. Kugenggam gagang pintu itu, lalu kudorong masuk pintu itu.

Pemandangan yang tidak kami duga, justru menyambut kami. Paman, dalam keadaan segar bugar sedang meminum tehnya. Gurat senyumnya penuh ceria, seakan dia kembali ke masa mudanya.

Kami semua turut bersuka cita waktu itu. Apa yang ada di dalam pikiran kami, ketakutan yang kami sudah bayangkan jauh-jauh dari keberangkatan kami. Sirna seketika.

Satu keluarga saling bertukar cerita, melepas lega dan tawa. Hari itu, mungkin menjadi salah satu hari dimana hari paling bahagia kami semua bersama Paman. Apapun yang terjadi, Paman tetaplah bagian dari kami, dan kami semua bersyukur akannya.

Beberapa jam berlalu dan kami pamit untuk beranjak kembali ke terminal, menuju rumah masing-masing. Salam hangat dari Paman ikut menyertai keberangkatan pulang kami.

Malam yang dingin menusuk hingga tulang, tidak menghilangkan kehangatan yang telah diberikan oleh kabar Paman.

Hingga, ketika kami sudah tiba di terminal. Salah satu ponsel milik orangtuaku berbunyi. Ia lalu mengangkatnya, dan dari mimik mukanya. Nampak orang tuaku begitu terperanjat.

Pecah tangis tak kuasa terbendung, menggelegar di penjuru terminal. Sontak semua mata memandang kami semua. Aku penuh kebingungan, pun bertanya.

"Paman udah gaada, Panji!"

Kami semua kaget. Kami semua terpaku dan membeku di tempat. Dan dalam waktu sekejap, kami semua membuang tiket kepulangan kami, dan sontak mencari angkutan untuk kembali ke RS.

Tak kusangka apabila hari paling bahagia Paan bersama keluarga, akan menjadi hari terakhirnya pula. Kami semua yang semula bersuka ria, lantas menjadi murung dan penuh pilu.

Hingga beberapa bulan setelah kepergian Paman beserta pemakamannya. Kubaru menyadari peristiwa demikian memiliki istilah, yakni terminal lucidity.

Yang kutafsikan, sebagai bentuk pelepasan terakhir Paman kepada keluarga yang selama ini telah menampung dirinya, terlepas apapun yang terjadi. Keajaiban terakhir yang bisa ia berikan kepada kami semua, berupa kebugaran, senyum dan tawa cita yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam saja.

Terima kasih, Paman.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Dear Keyla
Prisda Tri Syamiati
Komik
Cinta Bukan Pemeran Utama
Kyriepoda
Skrip Film
Pengganti Ayah
Nurbaiti Fitriyani
Skrip Film
PULANG - Script
Lucky
Skrip Film
IKHLAS
Sutha Flashova
Skrip Film
Skrip pertama dari hati untuk mimpi
UBI Master
Flash
Ruang dan Waktu Membuat Kita Terhenti
Lita Soerjadinata
Flash
Bronze
Ibu, Maaf
Fataya
Flash
Farewell
Anjas Saputra
Novel
Kamu
MS Wijaya
Novel
Bronze
Stigma
Ratihcntiia
Novel
Apoge
Kinalsa
Komik
COUNT:ER
Ka2ttekoi
Skrip Film
Bahagia Untuk April
Yennie Soekanta
Skrip Film
Bukti&Bakti
Tryztania aurora de viola
Rekomendasi
Flash
Farewell
Anjas Saputra
Flash
Memory
Anjas Saputra
Cerpen
Pengampunan
Anjas Saputra
Novel
JOKER : The Other Side (Fanfic Joker 2019)
Anjas Saputra
Novel
Asa
Anjas Saputra