Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku mengenalnya dari sebuah platform menulis. Tempat yang aneh sih sebenarnya untuk jatuh cinta. Karena kebanyakan orang datang cuma membawa kata-kata, bukannya wajah, atau membawa ide, bukannya genggaman tangan.
Aku pertama kali "bertemu" saat membaca komentarnya di bawah cerpenku.
"Kamu menulisnya jujur, kritis, seolah kamu paaham semuanya mendalam."
Namanya hanya empat huruf.
Haze.
Aku tidak tahu apakah itu nama asli atau hanya nama yang ia pinjam dari kabut pagi.
Lalu aku membalas komentarnya.
"Kalau begitu, mungkin kamu orang pertama yang benar-benar membaca ceritaku."
Beberapa menit kemudian, ia menjawab.
"Atau mungkin aku cuma orang yang kesepian."
Tapi sejak malam itu, kami jadi mulai sering mengobrol. Hari-hari setelahnya jadi terasa berbeda, meski kami tidak pernah bertemu. Tidak pernah mendengar suara satu sama lain, hanya kata-kata yang berjalan bolak-balik di layar. Tapi kata-katanya terasa hidup.
Ia ceria, tapi tidak dangkal, kritis, tapi tidak menyakitkan, dan terkadang dia justru mengoreksi tulisan-tulisanku.
"Cerita yang ini terlalu dramatis."
"Kenapa?"
"Karena menurutku kamu sebenarnya sedang merasa sendiri, bukan sedih."
Aku tertawa membaca itu.
"Kamu seperti psikolog."
"Bukan. Aku cuma pembaca yang cerewet."
***
Suatu malam, aku bertanya.
"Kamu tinggal di mana?"
"Jauh."
"Seberapa jauh?"
"Cukup jauh sampai kamu tidak bisa datang hanya dengan naik motor."
"Kalau naik pesawat?"
Ia tidak menjawab selama beberapa menit. Lalu muncul pesan.
"Kamu terlalu serius."
Aku mengetik lagi.
"Aku cuma penasaran."
"Aku baru selesai kuliah," tulisnya kemudian.
"Dan kamu?"
"Aku sudah bekerja."
"Berarti kamu jauh lebih tua dariku."
Aku menatap layar lama.
"Apakah itu masalah?"
Beberapa detik berlalu.
"Tidak," jawabnya.
"Selama kamu tidak berubah jadi orang aneh."
"Orang aneh seperti apa?"
"Orang yang tiba-tiba merasa memiliki aku."
Aku tertawa lepas.
Tapi entah kenapa kalimat itu tersimpan di kepalaku berhari-hari lamanya.
Hari-hari dipenuhi percakapan, tentang banyak hal, dari yang tidak penting, sampai soal buku, mimpi, dan bagaimana ia suatu hari ingin menulis novel tentang lukanya, dirinya sendiri dan keluarganya.
"Aku ingin menulis cerita yang membuat orang jatuh cinta," katanya.
"Kenapa?"
"Karena dunia terlalu sering membuat orang berhenti percaya."
Aku mengetik balasannya.
"Kalau begitu kamu bakal berhasil."
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah langsung mulai percaya."
Ia lama tidak membalas, lalu akhirnya hanya menulis,
"Jangan."
***
Beberapa minggu kemudian, aku baru menyadari sesuatu, saat aku menunggu pesannya setiap malam. Karena jika ia tidak muncul, sekarang rasanya seperti ada ruang kosong di dalam hati.
Suatu malam aku menulis lagi untuknya.
"Aku rasa aku mulai menyukaimu."
Tidak ada jawaban. Lima menit, sepuluh, hingga setengah jam kemudian. Aku hampir menutup laptop ketika pesan itu muncul.
"Kamu bahkan tidak tahu seperti apa aku."
"Aku tahu cukup banyak."
"Tidak," jawabnya.
"Kamu hanya tahu kata-kataku."
"Bukankah itu yang paling penting?"
Ia membalas cepat kali ini.
"Kata-kata bisa menipu."
***
Beberapa hari setelah itu, ia menjadi berbeda. Masih ramah, bercanda, tapi ada jarak yang tidak terlihat. Seperti kabut tipis di antara dua orang yang berjalan berdampingan.
Suatu malam aku menulis,
"Kamu berubah."
Ia menjawab. "Tidak."
"Aku merasakannya."
Lama sekali ia tidak menjawab, lalu akhirnya sebuah pesan muncul.
"Kamu orang yang baik."
Aku langsung merasa kalimat itu buruk.
"Kenapa rasanya seperti kalimat perpisahan?"
"Karena mungkin memang begitu."
Dadaku terasa aneh.
"Aku melakukan sesuatu yang salah?"
"Tidak."
"Lalu?"
Beberapa detik.
"Aku hanya tidak ingin menjadi sesuatu yang kamu bayangkan."
Aku mengetik cepat.
"Kamu bukan bayangan."
"Bagimu mungkin iya."
"Haze..."
"Kamu tidak mengenalku," tulisnya.
Aku menatap kalimat itu lama.
"Kalau begitu biarkan aku mengenalmu."
Jawabannya datang tak lama.
"Tidak semua orang ingin dikenal sedalam itu."
Malam itu rasanya jadi sangat sunyi. Aku menulis lagi.
"Apakah kita masih bisa bicara seperti biasa?"
"Mungkin tidak."
Aku menutup mata sebentar.
"Kenapa?"
Lama sekali ia tidak membalas. Ketika akhirnya pesan itu muncul, rasanya seperti ada sesuatu yang patah di dalam dada.
"Karena kamu mulai menyukaiku."
"Dan itu salah?"
"Tidak," tulisnya.
"Tapi aku tidak bisa membalasnya."
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
"Apakah ada orang lain?"
"Tidak."
"Lalu kenapa?"
Pesannya muncul pelan.
"Karena ada orang yang hanya ditakdirkan bertemu sebentar."
Aku mencoba bercanda.
"Kamu terdengar seperti penulis novel tragis."
Ia menjawab dengan emoji tertawa, tapi setelah itu ia menulis lagi.
"Kamu harus terus menulis."
"Kalau tidak?"
"Aku akan marah."
Aku mengetik.
"Kalau aku menulis cerita tentangmu?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena aku akan merasa bersalah."
Pesan terakhirnya datang larut malam.
"Terima kasih sudah membuat beberapa malamku terasa hangat."
Aku membaca kalimat itu lama.
"Apakah ini benar-benar selamat tinggal?"
Ia tidak langsung menjawab, ketika akhirnya sebuah pesan muncul, hanya satu kalimat.
"Kadang kabut memang harus pergi sebelum matahari muncul."
***
Sejak malam itu, pesannya jarang muncul. Lalu suatu hari semua benar-benar hilang, seperti kabut yang tidak meninggalkan jejak. Tapi anehnya, setiap kali aku membuka halaman akunnya, aku masih merasakan sesuatu. Seperti ada seseorang yang pernah duduk di sana, di depan layar. Membaca kalimat-kalimatku, mengoreksinya dan membuatku percaya lagi, dan setiap kali aku menulis kata kabut, aku selalu teringat satu nama.
Haze.
Seseorang yang mungkin tidak pernah benar-benar kumiliki. Tapi pernah membuatku merasakan sesuatu yang sangat nyata, aku jatuh cinta.